Skip to content

SELF INTROSPECTION? MAAF LAHIR BATHIN YA….

September 6, 2011

Acara apa yang biasa dilakukan pasca Lebaran? Pasti bermaaf-maafan sambil bersalam-salaman. Kita biasa menyebutnya dengan halal bi halal. Istilah yang mungkin hanya dikenal di Indonesia. Konon, walau menggunakan bahasa Arab, di Arab sendiri tidak familiar dengan kata ini. Jika diterjemahkan, halal bi halal artinya kira-kira maaf-memaafkan.

Sedemikian kuat tradisi halal bi halal sehingga dilakukan oleh semua kalangan, swasta maupun pemerintah. Sebagai rakyat, saya berharap para pegawai dan kantor pemerintah tidak melakukannya saat jam kerja. Apalagi sampai mengganggu pelayanan publik. Kalau mereka ingin mengurangi dosa antar sesama karyawannya sih silahkan saja. Tapi jangan membuat dosa baru pada rakyat yang sewajibnya mereka layani. Jadi sepantasnya halal bi halal dilakukan di luar jam kerja. Ini sih saran dari rakyat yang menggaji para pejabat itu. Syukur kalau di dengar. Kalau nggak sih ya kelewatan aja…..

Ngomong-ngomong halal bi halal, kantor tempat saya bekerja juga tak mau ketinggalan. Tahun ini, acara dilakukan saat hari pertama masuk kerja, 5 September. Setelah bel tanda masuk, semua karyawan berkumpul di pelataran depan pabrik. Seperti biasa, para manager dan pimpinan berbaris di depan dan para karyawan membentuk kelompok-kelompok. Mirip upacara bendera hari Senin. Dan ritual bersalaman dan bermaafan ini pun dimulai! Satu-persatu karyawan datang. Saya pun mengulurkan tangan, melebarkan senyum, sambil berkata “maaf lahir bathin”. Bukan perkara gampang juga, karena yang akan disalami berjumlah sekitar 1200 orang! Dan antrian tradisi memohon maaf ini pun mengular mengelilingi pelataran pabrik.

Saya jadi teringat acara mantenan, saat para mempelai yang harus menyalami para tamu dengan senyuman sambil berkata “terima kasih”. Selesai salaman gigi jadi kering dan pipi lumayan pegel karena harus tersenyum saat bersalaman. Maklum yang disalamin 1200 orang! Dan segera setelah selesai, toilet adalah tempat yang dituju. Untuk cuci tangan. Ternyata busa sabun bisa keruh juga warnanya. Mungkin itu juga gambaran kesalahan-kesalahan saya selama ini.

Dari acara halal bi halal, iseng, saya jadi tahu gaya orang bersalaman. Yang pertama, bersalaman gaya satu tangan. Yang masuk kelompok ini, bersalaman dengan satu tangan kanan. Ini sih gaya salaman standard lah. Ada juga yang bersalaman dengan tangan kanan tapi tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan. Lalu gaya bersalaman dengan tangan kanan yang setelah bersalaman ujung jari-jari tangan kanannya disentuhkan ke dadanya sendiri. Lalu gaya bersalaman dengan menjabat tangan seperti biasa lalu diikuti dengan gerakan menjabat kembali dengan posisi telapak tangan mirip orang mau panco. Saya sih menyebutnya gaya salaman anak muda, gaya gaul. Yang paling akhir adalah karyawan yang hanya menjulurkan satu tangannya untuk disalami tanpa ekspresi. Ini model salaman pasrah.

Yang kedua bersalaman dengan dua tangan, yaitu cara bersalaman dengan kedua telapak tangannya dirapatkan. Mirip pemain bola Itali yang memohon-mohon pada wasit agar tidak diberi kartu kuning. Lainnya adalah bersalaman dengan kedua telapak tangannya dirapatkan dan setelah bersalaman kedua ibu jarinya disentuhkan atau didekatkan ke arah hidung si karyawan. Mirip salaman saat mantenan. Bagi yang tidak ingin bersentuhan, gaya salamannya, kedua telapak tangan dirapatkan lalu mengajak bersalaman tanpa harus menyentuh tangan orang yang diajak bersalaman.

Lalu apa hikmah halal bi halal bagi saya? Hikmah pertama, ya itu tadi, saya jadi tahu gaya bersalaman :) . Hikmah lainnya, saya jadi tersadar terhadap beberapa hal. Ternyata masih banyak karyawan yang saya kenal tapi saya tidak tahu namanya. Banyak juga karyawan yang saya nggak yakin apakah mereka masuk dalam Divisi saya atau tidak. Artinya saya tidak mengenal mereka dengan baik. Dan entah mengapa, saat halal bi halal kemarin, banyak karyawan yang saya kenal, tahu namanya, tapi saat salaman kok tiba-tiba saya jadi lupa namanya.

Jadi pelajaran dari halal bi halal ini adalah agar saya lebih banyak tahu dan lebih dekat dengan orang-orang yang selama ini banyak membantu saya. Kemampuan saya berdiri pada dasarnya ditopang oleh usaha dan jasa mereka itu semua. Mungkin saya sedang diingatkan, sering-seringlah melihat ke bawah. Mungkin juga saya sedang ditegur sering-seringlah melakukan self introspection.

Saat bersalaman dan bermaafan, seorang karyawan dengan santainya ngomong, “Aiihh, akhirnya bisa juga lihat senyumnya Pak Fadhly…..” Haiyahh, maybe that’s another self introspection? Maaf lahir bathin ya….

 

Banyumanik, 6 September 2011

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: