Skip to content

SUTRADARA YANG SESUNGGUHNYA

Juni 30, 2011

picture taken from s726.photobucket.com

Dulu waktu kuliah, saya punya beberapa teman yang tinggal di Semarang. Dari cerita mereka ini saya berkesimpulan kalau Semarang itu gampang banjir. Hujan deras sedikit saja bisa bikin banjir. Kotanya panas banget. Mungkin karena dekat laut. Air juga susah. Di beberapa tempat airnya tanahnya tidak jernih dan berwarna kuning sementara air PAM tidak mengalir 24 jam. Jadi untuk mendapat air bersih, saat air PAM mengalir harus ditampung sebanyak mungkin dalam bak. Bahkan harus ditampung di ember-ember tambahan. Demi mendengar cerita tersebut, saya pernah berujar, “Saya paling tidak ingin tinggal di Semarang. Sudah kotanya panas, gampang banjir, airnya susah lagi!”

Saat kuliah, saya berharap jika lulus bekerja di Jakarta, di perusahaan yang kantornya di gedung bertingkat, ruangan ber-AC, berkemeja, berdasi, dan bersepatu kulit mengkilat. Wow…keren! Setidaknya demikian gambaran saya saat itu.

Itu cerita dulu. Sekarang?

Pekerjaan justru mendamparkan saya tinggal di kota Semarang, kota yang saya tidak inginkan (dulunya). Saya malah sempat berkantor di area yang paling rawan banjir se-Semarang. Daerah pelabuhan! Di area ini, tak hanya hujan yang bisa buat banjir. Tak ada hujan pun, pasang air laut (rob) bisa menggenangi jalan, rumah-rumah penduduk, dan akses ke pelabuhan hampir setiap hari.

Kekumuhan juga lekat dengan pelabuhan. Selain rob, hal tersebut terkait dengan buruh kasar, preman, dan prostitusi. Karena pekerjaan, saya malah harus berurusan dengan para buruh pelabuhan (hal baru, pengalaman baru, dan ternyata asyik juga tuh). Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kenyataan seolah memaksa saya untuk menghadapi lokasi kerja, kondisi kerja, dan kota yang saya tidak inginkan sebelumnya.

Tapi nyatanya saya betah juga di Semarang. Kota yang relatif tidak macet sehingga saya lebih bisa memprediksi dan menikmati perjalanan tanpa harus banyak membuang waktu atau bahkan sampai stress segala. Sesuatu yang saya takuti seperti banjir dan kesulitan air ternyata tak seseram yang saya bayangkan karena saya bisa tinggal di daerah yang aman dan berlimpah air.

Pakaian saya ke kantor? Bukan kemeja berdasi dan sepatu kulit mengkilat tapi celana jeans, kaos oblong, dan sepatu kets. Hal yang sekarang justru paling saya sukai. Jika bertemu teman sepulang kerja, mereka suka nggak percaya jika saya dari kantor. Sering juga diledek, “Pakaian ke kantor sama ke mal kok nggak ada bedanya?” Justru sekarang saya paling nggak ingin berkemeja (apalagi berdasi!) kecuali kalau terpaksa. Sampai-sampai saya tak ingat kapan terakhir kali membeli kemeja karena sudah lama tersimpan dan jarang sekali dipakai.

Saya yakin tiap orang pasti punya harapan. Harapan ingin begini, ingin begitu. Ingin jadi ini, ingin jadi itu. Harapan yang dipanjatkan dan diharapkan suatu hari akan terwujud. Kehidupan ibarat putaran roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Dulunya pengin jadi ini, sekarang malah jadi itu. Dulunya nggak suka ini sekarang malah suka.

Hidup memang dihadapkan pada pilihan-pilihan. Setiap pilihan adalah mozaik yang jika dirangkai menjadi episode utuh kehidupan. Kadang tak terduga, kadang punya banyak kejutan. Yesterday is history, today is your life, tomorrow is mystery. Realita tak melulu seperti harapan. Tapi percayalah, pasti ada campur tanganNya pada apapun yang kita alami sekarang.

Life is not always perfect as your dream. Be positive! Karena siapa tahu sebenarnya Tuhan sedang menuntun kita membangun mimpi baru yang lain. Mimpi dan harapan baru yang mungkin jauh lebih baik dari harapan kita sebelumnya.

Saat-saat ini, muncul keinginan saya belajar finance. Padahal dulu saya sempat diterima di jurusan Akuntansi namun malah saya tolak. Jika melihat deretan buku yang saya baca di mana saya begitu enjoy membaca buku sejarah, travelling, dan  budaya, bukankah ini terkait dengan Sosiologi? Jurusan yang juga saya tolak saat diterima di salah satu universitas negeri di Yogya?

Tuhan selalu punya episode sendiri buat hambaNya. Karena Dia lah the real director, sutradara yang sesungguhnya.

 

Mangkang, 18 Juni 2011

2 Komentar leave one →
  1. pipit permalink
    Juli 12, 2011 10:04 am

    bahkan rencana DIA adalah yang terbaik, walaupun kita diberi wewenang olehNYA untuk berencana & DIAlah yang membuat keputusan…..
    be positive !! (like this : much !! ^^v)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: