Skip to content

BECAUSE YOU CARE (2); SINCERITY

April 20, 2012

Saya kadang atau bahkan sering berbuat acuh dan abai. Atas nama kesibukan, saya sering kurang peduli dengan sekitar. Atas nama kesibukan, saya lebih sering memikirkan diri sendiri. Atas nama kesibukan pula saya lebih merasa ingin diperhatikan dari pada memperhatikan. Lebih ingin didengar dari pada mendengar. Lebih ingin dimengerti dari pada mau mengerti orang lain. Padahal jika mau dan niat, kepedulian pada orang lain bisa lewat tindakan kecil dan sederhana.

***

Awal Januari lalu, dalam perjalanan Semarang – Yogyakarta, saya menelpon teman. Teman saat masih kuliah dulu. Saya bertanya bagaimana keadaan ibunya. Sebelumnya saya dengar kalau ibunya sempat lama di rumah sakit. “Sudah baikan.” katanya. Secara khusus ia minta agar saya berkunjung ke rumah ibunya. “Siapa tahu kalau kamu datang ibuku bisa tambah baikan”. Saya jawab, “Insya allah.”

Sesuai janji, pagi jam 9, saya niatkan berkunjung ke rumah ibu teman saya. Singgah sebentar ke mini market membeli makanan ala kadarnya buat si ibu teman saya. Tak enak hati bertangan kosong mengunjungi orang tua. Sampai di rumahnya, ketika pagar dibuka, si ibu langsung kaget. Saya disambut hanga. Dipeluk seolah seperti anaknya sendiri. Lalu kami pun mengobrol lepas.

Ia bercerita mengenai sakitnya dan perasaannya sekarang yang seolah seperti diberi kesempatan kedua oleh Tuhan. Berkali-kali ia berucap syukur. Saya bisa merasakan kebahagiaan yang ia rasa dan pada saat yang sama merasa betapa saya seharusnya lebih banyak bersyukur pada karunia Tuhan. Bersyukur karena kalau Tuhan mau, Tuhan bisa berkehendak apapun termasuk pada hal yang saya tidak suka. Segala yang manusia punya bisa lenyap seketika jika Tuhan mau. Hmmm…tak ada alasan kuat manusia jadi sombong khan? Saya pun bisa merasakan betapa senangnya si ibu dikunjungi. Berkali-kali ia menahan saya agar tidak cepat pulang. Saya pun senang karena ternyata apa yang saya lakukan bisa memberi kebahagian buat orang lain walau hanya lewat tindakan sederhana.

Beberapa hari sebelum ke Yogya, saya janjian dengan teman untuk ketemuan. Teman semasa aktif di organisasi dulu. Saat saya bilang akan mampir kalau nanti main ke Yogya, sang teman menyambut antusias. “Iya iya, ketemuan yuk. Janji ya nanti kalau ke Yogya mampir.”  Antusiasme yang saya anggap sebagai apresiasi. Sebuah penghargaan terhadap saya. Sore hari sebelum pulang ke Semarang, saya singgah ke rumahnya. Ditemani dua anaknya, kami bertukar kabar dan bernostalgia. Cerita masa lalu selalu menarik bahkan lucu diperbincangkan. Menyenangkan.

Selang seminggu kemudian, saya menemani bapak ke Surabaya menemui mantan atasannya saat masih bekerja dulu. Saat bertemu di rumahnya, terasa benar kebahagiaan dari keduanya. Dan obrolan pun mengalir, bercerita banyak hal yang terlewat dalam 15 tahun berselang. Termasuk tentu saja, cerita-cerita dulu yang terasa menyenangkan diulas kembali. Nostalgia memang selalu menyenangkan. Waktu berjalan tidak terasa. Malam harinya, kami diajak berkeliling Surabaya dan mencicipi makanan khas Surabaya. Esoknya  sebelum kembali pulang ke Semarang, satu kardus yang berisi buah tangan diberikan. Sebuah pertemuan yang menyenangkan. Pertemuan atas dasar saling menghargai.

Selalu menyenangkan bernostalgia. Selalu menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang kita hormati dan kita cintai. Lalu mengapa tidak berbuat lebih dengan memulai berbuat untuk menyenangkan dan membahagiakan orang lain? Tidak perlu berpikir rumit karena ternyata bisa dilakukan dengan tindakan sederhana. Tindakan sederhana dengan ketulusan. Sincerity is the currency of relationship.*

 

Saigon Park Resort, Vietnam, 19 April 2012

*Rene Suhardono 

3 Komentar leave one →
  1. April 20, 2012 11:35 pm

    Sincerity is the currency of relationship. Sip mas, setuju!

  2. Mei 11, 2012 4:37 am

    Ah terasa sekali sincerity itu..org yg memang sering silahturahim,biasanya terlihat pda saat mereka dikenakan musibah,sakit,pda saat sndiri dan lain sbgnya..selagi msih sehat dan kuat jasmani dan rohani,segeralah silahturahim dgn rekan” yg mungkin sudh lma tdk bersua..thank pak so meaningfull..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: