Skip to content

MIMPI BERTEMU AA

Januari 23, 2011
tags:

Semalam saya bermimpi bertemu Aa Gym. Entah kenapa kok ya tiba-tiba saya mimpi ketemu Aa. Namanya juga mimpi, hanya sekedar bunga tidur. Jadi datangnya tak diundang, perginya tak diantar (jailangkung kalii…). Suka-sukanya saja. Karena saya gampang cepat lupa dengan mimpi, langsung saya tulis saja sebelum lupa.

Di mimpi itu, tiba-tiba saya sudah ada di depan Aa Gym.

Aa, saya punya hal yang ingin disampaikan. Apakah Aa berkenan mendengar?”

Aa tersenyum, namun tanpa kata. Karena diam, saya anggap setuju.

Dulu saat ceramah Aa masih sering muncul di TV, saya bukanlah penggemar berat Aa. Hanya suka aja. Bagi saya ceramah Aa itu terlalu umum walaupun tetaplah menarik.”

Aa menyimak, tapi tak ada reaksi. Maka saya pun melanjutkan

Tapi bagi masyarakat banyak, justru Aa bisa diterima semua pihak. Kata-kata Aa menyejukkan. Banyak orang yang kagum dengan Aa. Di tengah ketidakpercayaan terhadap para pemimpin bangsa ini, Aa adalah sebuah fenomena tersendiri. Banyak orang yang menaruh harapan besar, Aa bisa menjadi tokoh informal bagi perubahan bangsa ini”

Aa tekun mendengar apa yang saya sampaikan. Kalimat saya teruskan.

Semua berubah saat Aa berpoligami. Hal yang saya sayangkan. Bukan saya tidak setuju dengan poligami. Saya hanya menyayangkan! Masyarakat kehilangan tokoh harapannya. Mereka kecewa! Mereka yang dulunya memuji, malah balik mencaci Aa. Poligami bukanlah kata yang disukai apalagi oleh kaum wanita atau oleh ibu-ibu yang sering hadir di ceramah Aa. Akibatnya, tak ada lagi tokoh panutan berpengaruh yang dikagumi, dielu-elukan, yang ceramahnya mampu menyedot ribuan orang datang berbondong-bondong.”

Boleh saya sampaikan pendapat saya terhadap para penghujat Aa?” Saya meminta ijin. Aa mengangguk. Dengan semangat saya memulai,

Hujatan orang terhadap Aa khususnya terhadap poligami bikin saya jadi geleng-geleng kepala. Bagi saya, poligami itu urusan personal, urusan pribadi! Hanya orang yang melakukan poligami dan Tuhan saja yang tahu, apakah alasan poligami itu karena ALLAH atau karena hal lain. Hanya orang yang berpoligami dan ALLAH saja yang tahu, apakah ia bisa bersikap adil atau tidak dan harus mempertanggungjawabkannya kelak. Karena ini urusan pribadi, kenapa orang lain jadi sewot? Pernah saya dengar pendapat para selebriti, aktivis perempuan saat ditanya masalah kumpul kebo. Mereka bilang, itu khan urusan pribadi masing-masing, mari kita hormati, demikian pinta mereka. Tapi giliran hal poligami, mereka sewotnya nggak karuan! Kalau mereka bisa menghormati orang yang kumpul kebo kenapa poligami tidak? Emangnya kumpul kebo lebih terhormat dari poligami? Toh sama-sama urusan pribagi khan?” Suara saya berapi-api. Mungkin juga emosional. Saking geregetannya kali.  

Aa masih tak bersuara. Saya pun melanjutkan. Mulut sudah tak mau diam.

Toh Aa sudah memutuskan untuk berpoligami. Sikap dan pilihan yang saya yakin pasti tidak dengan pertimbangan sembarangan. Aa ingin berdakwah bahwa dengan poligami pun tetap bisa tercipta keluarga yang harmonis dan bahagia. Tapi sekarang ini saya jadi bingung. Tidak sekedar bingung tapi juga sedih, kok Aa bercerai?”

Saya tatap Aa. Mengharap kali ini ada jawaban meluncur dari mulutnya. Aa tetap diam, memberi kesempatan saya melanjutkan. Seolah dia tahu kalau mulut saya ini belum ingin berhenti ngomong. Dan saya pun kembali ngomong.

Jika poligami Aa adalah bagian dari dakwah dan Aa ingin menunjukkan kalau dengan poligami pun tetap bisa tercipta keluarga yang harmonis dan bahagia, perceraian Aa adalah sebuah pesan ironi. Para penentang poligami adalah orang yang tertawa paling keras sekarang ini. Mereka bisa bilang, kalau ustadz saja yang punya ilmu agama cukup bisa gagal berpoligami, apalagi orang bukan ustadz? Apakah ini bukan sebuah ironi dari niatan awal Aa?” Saya berharap Aa mau buka suara.

Aa punya tanggapan terhadap pendapat saya?” kali ini saya bertanya dengan sedikit memaksa.

Aa Gym bersiap menjawab. Saat yang bersamaan, terdengar suara adzan. Aa tak jadi menjawab. Saya terbangun. Suara adzan Subuh mengumandang. Tersadar kalau yang tadi itu cuma mimpi. Terheran-heran saya, kok bisa-bisanya mimpi ketemu Aa Gym. Kok bisa-bisanya saya malah “menceramahi” ustadz. Tentang poligami dan cerai pula! Bukankah poligami dan cerai itu juga masuk ranah pribadi?

Tapi namanya juga mimpi. Cuma bunga tidur. Tak usahlah dianggap serius.

 

Banyumanik, 22 Januari 2011

One Comment leave one →
  1. esta saviantara permalink
    Februari 17, 2011 12:57 pm

    ini jawaban aa :
    islam memperbolehkan. jadi saya punya alasan buat mengawini maupun menceraikan, meskipun bercerai dimurkai Allah.

    esta melotot : ..huh! lagi-lagi Islam hanya dijadikan alasan pembenar buat kawin lagi.

    [FS] bukan jadi alasan pembenar, tapi memang dibenarkan khan dalam Islam?
    Masalahnya, poligami ini bukan issue populer buat perempuan. Apalagi jika merujuknya pada perasaan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: