Skip to content

“YOU’RE FIRED!”

Desember 12, 2011

taken from principalspage.com

Buat anda yang dipercaya memimpin section, departemen, dan punya anak buah, paling enak itu kalau disuruh memberitahu perihal kenaikan gaji. Kenapa? Karena ini berita gembira yang bikin everybody happy. Atau memberitahu bahwa si A dipromosikan memegang jabatan tertentu. Ini juga hal menyenangkan untuk dilakukan. Mudah dan tidak ada tekanan mental.

Yang paling tidak diharapkan? Semoga jawaban ini bisa mewakili; diomeli, dimarahi, diberikan written warning. Bagi atasan, memberi tahu si A tidak naik gaji karena performance yang buruk juga bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Yang paling nggak enak kalau disuruh mecat karyawan entah itu dengan atau tidak hormat.

Kesimpulannya, dipromosikan itu menyenangkan. Naik gaji menyenangkan. Menyampaikan berita promosi atau naik gaji juga menyenangkan. Memberhentikan karyawan adalah hal yang tidak menyenangkan.

Sayangnya, saya justru harus memecat orang tak lama setelah dipromosikan memimpin departemen. Dulu, tiga bulan setelah jadi manager, ternyata ada perampingan karyawan. Kondisi bisnis kadang bisa bergelombang naik turun seperti roller coaster. Penambahan dan pengurangan karyawan adalah bagian dari penyesuaian terhadap kondisi bisnis yang kadang tidak bisa diduga. Dan saya harus menghadapi situasi dimana karyawan harus dikurangi.

Lima bulan setelah dipromosikan, saya diminta juga memimpin departemen yang lain. Di-merger lah istilah ringkasnya. Sebulan setelah memimpin dua departemen, saya diminta harus mengurangi karyawan di departemen yang baru di-merger tersebut. Saat itu sempat saya berpikir, kok saya ini harus mecat orang terus sih?

Kalau ada hal yang paling dihindari mungkin jawabannya adalah memberhentikan karyawan. Entah itu dipecat karena performance yang parah, pelanggaran, atau indisipliner. Paling berat lagi jika harus memberhentikan karyawan karena tidak terkait performance. Misal, karena kondisi bisnis atau internal, perusahaan harus melakukan efisiensi dan perampingan tenaga kerja. Karyawan yang dikeluarkan itu mungkin secara performance tidak buruk tapi karena karyawan lain lebih baik performance-nya terpaksa dia yang terpilih untuk dirampingkan. Bisa juga terkait dengan fungsi. Bisa jadi si A bagus dalam bidang A sementara si B bisa mengerjakan bidang A dan B. Karena B lebih fleksibel, multi tasking, maka bisa jadi si A yang akhirnya dirampingkan.

Bagi saya yang saat itu baru sekitar dua tahun bekerja lalu dipromosikan kemudian harus memberhentikan karyawan, sungguh menjadi momok dan tekanan psikologi yang luar biasa. Apalagi orang yang saya keluarkan itu pengalaman kerjanya empat sampai lima kali lipat lebih lama dari saya saat itu. Umur mereka juga jauh di atas saya. Nah, saya yang masih junior dari sisi umur dan pengalaman kerja malah harus mecat orang yang kumis tebalnya aja bisa buat saya keder. Beban mental luar biasa. Melibatkan emosi dan perasaan juga. Ada karyawan yang dulu harus saya berhentikan padahal ia baru saja menikah. Ada yang memohon karena ia satu-satunya tumpuan keluarga. Tidak mudah memang karena kalau ngikutin perasaan pasti kasihan dan nggak tega.

Karena saya mencoba terus negosiasi dan menunda, atasan saya saat itu sampai bilang, “If it is too difficult for you, I’ll do it!” Tawaran yang membuat saya jadi sadar. Ini departemen saya. Masalah saya Yang diberhentikan karyawan di departemen saya. Jika ini departemen saya, karyawan saya, masalah saya, sewajarnya yang menyelesaikan juga saya bukan orang lain. Harus berani hadapi sendiri.

Dan saya belajar beberapa hal dalam kasus pecat memecat ini. Pertama, menunda tidak menuntaskan. Kedua, seberat apapun, masalah akan hilang kalau diselesaikan, bukan dihindari. My problem is my responsibility. So, face it! Hadapi dan selesaikan sendiri. Ketiga, profesionalitas itu tidak bisa selalu melibatkan perasaan.

Di acara The Apprentice, Donald Trump dengan mudahnya bilang, “You’re fired!”  Mungkin karena itu hanyalah reality show. Mungkin karena ia sudah pengalaman mecat karyawan. Mungkin karena ia lebih tega. Mungkin karena professional reason di mana kepentingan organisasi dan bisnis lebih diutamakan dibanding perasaan personal.

Mangkang, 12 Desember 2011

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: