Skip to content

IN MEMORIAM; ROSIHAN ANWAR

April 18, 2011
tags:

Rosihan Anwar (picture by old.id.news.yahoo.com)

Suatu hari, 30 Desember 2001, seorang wartawan bernama Lufti mengabarkan Rosihan Anwar meninggal dunia kepada Metro TV. Demi mendengar berita tersebut, Metro TV mengecek hal tersebut kepada Buyung RB Nasution. Buyung RB Naution, sekretaris Soebadio Satrosatomo, menelpon rumah Rosihan Anwar. Saat mendengar suara Rosihan di ujung telpon, barulah Buyung sadar kalau berita meninggalnya Rosihan itu tidak benar.  

Ternyata berita kematian ini telah menyebar dengan cepat termasuk sampai pula Abdullah Alamudi, mantan wartawan Pedoman yang bekerja pada Bagian Penerangan Amerika Serikat. Rupanya Abdullah telah menyebarkan berita ini ke orang banyak pula sehingga ia mau tidak mau harus meralat berita yang ternyata tidak benar itu. “Ya, lakukan segera. Yang meninggal dunia ialah Pak Abdul Qahar, mertua putra saya Omar Lutfi,” ujar Rosihan Anwar.

Kurang dari sebulan kemudian, tanggal 17 Januari 2002, Rosihan Anwar hadir di Taman Ismail Marzuki dalam acara mengenang wartawan dan pelukis Mara Karma. Saat berbicara, dengan maksud bercanda Rosihan menyebut kalau dirinya dikenal sebagai wartawan In Memoriam  yang suka menulis obituari.. Ucapan Rosihan itu diliput oleh Warta Kota yang kemudian terbit dengan judul Rosihan Anwar Wartawan In Memoriam  disertai dengan fotonya. Orang yang membaca judul berita itu, bisa salah kira bahwa berita itu mengabarkan Rosihan Anwar meninggal dunia. Dan karena berita itu lagi-lagi Rosihan dikira meninggal dunia.

Cerita di atas saya kutip dari buku Semua Berawal dengan Keteladan; Catatan Kritis Rosihan Anwar. Membaca tulisan Rosihan Anwar seperti mendengatkan orang bertutur. Tak membosankan. Gaya bahasanya ringan walaupun ia mengulas topik sejarah yang kadang kala “berat”. Jika ada tokoh yang meninggal dunia, apalagi jika ia mengenalnya dengan baik, esok harinya tulisan Rosihan memang kerap muncul di media massa dengan judul awal In Memoriam. Narasinya tentang peristiwa dan riwayat seseorang bahkan disertai dengan tanggal, bulan, dan tahun. Sungguh mengagumkan! Entah bagaimana cara ia bisa mengingat itu semua. Entah apa pula yang ia rasakan setiap kali ia menulis in memoriam tentang seseorang mengingat usianya yang sudah uzur. Menulis in memoriam padahal penulisnya sendiri seorang berusia senja dimana kematian secara probabilitas semakin dekat baginya, tentu perlu ketangguhan jiwa.

Kamis siang, 14 April 2011, lewat internet saya membaca berita Rosihan Anwar meninggal dunia. Untuk kali ini, berita tersebut benar adanya.  Penulis In Memoriam yang saya kagumi ini berpulang, menjalani takdir Tuhan yang tak terelakkan. Bahwa semua manusia itu pasti mati. Mengutip pendapat Rene Suhardono tentang  passion, Rosihan Anwar adalah contoh orang yang bekerja dengan full of passion. Sampai akhir hidupnya yang uzur, 89 tahun, ia masih aktif menulis bahkan sempat menyelesaikan buku terakhirnya kisah percintaan dengan istrinya, Siti Zuraida. Semoga ALLAH menerima amal-amalnya dan beliau tenang di sisiNya.

Tulisan ini adalah sepenggal catatan pendek dari riwayat panjang tokoh yang saya kagumi. Tulisan personal dengan alasan personal. Walau berat, ijinkan saya menulis judul In Memoriam; Rosihan Anwar.

 

Banyumanik, 16 April 2011

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: