Skip to content

NANTI SAJA…..

Juli 16, 2011

picture taken from iconarchieve.com

Ini adalah postingan pertama saya di bulan Juli. Postingan terakhir sekitar 2 minggu lalu. Kalaulah ditanya sebabnya, harus jujur saya katakan bahwa saya seperti dilanda kemalasan yang amat sangat. Lama tidak menulis bukan karena saya tidak punya ide tulisan. Ada ide yang muncul tapi kok sepertinya berat sekali untuk memulai menulis. Setiap kali muncul ide tulisan, maka setiap kali pula ingin menunda untuk tidak memulai menulis. Alasan yang paling sering muncul, belum mood, jadi nanti saja. Alasan lain, waktunya nggak tepat. Harus cari waktu yang tepat untuk menulis, jadi nanti saja. Lagi sibuk, banyak kerjaan, so nanti saja. Saat senggang di hari Sabtu-Minggu, alasannya ingin menggunakan waktu senggang dengan santai dan nyaman tanpa harus dibebani oleh macam-macam, jadi menulisnya nanti saja.

Kalaulah ditelaah lagi sebenarnya kemalasan saya menulis itu bukan semata-mata karena mood, nggak punya waktu, atau lagi sibuk. Kalau mau jujur sih bukan itu. Yang jadi pangkal masalah itu ya soal nanti saja itu. Gara-gara soal nanti saja itu, semua hal disepelekan dan dikerjakan nanti saja. Maka sekarang ini begitu sebalnya saya dengan si nanti saja itu.

Maka saya harus mengorek-ngorek lagi, apa-apa saja hal yang tertunda dan terbengkalai sampai saat ini. Saya buka organizer handphone. Muncullah daftar hal yang tertunda; perbaikan kipas angin, perbaikan TV, pengerjaan perabot rumah, perbaikan kendaraan, mengganti rumput halaman yang sudah mati segan hidup tak mampu. Saya tak tampilkan semuanya biar saya tak terlalu malu. Menakjubkan! Hal-hal yang tertunda itu ada yang seharusnya dikerjakan sejak empat bulan lalu! Bahkan mengambil furniture yang saya beli dari teman dan sempat saya singgung di postingan saya sebelumnya, sampai sekarang pun belum saya ambil. Semua karena nanti saja. Betapa luar biasa si nanti saja ini melalaikan saya.

Persoalan nanti saja ini juga merembet ke hal lain. Jika sakit, paling males jika disuruh ke dokter. Paling jawaban saya, ke dokternya nanti saja. Akibatnya, penyakit lama sembuhnya. Sembuhnya, ya juga nanti saja. Mau sekolah lagi, juga nanti saja. Untuk yang satu ini tidak semata-mata karena saya lalai tapi memang terkait juga dengan dana. Sekolah di Indonesia ini khan mahal. Di luar negeri lebih mahal lagi. Ada juga alasan lain yang terlalu panjang kalau saya urai di sini, so dibahasnya nanti saja lah ya.

Maka saya menjadi tersentil-sentil saat hari Sabtu membaca artikel Rene Suhardono yang bilang today is the time, now is the moment. Menjadi lebih tersentil lagi, lebih tepatnya tersinggung, saat besoknya, hari Minggu, di kolom Parodi Kompas, Samuel Mulia mengawali tulisannya dengan kalimat we should not wait until tomorrow, for tomorrow may not come. Duhh!!

Jika diyakini tidak ada hal yang kebetulan, munculnya dua artikel tersebut pastilah bukan kebetulan, tapi pasti ditujukan mengingatkan saya yang sudah terlanjur dibuai oleh alasan mujarab nanti saja itu. Karena sudah diingatkan seharusnya saya secepatnya sadar. Minimal segeralah menulis sebagai salah satu bentuk rasa syukur pada Tuhan atas sedikit kemampuan yang diberikanNya ke saya. Tapi entah karena begitu manjurnya buaian nanti saja atau mungkin karena saya sendiri yang ndableg, saya itu sadarnya baru sekarang ini. Padahal artikel Rene dan Samuel Mulia itu terbit akhir Juni. Mau tahu kenapa saya baru sadar sekarang? Apalagi kalau bukan karena nanti saja!

Padahal saya tuh selalu diingatkan, waktu itu sangat berharga. Jangan menunda-nunda. Demi waktu, manusia itu sebenarnya dalam kerugian kecuali…. Semoga saya bisa masuk golongan kecuali itu. Memori otak saya yang makin lama makin terbatas ini harus mengingat-ingat kembali, lebih sering do it now atau nanti saja? Tapi bius nanti saja memang kuatnya bukan kepalang karena suka menyergap tanpa disadari. Maka dengan atau tanpa sadar, saya suka ber-nanti saja saat akan beramal, say hello pada orang-orang yang kita cintai, atau membahagiakan orang tua. Padahal tak ada jaminan saya bisa melakukannya nanti saja. Kalau mereka atau saya yang “game over” duluan, gimana?

Maka kesimpulan saya sama dengan Samuel Mulia, you are not the owner of tomorrow. We shouldn’t wait until tomorrow because may be we will not have tomorrow.

 

Mangkang, 15 Juli 2011

3 Komentar leave one →
  1. pipit widagdo permalink
    Juli 20, 2011 9:58 am

    ijin share kutipan “Maka dengan atau tanpa sadar, saya suka ber-nanti saja saat akan beramal, say hello pada orang-orang yang kita cintai, atau membahagiakan orang tua. Padahal tak ada jaminan saya bisa melakukannya nanti saja. Kalau mereka atau saya yang “game over” duluan, gimana?” ya Pak, boleh ?

    • Juli 21, 2011 7:23 am

      Selama mencantumkan sumbernya, saya tidak keberatan. Silahkan Pipit.
      Semoga bermanfaat

  2. Juli 25, 2011 7:35 am

    sama seperti yg saya rasakan sekarang, mau melakukan sesuatu tapi malah sering menunda-nunda..
    Makasih sudah mengingatkan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: