Skip to content

RUMUS 10 – 80 – 10

Mei 23, 2011

Pengalaman ada guru yang paling berharga, demikian kata orang bijak. Karena pengalaman pula saya jadi ingin menulis kali ini. Apa yang terjadi pada diri kita dalam episode kehidupan terkadang tidak selalu dapat dimengerti atau belum dapat dimengerti pada saat itu juga. Tapi mungkin baru dapat kita pahami setelah beberapa tahun atau puluhan tahun berselang.

Saya jadi teringat masa puluhan tahun lalu. Saat SD kelas 1 saya ditunjuk jadi Ketua Kelas. Mulai saat itu sampai kelas 6 SD saya jadi Ketua Kelas walaupun sempat 3 kali pindah SD. Satu contoh yang kurang bagus sebenarnya jika ditinjau dari sudut demokrasi. Power tends to corrupt. Makanya jabatan presiden sekarang cukup dibatasi 2 periode saja. Tapi apalah yang bisa dikorupsi sebagai ketua kelas. Selain tak ada yang menarik untuk dikorupsi, saat itu juga tidak kepikiran. Namanya juga masih kecil.

Kelas 1 SMP saya masih jadi Ketua Kelas. Karena bosan, setelah itu saya tidak mau lagi jadi Ketua Kelas. Permintaan saya terwujud, tapi saya malah jadi Ketua OSIS SMP. SMA di Yogya, saya dipilih jadi Ketua OSIS. Waktu kuliah, ditunjuk jadi Manajer Pelatihan dalam kepengurusan kegiatan mahasiswa. Tugasnya mengkoordinir dan memimpin latihan para mahasiswa. Memimpin seratusan orang itu bukan perkara sederhana, apalagi mahasiswa. Tingkah mereka macam-macam. Apalagi mereka yang latihan itu tidak dibayar. Jadi perlu banyak-banyak bersabar, biar tidak kena gejala darah tinggi dan tidak stress.

Di dunia kerja, saya merasa beruntung karena sempat berpindah-pindah departemen. Dari awalnya tidak punya staff, kemudian punya 1 orang. Pindah departemen, memimpin 5 orang lalu 30 orang. Sempat pindah lagi cuma memimpin 2 orang sampai akhirnya saya harus memimpin 500 orang. Di jabatan terakhir saya sekarang, saya banyak sekali mendapat pelajaran terutama dalam hal leadership. Pengalaman memimpin dan berorganisasi dari SD sampai kuliah secara langsung dan tidak langsung banyak membantu saya di dunia kerja.

Dari pengalaman organisasi dan memimpin orang tersebut, saya berkesimpulan, memimpin orang itu tidaklah mudah. Karena manusia itu diciptakan dengan akal dan dilengkapi nafsu. Maka manusia itu banyak maunya. Dari 10 orang, bisa punya 10 pendapat dan 10 keinginan. Padahal jelas tidak semua pendapat dan keinginan itu bisa diakomodasi. Parahnya lagi, kadang orang itu suka banyak maunya tapi saat giliran kerja malah nggak mau. Saat rapat ngomongnya bisa panjang lebar dan pendapatnya ingin didengar. Giliran disuruh kerja malah memble. Itulah sebabnya memimpin orang itu adalah seni, tidak melulu bisa dipelajari dengan buku text book kepemimpinan yang bisa dengan mudah ditemukan di toko buku.  

Karena pengalaman itu adalah guru, ijinkan saya mengambil kesimpulan dari pengalaman saya memimpin manusia. Kesimpulan pertama, orang bandel dan brengsek itu pasti selalu ada di setiap organisasi. Dalam hal pekerjaan, saya juga yakin orang bandel dan brengsek ada di setiap perusahaan. Maka hati-hati jika ingin pindah kerja karena alasan bos atau rekan kerja yang menyebalkan. Bisa jadi di tempat kerja baru Anda ketemu bos atau teman yang lebih menyebalkan dari tempat kerja sebelumnya.

Kesimpulan kedua, orang baik dan loyal juga pasti ada di setiap organisasi atau perusahaan. Kesimpulan ketiga, jika diestimasi (maaf jika kurang ilmiah), persentase orang bandel itu 10% dan persentase orang baik dan loyal juga sekitar 10%. Sisanya? 80% adalah para follower, kelompok “asyik-asyik aja” yang akan mengikuti pengaruh yang dominan. Mirip dengan kurva distribusi normal. 10% orang bandel dan 10% orang baik adalah kelompok yang berada pada 2 kutub yang saling berseberangan.  Siapa yang paling dominan dari kedua kutub tersebut akan menarik 80% follower. Kekuatan 2 kutub ini pula yang akan mempengaruhi jalannya organisasi ke arah positif atau negatif.

Para Supervisor, Department Head, dan Manager seyogyanyalah menjadi bagian dari 10% positif. Ciptakan 10% kelompok positif di departemen masing-masing. Pastikan para leader, supervisor, departemen head, atau manager yang diangkat adalah orang-orang berkinerja baik dan berintegritas tinggi. Dengan begitu mereka bisa menjadi magnet untuk menarik 80% follower menjadi bagian dari kelompok positif. Jadilah kopi yang keberadaanya merubah lingkungannya. Kopi yang larut merubah air menjadi minuman harum yang sedap dinikmati.

Pertanyaan mendasarnya, masuk kelompok manakah Anda? Apakah Anda bagian dari 10% kelompok positif?

Salam Positif.

 

Banyumanik, 22 Mei 2011

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: