Skip to content

KENAPA EH KENAPA ….?

Oktober 9, 2011

taken from tacticalcashflow.com

Percaya nggak kalau perilaku kita, orang-orang di sekitar kita, atau bahkan kita sendiri sering berperilaku boros dan sia-sia? Perilaku yang dilakukan bisa secara sadar atau tidak sadar? Jika melakukannya secara sadar, bulatkan tekad and please stop. Jika melakukannya karena tidak sadar, semoga artikel ini bisa sebagai pengingat.

Saya sedang akan ke restoran cepat saji di sebuah mal. Lapar, karena saat itu jam makan siang. Dan lazimnya saat jam makan siang, restoran penuh dan harus antri lama. Karena ramai, saya tunda niat saya. Lebih baik shalat dulu. Kali-kali aja setelah shalat restoran sudah agak sepi, demikian harap saya. Seperti kebanyakan tempat shalat di mal, letaknya ada di basement dekat tempat parkir.

Ternyata wudhu juga harus antri. Daripada bengong, saya perhatikan empat kran wudhu yang dipakai. Air dari kran mengalir deras. Artinya kran air dibuka penuh. Pertanyaannya, mengapa kran harus dibuka penuh? Bukankah dengan cara seperti itu lebih banyak air yang terbuang daripada yang dipakai untuk berwudhu? Bukankah wudhu bisa dilakukan dengan membuka kran seperlunya sehingga air mengalir seperlunya dan bisa dipakai berwudhu seperlunya juga. Wudhu itu ibadah, perbuatan mulia. Tapi membuang air itu mubazir. Tidakkah kita sadar begitu banyak rakyat bangsa ini yang masih kekurangan air? Apalagi air bersih. Tak usah bicara daerah di pelosok nusantara, di kota besar bahkan Jakarta sekalipun banyak rakyat yang butuh air. Lalu bijakkah kita membuang air percuma?

Berapa banyak mal dan supermarket di Indonesia. Berapa banyak kantor-kantor. Berapa banyak tempat umum yang menyediakan ruang shalat dan tempat wudhu. Berapa banyak rumah tinggal, hotel, apartmen. Berapa banyak masjid dan mushalla di Indonesia. Bayangkan jika perilaku wudhu-nya seperti cerita di atas. Bayangkan berapa banyak air yang terbuang percuma. Berjuta-juta liter air terbuang percuma setiap wudhu, per hari, per minggu, per bulan, per tahun. Tak tergerakkah hati kita untuk berperilaku lebih efisien?

Selesai shalat, restoran masih penuh. Terpaksalah ikut antri yang tidak sebentar. Daripada bengong, saya lihat sekitar. Tahu apa yang menarik dari restoran cepat saji di Indonesia? Perilaku orang yang mengambil saos! Orang Indonesia itu doyan sambel sehingga di setiap gerai cepat saji pasti disediakan saos yang bisa diambil sendiri. Ada saos cabe dan saos tomat. Saos cabe lebih banyak diminati daripada saos tomat. Lihat apa yang terjadi setelah selesai makan? Saos yang diambil masih banyak tersisa di piring! Tidak hanya terjadi pada satu-dua orang, tapi terjadi pada banyak piring! Mengapa harus sisa? Banyak lagi! Mengapa tidak mengambil saos secukupnya? Toh kalau kurang, khan bisa ambil lagi? Tidak akan dipungut bayaran khan kalau ambil saos lagi? Jadi tidak perlu mengambil banyak jika akhirnya terbuang, bukan?

Sambil makan dan melihat piring-piring dengan saos yang terbuang percuma, pikiran saya teringat sesuatu. Masih berhubungan dengan makanan juga. Tentang kondangan.

Setelah bulan puasa, saya menerima lima undangan pernikahan. Entah mengapa, banyak sekali orang menikah di bulan Syawal. Bulan “baik”, katanya. “Baik” setelah ditinjau dari sisi sosio-kultural, histori, hitung-hitungan khusus, dan sebagainya yang tak begitu saya pahami. Dan inilah saya temukan di acara undangan tersebut. Makanan di mana-mana dan tamu boleh mengambil suka-suka. Tak ketinggalan solo organ dan orkes dangdut. Tidak ada yang salah sampai di sini. Yang salah saat selesai makan. Lihat sisa piring makan para tamu. Berapa banyak piring dengan sisa makanan yang terbuang mubazir. Orang itu kalau lihat makan itu suka lapar mata. Saat makanan masuk mulut, perutnya yang nolak. Tak sedikit pula  yang kalau lihat makanan jadi gelap mata, Semua disikat padahal lidah nggak suka dan perut tak mampu.

Bagaimana dengan Anda? Apakah melihat hal yang sama seperti beberapa kejadian di atas? Mari berhenti melakukan kesia-siaan. Pemborosan adalah mubazir. Dan mubazir adalah kesia-siaan yang nyata.

Dendang penyanyi dangdut di acara mantenan masih tergiang di telinga saya. Lagu dari Bang Rhoma,

♪♪Kenapa eh kenapa  judi itu haram. Karena eh karena merusak keuangan.

Kenapa eh kenapa, mencuri juga haram. Karena eh karena merugikan orang…..♪♪

Dan saya pun melanjutkan lagu itu,

♪♪… kenapa eh kenapa  pemborosan dilarang. Karena eh karena..…♪♪

Silahkan dilanjut sendiri. Anda pasti punya jawaban yang sesuai…🙂

 

Mangkang, 4 Oktober 2011

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: