Skip to content

IF SCHWARZKOPF SAYS ABOUT LEADERSHIP…..

Januari 29, 2011

Norman Schwarzkopf (picture taken from aliciapatterson.org)

Dalam sebuah diskusi informal dengan teman, kami berdiskusi tentang bagaimana memilih pimpinan kerja. Ambillah contoh untuk level supervisor ke atas. Faktor apa yang harus dipertimbangkan. Dari diskusi ringan tersebut disadari bersama bahwa selain faktor kecerdasan dan kemampuan teknis di bidangnya, faktor lain yang tak kalah penting adalah karakter personal dan leadership.

Saya ambil contoh begini; seseorang dipromosikan sebagai supervisor. Sebelumnya ia adalah operator biasa. Ketika dipromosikan menjadi supervisor, ia harus memimpin rekan-rekannya dulu sesama operator. Diperlukan kekuatan mental untuk menghadapi perubahan ini. Yang dulunya teman main, makan bareng, curhat bareng, tiba-tiba sekarang berbeda posisinya. Dulu saat masih menjadi operator, si calon supervisor tidak punya garis instruksi dan wewenang. Setelah menjadi supervisor, ia bisa menyuruh, memerintahkan, atau bahkan ‘memarahi’ temannya. Pertanyaannya, mampu nggak melakukan itu? Dalam kondisi yang lebih ekstrim, bisa jadi si calon supervisor harus memecat temannya karena melakukan kesalahan yang sangat fatal. Perkara mudah? Diperlukan orang dengan karakter kuat untuk menghadapi situasi seperti ini.

Contoh lain. Ada orang yang selalu membutuhkan orang lain tiap kali ia mengambil keputusan. Begitu takutnya ia mengambil keputusan sendiri, setiap kali ingin memutuskan sesuatu terkait dengan pekerjaan, tiap kali pula ia selalu meminta nasehat dari atasannya atau orang lain yang posisinya lebih tinggi dari dia. Ia begitu takut kalau nanti keputusannya salah. Dengan meminta advice dari orang lain, ia merasa terbebas dari tanggung jawabnya. Jika nanti terjadi kesalahan, ia merasa bahwa itu bukanlah tanggung jawabnya. Itu adalah tanggung jawab atasannya atau orang yang ia minta pendapat. Ia lari dari tanggung jawab hanya karena ia sangat takut berbuat salah. Disadari atau tidak, orang seperti ini telah membuang kesempatan belajar. Belajar mengambil keputusan, belajar mengambil resiko, dan yang paling penting belajar bertanggung jawab.

Tough decision is learning process to make decision easier, difficult problem is learning process to solve the problem easier. Tanggung jawab, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan berani menghadapi masalah adalah bagian dari proses learning by doing. Tidak semua hal tersebut di atas dapat diwakilkan atau diserahkan kepada orang lain. Jika semuanya diserahkan kepada orang lain, kapan bisa belajar memutuskan, menyelesaikan masalah, dan berani bertangung jawab? Leadership adalah proses yang perlu latihan, perlu praktek, dan perlu waktu. Saya yakin, tidak ada mau dipimpin oleh atasan yang cuma mau cari ‘aman’, hanya bisa menyalahkan orang lain tapi nggak mau bertanggung jawab.

Menarik mendengar apa yang dikatakan Jenderal Norman Schwarzkopf, yang dijuluki Storming Norman, Panglima Perang Amerika di Operasi Badai Gurun yang memimpin Perang Teluk di Irak tahun 1991. Menurutnya, kepemimpinan adalah gabungan antara strategi dan karakter. Tetapi jika harus memilih salah satu, pilihlah yang kedua!

 

Banyumanik, 24 Januari 2011

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: