Skip to content

NYAMAN ATAS KETIDAKNYAMANAN

Oktober 28, 2011

taken from insearchofafairytaleending.com

Suatu malam, minggu lalu, saya sedang berada di trotoar Simpang Lima, Semarang. Dengan menggendong ransel, saya menuju mal peralatan dan furniture. Bukan mau membeli tapi ke toilet yang bersih. Lebih memilih tempat yang jauh sedikit demi toilet bersih. Berjalan kaki diiringi rintik hujan. Angin semilir sejuk. Cukup sejuk bagi Semarang yang panas. Menyejukkan badan dan menyejukkan hati juga. Setidaknya bagi saya malam itu. Kawasan Simpang Lima sudah banyak berubah terutama area sepanjang Jalan Pahlawan. Lebih ramah bagi pejalan kaki dan lebih tertata. Asyik juga  jalan malam-malam di Simpang Lima. Sudah lama saya nggak melakukan hal seperti ini. Berjalan kaki di pusat kota sendirian. Hati saya senang. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 8 malam.

Satu jam sebelumnya, saya baru saja dari toko optik di Plaza Simpang Lima. Mencari-cari kacamata baru. Kacamata sebelumnya sudah uzur umurnya. Saya pakai hanya seperlunya saja. Di depan komputer, nonton TV, dan membaca. Selebihnya saya lepas karena saya sudah nggak pede lagi memakainya. Bentuknya sudah nggak karuan J

Satu setengah jam sebelum dari toko optik, selepas maghrib, saya baru saja berkumpul dengan para rekan-rekan kantor. Sekedar kumpul-kumpul sambil makan malam bersama. Sudah lama tidak mengadakan acara-kumpul-kumpul begini. Bisa bicara lepas, informal, melupakan kepenatan kantor. Mengasyikan juga. Rutinitas kerja kadang membawa suasana tegang dan kaku. Apalagi jika pressure sedang tinggi-tingginya. Acara seperti ini membuat pikiran lepas, lebih rileks, dan hati gembira.

Empat puluh lima menit sebelum sampai di tempat kumpul-kumpul, saya keluar dari kantor. Tak diduga, awan gelap sekali. Bukan karena menjelang malam tapi awan mendung pekat. Sudah terlanjur berjanji maka  kuatkan niat untuk datang. Dalam perjalanan awan makin hitam dan sempat turun hujan. Cuma sebentar tapi cukup mendinginkan Semarang.

Jam 8 lewat, saya baru keluar dari mal peralatan dan furniture. Berdiri di pelataran Jalan Pahlawan. Menunggu angkot. Angkot yang ditunggu datang. Dalam angkot, dua orang ibu sedang bercerita seru tentang pengamen yang membunuh pedagang angkringan Simpang Lima beberapa hari sebelumnya. Padahal hanya karena persoalan sepele, katanya. Saya mendengarkan sambil merenung. Bagaimana persoalan sepele bisa membuat manusia membunuh manusia lainnya? Orang yang membunuh itu pasti akal sehatnya sedang tak sehat saat itu. Pastilah pikirannya sedang kacau. Pikiran kacau memberi respon kacau sehingga tindakannya juga kacau. Membunuh adalah fakta nyata pikiran kacau yang mendorong bertindak kacau. Dan seperti biasa, penyesalan akan datang kemudian. Selalu terlambat.

Saya turun dari angkot dan berganti jurusan. Cuma saya sendiri di dalam angkot. Bakalan ngetem lama nih kalau penumpangnya sepi. Benar saja, dugaan saya jadi kenyataan. “Tunggu bentar ya Mas, nunggu penumpang dulu”, kata si sopir. Setelah masuk dua penumpang lain, angkot bergerak. Di tengah jalan, angkot berhenti. Saya dan penumpang lain diminta turun. Dioper ke angkot lain. Udah ngetem lama, malah dioper lagi!

Apakah saya dongkol? Nggak tuh! Ini yang mengherankan. Saat dari kantor, seperti hari yang sudah-sudah, ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah. Apalagi saat itu awan mendung dan hujan. Tapi berkumpul, makan malam, ke toko optik, jalan kaki, naik angkot, ngetem lama, dioper ke angkot lain tetap membuat saya nyaman-nyaman saja.  Entah kenapa ya, kok saya enjoy banget malam itu. Menikmati semua kejadian dengan senang. Pikiran saya tenang, hati saya juga gembira.

Apakah karena saya melakukan sesuatu yang berbeda dari rutinitas yang biasa dilakukan? Do something different, you will get something different. Pengalaman berbeda, suasana berbeda, perasaan berbeda, semangat berbeda. Rutinitas menyebabkan kebosanan. Melakukan sesuatu yang beda bisa mengusirnya. Katanya sih begitu. Atau saya merasa nyaman atas ketidaknyamanan yang saya alami karena saya menyamankan pikiran saya? Pikiran yang nyaman membuat hati jadi nyaman pula. Bukankah orang yang jatuh cinta itu melihat segala sesuatunya jadi indah? Bukankah itu disebabkan oleh pikiran yang tenang sehingga everything is beautiful dan hati pun jadi happy?

Respon dan tindakan kita sangat dipengaruhi oleh cara pandang dan pikiran kita. Tambahan tugas baru bisa jadi dipandang sebagai tambahan pekerjaan. Tapi bukankah itu juga bisa dipandang sebagai kesempatan untuk meng-upgrade kemampuan diri? Donat bisa dilihat lubangnya, tapi jika melihat donatnya, bukankah itu sesuatu yang enak untuk dimakan?

Pikiran mengendalikan diri kita. Be always positive then you will do, react, and response positively.

 

Mangkang, 27 Oktober 2011

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: