Skip to content

HUTANG TAHUN INI

Desember 16, 2011

taken from omniallinfinitude.com

Kalaulah ada produk bank yang susah sekali saya dapatkan (pada awalnya), jawabnya adalah kartu kredit. Kok? Membingungkan jika dilihat dengan kondisi sekarang. Tapi jika dilihat kondisi dulu, membingungkan juga sih . Pertama kali saya apply kartu kredit tahun 2002. Hasilnya, aplikasi kartu kredit saya ditolak. Penolakan itu artinya saya tidak dianggap cukup layak mempunyai kartu kredit.

Coba aplikasi ke bank lain dan lagi-lagi ditolak. Alasannya sama. Karena saya tidak punya telepon rumah dan tidak punya telepon pasca bayar. Dua syarat ini cukup bagi bank menyematkan vonis bahwa saya tidak layak memegang kartu kredit. Setiap kali sales bank menelepon, setiap kali pula saya beritahu kalau saya nggak punya telpon rumah dan pasca bayar. Jawab mereka, “Oohh?” Gantian saya yang jawab, “Oohh, nggak bisa bantu, toh?”  Pernah disarankan sales agar pakai nomor telpon rumah teman saya yang juga dikenal oleh sales itu. Tapi akhirnya tetap ditolak! Dan langsung saya komentari, “Oohh, ternyata sarannya nggak manjur, toh?” Sampai akhirnya saya tidak ingin apply lagi karena capek mengisi data aplikasi dan syarat lainnya selain saya juga nggak butuh-butuh banget.

Satu waktu, seorang sales gigih banget mengejar-ngejar saya untuk apply. Karena dia gigih, akhirnya saya iyakan tanpa berharap banyak. Sampai akhirnya aplikasi tersebut disetujui. Surprise?!? Dan jadilah saya punya kartu kredit pertama kali tahun 2009! 7 tahun setelah aplikasi pertama . Kalau diingat-ingat lucu juga. Saya menulis artikel ini saja sampai senyum-senyum sendiri. Dan tak lama setelah kartu kredit pertama disetujui, saya temukan amplop tebal dari bank di meja kerja saya.

Saat dibuka, ternyata isinya kartu kredit. Kartu kredit gold dengan jaminan gratis biaya tahunan seumur hidup. Padahal saya tidak pernah apply. Ternyata saya sudah dianggap layak punya kartu kredit walau saya tetap tidak punya telepon rumah dan pasca bayar serta tidak pernah apply🙂.

Saya paling nggak berpengalaman berhutang. Selain karena nggak suka. Nggak suka mungkin karena tak terbiasa. SHU (sisa hasil usaha) dari Koperasi kantor yang saya terima biasanya lebih sedikit dibanding teman-teman lain. Salah satu alasannya karena saya tidak pernah ngutang di koperasi. Di koperasi kantor, saya hanya pernah pinjam uang sekali. Itupun bukan karena saya yang ingin tapi seorang teman meminjam uang ke koperasi atas nama saya. Di lingkungan RT, bendahara simpan-pinjam juga kaget waktu ada pinjaman atas nama saya dan langsung divonis pinjaman itu pasti untuk orang lain. Benar sih, yang pinjam uang itu tetangga tapi pakai nama saya karena ia sudah minjam uang atas namanya sendiri dan masih kurang.

Membeli barang juga saya juga lebih nyaman tidak dengan hutang. Dulu pakai kartu debet atau cash. Sekarang saya lebih sering pakai kartu kredit. Bukan untuk berhutang tapi hanya sekedar menunda pembayaran. Jadi kartu kredit digesek sekarang, tapi bulan depan langsung saya lunasi. Sempat juga membayar cicilan rumah ke bank tapi akhirnya cuma bertahan 2 tahun. Rumah akhirnya saya lunasi walau saya harus menjual mobil. Jika menerima gaji, maka alokasi pertama saya adalah untuk pembayaran hutang, baru setelah itu untuk yang lainnya. Mungkin karena salah satu definisi bahagia versi saya adalah tidak punya hutang. Bagi saya hutang adalah darurat. Opsi paling terakhir. Dan jikapun harus berhutang, cepat-cepatlah dilunasi.

Ngomong-ngomong soal hutang, apa anda masih punya hutang tahun ini? Soal hutang tidak selalu terkait dengan uang, khan? Janji juga hutang. Entah itu janji dengan diri sendiri atau janji dengan orang lain. Keinginan, target, cita-cita yang belum terpenuhi bisa jadi juga hutang. Jika tenggatnya tahun, ini masih ada waktu untuk dikejar, dicapai, dituntaskan. Jika belum bisa tercapai, perlu perencanaan yang lebih baik lagi agar bisa segera dilunasi tahun depan.

Waktu terus berjalan. Tak pernah berhenti. Tak pernah kembali. Tak hirau pula menunggu kita. Tak hirau apakah kita lengah, lalai, dan lupa. Sementara hidup ini ada batasnya. Berbuat sesuatu selagi masih ada kesempatan. Jangan menunda apa yang bisa dicapai sekarang. Tuntaskan selagi mampu. There is no guarantee we will be part of tomorrow.

Hidup cuma sekali.

Mangkang, 15 Desember 2011

6 Komentar leave one →
  1. Fransiska Ratna permalink
    Desember 31, 2011 12:24 pm

    Happy New Year…………………..
    Tambah sukses selalu ya pak.

  2. Chairunnisa R permalink
    Januari 3, 2012 1:36 pm

    “There is no guarantee we will be part of tomorrow. Hidup cuma sekali. ”

    bener bgt kata2nya pak..

    nice post..🙂

  3. silvi permalink
    Januari 8, 2012 3:15 pm

    Saya baru aja apply kartu kredit.. Ini apply pertama kalinya.. Pengen aja punya kartu kredit.. Tp baca ini kayaknya kemungkinan di aprrove kecil bgt.. Soalnya ga punya telp rmh sih.. Org2 rumah pake hp sendiri2 klo nelpon.. hehehehe.. Mgkn 7 thn lagi baruu bisa ya😀

    • Januari 11, 2012 7:04 am

      hehe…kayaknya kalau sekarang, apply-nya jauh lebih gampang deh. Jadi Silvi tidak harus menunggu 7 tahun🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: