Skip to content

BUTUH, INGIN, KAYA

November 28, 2011

Thomasville Tuscany Light Bed

“Kita itu nggak kaya ya, Pa?” Ucapan itu terlontar dari si kecil saat makan malam. Kaget juga saya, kok tiba-tiba ngomong begitu.

Penasaran, saya tanya, “Alasannya apa, kok bisa ngomong gitu?”

“Soalnya kita nggak punya PS trus tv-nya kecil”, jawabnya polos.

Si kecil memang benar adanya. Saya tak punya banyak barang elektronik dan gadget mutakhir yang katanya bisa menunjukkan kelas dan status sosial seseorang. Entah karena saya yang tak terlalu maniak dengan perangkat elektronik dan gadget terbaru atau entah karena saya sudah cukup puas dengan apa yang ada. Televisi saya sekarang ukuran 22 inch. Dua tahun lalu saya masih punya televisi layar cembung 14 inch. Seorang teman sebegitu surprise-nya sampai bilang, ”Hah, hari gini masih punya tv layar cembung! 14 inch lagi!” Saya sih cuma senyum-senyum doang. Televisi yang saya beli tahun 2000 itu terpaksa pensiun karena rusak.

Mini Compo set yang saya punya sekarang karena yang lama sudah sering ngambek. Sebelumnya saya punya player CD merk tak terkenal. Cuma bisa memutar CD doang. Kalau DVD nggak bisa. Player ini adalah kado dari teman-teman kantor 9 tahun lalu. Sekarang player ini juga terpaksa pensiun karena dudukan disc-nya sudah patah dan kalau diputar cuma bertahan 45 menit dan setelah itu ngadat!

Telpon genggam saya sekarang S yang masih 2G. Sebelumnya, N 3330 yang saya pakai sejak 2002 selama 7 tahun sampai akhirnya rusak. Jadi sampai sekarang saya baru ganti telpon genggam dua kali. Karyawan di divisi saya, para operator atau supervisor, malah banyak yang punya telpon genggam lebih canggih dan lebih mahal dari saya bahkan lebih sering bergonta-ganti telpon genggam dibanding saya.

Maka atas pertanyaan si kecil, tentang betapa kunonya harta yang saya miliki, itu hanya soal kebutuhan dan keinginan. Saya jelaskan lebih baik kita membeli apa yang kita butuhkan daripada sekedar apa yang kita inginkan. Itu sebabnya si kecil tidak punya PS karena walau itu yang ia inginkan tapi bukan itu yang ia butuhkan, menurut saya. Dianggap nggak kaya nggak masalah. Tentu saya ingin menjadi kaya. Tapi saya lebih merasa butuh menjadi bahagia. Bahagia itu jika saya punya pengetahuan, punya buku, dan tidak punya hutang. Bahagia itu jika saya memiliki kebebasan dan bisa berkarya. Bahagia itu jika saya merdeka memilih memiliki apa yang saya butuhkan bukan semata-mata apa yang saya inginkan.

Keinginan dan kebutuhan bisa jadi sejalan tapi sering kali tidak beriringan. Keinginan sering didominasi oleh nafsu, menekan akal sehat, menerpurukkan logika sementara kebutuhan adalah sesuatu yang benar-benar diperlukan. Jika terkait dengan nafsu, tak pandang lagi pangkat, jabatan, tingkat pendidikan, dan status sosial. Orang-orang yang mengantri berjubel-jubel, berdesak-desakan, sampai akhirnya ricuh demi sebuah smart phone yang di-discount 50%, apakah lebih didasari pada kebutuhan atau keinginan? Keinginan yang tak terkendali itu membutakan. Membutakan sehingga orang harus mengantri berjam-jam bahkan sejak satu hari sebelumnya sampai harus menginap? Membutakan sampai-sampai “lupa” bagaimana antri tertib karena takut tidak kebagian? Apakah semua itu sebanding dengan discount yang ditawarkan? Don’t be emotional, be rational!

Si kecil mengantuk. Mungkin mengantuk mendengar apa yang saya jelaskan. Tak jelas seberapa mengerti ia terhadap apa yang saya jelaskan. Saya antar si kecil ke kamar tidur dan ia langsung terlelap. Saya lihat wajahnya. Damai dan pulas. Seperti jutaan perasaan para orang tua yang merasa kaya karena keberadaan dan kebanggaan pada anak-anak mereka. Perasaan sama yang menghinggapi saya. Dan saat itu saya menjadi kaya. I am rich because I have you and my family. Saya tatap si kecil yang tertidur pulas di tempat tidur. Dan mata saya tertuju pada tempat tidur. Tempat tidur yang saya beli dengan tenang, tidak berdesak-desakan, tanpa kericuhan, dan karena kebutuhan. My little son, you are sleeping on Thomasville Tuscany Light King Bed. If I look at its price, hmm…now, I feel I become a rich man….. 🙂

 

Mangkang, 26 November, 2011

4 Komentar leave one →
  1. November 28, 2011 7:12 pm

    “Tentu saya ingin menjadi kaya. Tapi saya lebih merasa butuh menjadi bahagia”
    Kena banget!

    Hmm…benar mas, sekarang semakin banyak orang yg dibutakan akan materi, entah itu memang suatu kebutuhan atau hanya sekedar keinginan.
    Ayah saya bilang, kekayaan jiwa jauh melebihi segalanya. Maka saya belajar untuk selalu merasa senang, sabar, cukup, dan menjadi positif.

    • November 29, 2011 7:13 am

      Halo Fadhil,
      “kekayaan jiwa jauh melebihi segalanya”….setuju.
      Artikel Syafi’i Ma’arif di Kompas 26 Nov kemarin menegaskan hal tersebut dengan gamblang

  2. Agus ariyanto nugroho permalink
    Januari 31, 2012 9:49 pm

    Sungguh terkesan saya akan prinsip bapak fadhly….utamakan butuh daripada keinginan. Ternyata selama ini ak salah…ak mau contoh prinsip yang mulia itu. It’s more important to happy than rich but nohappy. Thx again. I always learn the best experience from the bestman

    • Februari 2, 2012 4:33 pm

      Dulu saya selalu meremehkan jika ada orang bilang, uang bukanlah segalanya. Kok kesannya klise banget.

      Sekarang sepenuhnya saya percaya, uang itu dibutuhkan, penting, tapi uang memang bukan segalanya. Bukan karena saya sudah punya banyak uang.
      Kebahagiaan itu di hati yang tak selalu didapat, diperoleh, dibeli dengan uang. Ada orang yang tetap bahagia dan bersyukur walau makan dengan nasi seadanya sementara banyak orang yang tetap tak merasa nyaman dan enak walau makan di restoran mewah.

      Happiness is in your heart and your mind not in your account

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: