Skip to content

BUAT INDONESIA BANGGA!

Agustus 16, 2011

Indonesia ini memang negeri yang unik, penuh dengan hal-hal yang seram serius, tetapi penuh dagelan dan badutan juga. Mengerikan tapi lucu, dilarang justru dicari dan amat laku, dianjurkan, disuruh, tetapi malah diboikot, kalah tetapi justru menjadi amat populer dan menjadi pahlawan khalayak ramai, berjaya tetapi keok celaka, fanatik anti PKI tetapi berbuat persis PKI, terpeleset tetapi dicemburui, aman tertib tetapi kacau balau, ngawur tetapi justru disenangi……… (YB Mangunwijaya)
 

by etftrends.com

Saat memulai tulisan ini, awal Agustus lalu, saya baru saja selesai membaca novel Sebelas Patriot, novel keenam karya Andrea Hirata. Novel yang terlalu “ringan” (dan tipis) dibanding novel-novel Andrea Hirata sebelumnya. Namun novel itu cukup menghibur dan membangkitkan. Membangkitkan kecintaan pada ayah, membangkitkan patriotisme ala PSSI, dan membangkitkan kebanggaan kepada bangsa. Bangsa Indonesia pastinya. Bangsa yang ratusan tahun dijajah dan bekasnya masih bisa dilihat sampai sekarang. Bangsa yang sudah puluhan tahun merdeka tapi masih berkutat pada kemiskinan dan kesenjangan sosial yang nyata. Tapi bagaimanapun kondisi Indonesia, apapun kata orang tentang Indonesia, orang seperti Andrea Hirata tetap bangga dengan Indonesia. Sebuah pesan moral yang sungguh mulia.

Apakah kebanggaan anda kepada Indonesia seperti halnya Andrea Hirata? Anda punya pengalaman atau cerita tentang Indonesia yang mau dibagikan? Silahkan, dengan senang hati. Tapi ijinkan juga saya berbagi cerita.

Beberapa tahun lalu, saya, dua orang teman saya, dan bos saya saat itu, makan malam di sebuah restoran di Clemmons, North Carolina, Amerika. Karena lidahnya “pegel” ber-cas-cis-cus melulu, sambil menunggu pelayan datang, kami berbincang dengan bahasa Indonesia. Kebetulan bos saya saat itu seorang British yang bisa berbahasa Indonesia. Saat pelayan datang, kami memilih menu dan berbicara dengan bahasa Indonesia. Si pelayan wanita restoran menunggu sambil memperhatikan.

Iseng saya bertanya, “Are you familiar with our language?” Si pelayan menggeleng. “We just spoke in bahasa, Indonesian language”, jawab saya. “Wow, that’s cool!”, komentarnya. Iseng lagi saya, “We are from Indonesia. Do you know Indonesia?” Si pelayan menggeleng, sambil menjawab pelan, “No.”

Yaaa….ternyata doi nggak tahu Indonesia! Padahal saat itu Obama sudah jadi presiden Amerika, lho. Saya yakin, kalau si pelayan saya tanya apakah kamu tahu Jerman, Jepang, atau Inggris, pasti jawabnya, YA. Atau jika saya tanya, tahu Singapura nggak? Pasti juga jawabnya YA.

Cerita lain, saat pemeriksaan paspor ketika baru tiba di Bandara Dulles, Washington. Mantan bos saya yang orang British dengan santainya melenggang setelah diperiksa oleh petugas imigrasi. Giliran saya, malah disuruh ke ruangan khusus. Melapor ke petugas, lalu disuruh duduk menunggu. Berbarengan dengan saya di ruangan tersebut orang dari Puerto Riko dan orang-orang kulit hitam dari Afrika. Tak jelas maksud disuruh ke ruangan itu karena setelah itu saya dipanggil lagi dan diberi fotocopy pasal-pasal imigrasi Amerika, baru boleh keluar. Saat pulang, lagi-lagi saya harus masuk ruangan khusus untuk verifikasi paspor. Entah apa yang diverifikasi. Selesai check in, koper saya juga diperiksa, dibuka. Koper bos saya, dengan mulus dilewatkan tanpa pemeriksaan. Kenapa saya? Kenapa bos saya yang British tidak? Mungkin beginilah nasib sebagai pemegang paspor kelompok negara ketiga.

Mungkin saja, sebagai bangsa kita kurang dikenal atau mungkin kurang dihargai. Cerita di atas adalah contohnya. Tapi sering juga tindakan dan mentalitas kita yang tidak menghargai bangsa sendiri. Teman saya sampai dongkol bukan kepalang sama kelakuan beberapa karyawannya. Ada karyawan yang kalau diberitahu oleh atasan yang pribumi ngeyelnya nggak karuan, tapi giliran diberitahu oleh orang londo, kepalanya bisa mengangguk berkali-kali saking nurutnya. Entah sadar atau tidak, kita seringkali terlalu berlebihan menghargai para londo padahal londo-londo itu nggak pengin-pengin amat. Kita saja kadang yang suka “centil” berlebihan.

Dan saya ingin melanjutkan kutipan alinea pembuka di atas;     

…..sungguh misterius tetapi gamblang bagi semua orang. Membuat orang yang sudah banyak makan garam seperti saya ini geleng-geleng kepala tetapi sekaligus kalbu hati cekikikan. Entahlah, saya tidak tahu. Gelap memprihatinkan tetapi mengandung harapan fajar menyingsing. (YB Mangunwijaya)

Walaupun gelap, asa tetaplah harus ada. Kita adalah bagian untuk membuat bangsa ini lebih terhormat, lebih dihargai. Kitalah yang membuat Indonesia bangga. Do something even from the smallest thing you can!

Keep the spirit! Dirgahayu Indonesia….

 

Mangkang, 3 Agustus 2011

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: