Skip to content

BECAUSE YOU CARE

Februari 9, 2012

Suatu hari, seorang teman menelepon saya. Teman lama, sudah lama tidak bertemu. Tentu senang mendapat telepon dari teman lama. Dia bilang ingin ke rumah saya pada hari Sabtu. Saya bilang, hari Sabtu saya ada acara kantor seharian dari pagi sampai sore. Sang teman bilang, “Nggak apa-apa kok. kalau begitu nanti saya datang pas sore hari saja.” Saya senang sang teman mau menunggu. Padahal saya tahu, dia datang dari kota lain. Sabtu sore menjelang maghrib, sang teman datang. Awal pertemuan yang saya pikir bertujuan untuk silaturahmi dan kangen-kangenan itu ditutup dengan penawaran produk asuransi. Saya sudah ge-er saja, dikirain ingin ketemu saya untuk kangen-kangenan doang. Tapi bagaimanapun saya menghargai kedatangan sang teman yang telah datang jauh-jauh ke rumah saya.

Di media sosial, seorang teman menyapa saya setelah add-nya saya confirm. Ini juga teman lama sekali tidak bertemu dan saya tidak pernah tahu kabarnya. Saya balas sapaannya. Lalu berlanjut dengan menanyakan kabar. Saya balas, kabar saya baik dan sehat. Si teman lama bertanya lagi, sekarang tinggal di mana, keluarga bagaimana. Saya jawab sambil bertanya juga tentang keluarga si teman. Si teman bertanya lagi tentang pekerjaan, bekerja di mana, sudah berapa lama bekerja, bergerak di bidang apa, jabatannya apa, dan hal lain seputar pekerjaan. Benar-benar perhatian nih teman saya. Maka saya jawab sebaik mungkin. Sampai akhirnya si teman menulis, “Kamu sudah punya asuransi belum? Saya mau jual asuransi, nih.” Pertanyaan ini tak sempat saya jawab sampai sekarang.

Pada kesempatan lain, dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, saya mendapat telepon. Nomornya tidak saya kenal. Ternyata telepon dari teman lama banget. Bersyukur saya, ternyata sang teman itu masih ingat saya. Apalagi dia menelepon dari tempat nun jauh di sana. Tentu saya merasa terhormat karena masih diingat dan sang teman rela bersusah-susah menghubungi saya. Setelah bertegur sapa dan bertanya kabar, si teman mengutarakan maksudnya. Ia ingin pergi ke suatu tempat dan menelepon saya karena berharap saya bisa bantu. “Kamu bisa bantu apa nih, minta tolong ditransfer ya. Thanks sebelumnya”

Mungkin kita pernah melakukan hal seperti di atas. Saya sebut kita karena bisa jadi termasuk saya sendiri. Salahkah hal di atas dilakukan? Pastilah jawabannya sangat relatif. Karena jawaban saya belum tentu mewakili jawaban anda, lebih baik kita jawab sendiri. Nurani kita pasti lebih jujur dalam memberikan jawaban.

Terlepas apa yang saya rasakan, saya tetaplah menghargai teman-teman saya di atas yang sudah bersusah-susah mau menghubungi saya, berinteraksi, atau berkunjung ke rumah saya. Pelajaran yang saya petik, alangkah indahnya jika kita tetap ingat kepada orang-orang terdekat, yang pernah dekat, atau orang-orang yang kita cintai. Tidak hanya pada saat kita butuh tapi juga saat kita memang hanya ingin bertukar kabar. Perhatian, komunikasi, atau kunjungan yang tulus pasti terasa lebih bermakna.

Relationship  dan network tidak dibangun dengan instant atas dasar kepentingan diri sendiri dan sesaat. Diperlukan juga ketulusan dan keikhlasan. Dan nasehat buat diri saya sendiri; say hello, communicate, or meet your friends not because you want something but because you care.

 

Mangkang, 7 Februari 2012

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: