Skip to content

BECAUSE I LOVE IT

Oktober 14, 2011

picture taken from resepkomplit.com

Baru-baru ini rendang dinobatkan sebagai masakan terlezat di dunia. Penilaian yang dilakukan oleh survey CNN itu menempatkan rendang di urutan pertama dan nasi goreng di urutan kedua sebagai masakan terlezat di dunia. Demi mendengar berita tersebut, saya langsung bersetuju. Faktanya, rendang memang disukai banyak orang dan penilaian itu tidak dilakukan oleh institusi dari Indonesia. Alasan subjektif, karena saya orang Indonesia. Lebih spesifik lagi, saya orang Minang tulen. Kedua orang tua saya berasal dari Padang Pariaman, daerah pesisir. Lebih spesifik lagi, saya ini orang Minang yang penggemar berat rendang! Jadi jelas saja jika saya mengakui rendang itu masakan terlezat di dunia. Kegilaan saya terhadap rendang bisa digambarkan dari cerita berikut.

Jika lebaran tiba, saya adalah orang yang paling berbahagia. Bukan karena terbebas dari puasa atau punya baju baru (empat tahun terakhir saya malah tidak pernah beli baju baru khusus untuk lebaran). Saya berbahagia karena pada saat itu saya bisa menemukan makanan favorit saya, rendang! Kebiasaan orang Sumatera, lebih menghadirkan ketupat dengan rendang ketimbang dengan opor ayam. Dan saat lebaran, saya bisa menyantap dua masakan favorit saya sekaligus, rendang dan ketupat sayur! Setelah rendang, ketupat atau lontong sayur adalah masakan favorit saya yang kedua. Jadi bisa dibayangkan betapa bahagianya saya saat lebaran.

Dulu, saat tinggal bersama orang tua, saya rela membantu ibu di dapur membuat rendang. Membeli kelapa, memarut kelapa sendiri dengan mesin parut (di rumah, ortu punya mesin parut sendiri), memeras santannya, berkali-kali. Tidak cukup diperas dengan tangan tapi dengan kain. Saya juga rela mencuci piring peralatan memasak. Tahu sendirilah kalau memasak rendang. Perlu banyak peralatan ini-itu dan semuanya berminyak. Tapi tak apa, saya rela demi rendang!

Sayalah orang yang pertama biasanya mencicipi rendang. Bahkan saat belum bisa disebut rendang karena masih disebut kalio. Kalio adalah rendang yang masih encer seperti gulai dan belum kering. Saat sudah kering, berwarna coklat tua dan bisa disebut rendang, saya juga yang pertama mencicipi. Saya pula biasanya orang terakhir yang memakan rendang tanpa saingan. Kenapa? Karena biasanya keluarga cuma makan rendang paling di dua hari pertama. Tapi lihatlah kegilaan saya pada rendang. Saya bisa bertahan makan hanya dengan rendang selama 7 hari berturut-turut pagi, siang, atau malam. Saat kuliah atau bahkan sekarang, saat saya mendapat kiriman rendang, selama itu pula saya hanya makan rendang sampai rendang dan bumbunya habis. Nggak bosen? Sampai saat ini, nggak tuh! Kalau dagingnya habis, saya cukup berbahagia makan nasi dengan bumbu rendang saja, tanpa perlu lauk dan tidak merasa butuh lauk. Bumbu rendang di lidah saya adalah bumbu nikmat tak terkira.

Saking sukanya pada rendang, hanya ada rendang enak, rendang enak sekali, dan rendang istimewa. Tidak ada rendang yang tidak enak di lidah saya walau saya sering merasakan rendang yang agak manis karena yang buat orang Jawa. Tapi saya tetap suka. Dan tahukah teman, saat menulis artikel ini lidah saya bergoyang dan air liur bergelombang. Padahal saya cuma menulis tentang rendang! Kalau berulang tahun, tak usahlah bersusah-susah memikirkan hadiah buat saya. Saya sudah cukup berbahagia jika diberi rendang. You’ll be the most handsome man and beautiful lady in my eyes… J

If you want to be excited and enthusiastic, love what you do. Kecintaan membuat hati gembira. Kecintaan membuat kita rela berbuat sesuatu. Kecintaan membuat kita mampu melakukan hal luar biasa. Jika mampu melakukan hal luar biasa dengan rela dan gembira, you feel happy. Pilihan, keinginan, cita-cita atau tujuan hidup yang ingin dicapai, sepantasnya mengantarkan kita pada kebahagiaan. Apalagi yang pencapaian tertinggi yang harus diraih selain happiness?

Love what you have now; pekerjaan, pressure kerja, target, deadline, tanggung jawab, keluarga, rekan, sahabat atau lingkungan sekitar. You will enjoy and happy. Seperti halnya kecintaan (tepatnya kegilaan) saya pada rendang. Because I love it, I would do anything for rendang. Hmm….lamak bana.

 

Mangkang, 13 Oktober 2011

2 Komentar leave one →
  1. Oktober 14, 2011 7:01 pm

    Serius mas, rendang nomor satu? Saya juga pernah baca 100 makanan terlezat di dunia, dan rendang memang masuk dalam jajaran 10 besar. Kebanyakan didominasi makanan Jepang, Italia, Thailand, dan Meksiko. Btw, rendang memang lezat abis! Nggak hanya di lidah orang Indonesia aja, krn saya pernah ketemu bule yg tergila-gila rendang.

    Dan fakta yang paling penting: ternyata mas URANG AWAK JUO MAH!!! Artinya saya lebih cocok manggil uda Fadhly. Hehehe….anyway, saya juga campuran Payakumbuh-Jakarta. Cerita mas bantuin ortu bikin rendang juga sama persis dengan saya. Pegel tuh ngaduk rendang berjam-jam. Hahhaa… Saya paling suka dengan kalio alias rendang setengah jadi. Saat itu, tekstur daging sedang lembut-lembutnya dan greasy dari santan lagi gurih-gurihnya. Sayangnya saat seperti ini hanya bisa dinikmati dalam waktu yang tidak begitu lama, karena kalau rendangnya masih banyak dan bakal habis lama, maka harus dilanjutkan sampai menjadi rendang betulan, bahkan sampai jadi kerak2 rendang!. Saya pernah menjamu teman2 dengan kalio ini, dan mereka bilang mereka baru saja mencoba rendang terlezat di dunia. Yihaaa…

    • Oktober 15, 2011 9:36 am

      haha…udah namanya hampir sama, asalnya juga sama lagi ya… sama-sama urang awak. Seleranya juga sama🙂

      Iya… rendang itu tidak hanya bisa dinikmati dengan lidah saja. Semakin kita mengerti sejarah, proses memasaknya semakin nikmat menyantapnya. Rendang itu anti-tesis instan, semua itu butuh proses. Rendang adalah hasil dari ketelitian dan kesabaran karena masaknya harus dengan api yang kecil dan lama. Bisa sampai 6-8 jam! Tapi lihat hasilnya….hmm….nyam..nyam.

      Bener kok…hasil survey CNN, rendang terlezat di dunia. Cek aja di google. Sempat di bahas di Kompas Minggu, 2-3 minggu yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: