Skip to content

MENGINAP DI GELORA BUNG KARNO

Desember 27, 2010

Gelora Bung Karno (taken from id.wikipedia.org)

Di Piala AFF 2010 sekarang, betapa beratnya perjuangan masuk stadion. Harus antri dari dinihari, ada yang menginap di stadion dengan tenda, bahkan harus beradu mulut, adu dorong, dan adu pukul demi tiket masuk stadion. Melihat hal itu semua, saya jadi merasa sebagai orang yang beruntung! Saya beruntung karena pernah masuk stadion yang dulu disebut Stadion Utama Senayan itu. Jika para suporter sepakbola berada di sana selama sekitar 3-4 jam, saya ada di sana selama 4 hari! Jika para supporter harus antri lama agar bisa duduk dan berjingkat-jingkat di bangku penonton, saya tanpa perlu antri bisa masuk dengan mudahnya dan malah bisa mandi, tidur dan menginap di sana. Bukan di luar stadion, tapi di dalam stadion!

Ceritanya, dulu saya ikut bergabung dengan marching band kampus. Saat itu tahun 1997, marching band kampus ikut Grand Prix Marching Band yang reguler diadakan setiap tahun di Istora Senayan. Lazimnya kegiatan kampus, masalah utama adalah pendanaan. Tidak seperti marching band yang disokong oleh perusahaan-perusahaan besar, marching band kampus harus mencari dana secara mandiri. Hemat dan kreativitas adalah kata kuncinya.

Demi menghemat biaya, muncullah ide “kreatif” untuk menginap di Gelora Bung Karno. Dengan menginap di stadion sepakbola ini, biaya transportasi bisa dihilangkan. Pergi ke tempat lomba, di Istora Senayan, cukup dengan berjalan kaki. Tidak perlu menyewa bus untuk membawa rombongan marching band yang jumlahnya sekitar 100 orang lebih. Tak perlu pula repot pergi jauh-jauh mencari tempat latihan. Latihan bisa dilakukan di area luar stadion yang biasa dipakai untuk jogging track. Walau sempat kesulitan karena bangunan stadion yang berbentuk lingkaran menyebabkan kami kadang bingung dalam membentuk formasi. Tapi benefitnya, tak perlu menyewa bis untuk pergi ke tempat latihan dan bisa hemat biaya sewa gedung latihan.

Lalu dimana saya dan teman-teman menginap? Gelora Bung Karno mempunyai pintu-pintu yang diberi nama sesuai dengan warnanya. Kami masuk dari pintu merah. Jika masuk dari pintu merah ini, maka akan langsung bertemu dengan sudut lapangan, tempat biasanya dilakukannya corner kick. Saat masuk, saya baru bisa merasakan kemegahan stadion sepakbola terbesar di Indonesia ini. Dari sudut lapangan, saya bisa memandang ke segala penjuru stadion. Benar-benar besar, megah, dan mengagumkan! Dari sudut lapangan berbelok ke kiri ada jalan menurun yang letaknya lebih rendah atau di bawah level lapangan bola. Ruangan underground, kelihatannya berfungsi sebagai tempat ruang ganti pemain.  Di situlah kami menginap!

Ada 2 ruangan yang cukup besar yang digunakan untuk para peserta laki-laki dan perempuan. Di depan ruangan ada area kosong yang kadang kami pakai untuk latihan formasi dalam skala kecil. Tiap ruangan dilengkapi dengan toilet dan kamar mandi. Ada 2 atau 3 toilet kalau saya tidak salah saat itu yang letaknya bersebelahan. Sedangkan kamar mandinya adalah ruangan luas dengan sekitar 8 shower di sisi kiri dan kanannya. Jadi kalau mandi, ya….bisa rame-rame berlima belas sekaligus! Kebayang gimana serunya tuh J. Ruangan untuk tidur cukup luas karena toh akhirnya bisa menampung sekitar lebih dari 50 orang. Bisa dibayangkan jika 50 orang tidur dalam ruangan, terjadi banyak “keriuhan”. Mulai dari yang jail ngusilin teman yang lagi tidur, gangguan suara orang ngorok, suara kentut sampai yang protes karena diterjang kaki temannya yang tidurnya lasak kayak ikan belingsatan mencari air. Jelas aja, wong posisi tidurnya aja mirip sate yang dijejer-jejer. Pengalaman seru dan unik tidak akan saya dapat jika menginap di hotel.

Jika sedang tidak ada latihan, saya sering duduk di luar stadion sekedar mencari udara segar, menghilangkan kepenatan latihan, atau hanya sekedar duduk-duduk sambil melihat orang jogging yang seolah tiada henti mulai dari pagi, siang, dan malam. Hal mengasyikkan lainnya adalah mencari makanan murah meriah di sekitar stadion untuk mengganjal perut. Atau hanya sekedar cari minuman. Dari sini pula saya tahu kalau salah satu penjual minuman di sekitar stadion adalah mantan atlet atletik nasional.

Karena keterbatasan, kami memang tak seperti peserta Grand Prix Marching Band lain yang datang dengan bus-bus besar dan bagus. Kami juga tak peserta lain yang mampu menginap di hotel mewah dan berbintang. Tapi dengan segala leterbatasan itu, saya justru merasa kaya. Kaya dengan pengalaman hidup yang lebih berwarna. Sekarang saya justru berasa lebih “beruntung” karena saya adalah bagian dari sedikit orang yang pernah mengalami pengalaman seru menginap di stadion sepakbola kebanggaan Indonesia ini.

Apa yang terjadi di masa lalu sesungguhnya adalah rangkaian episode kehidupan yang sangat berharga. Saya percaya, kesusahan, kesulitan hidup, tantangan, perjuangan, atau bahkan pengalaman pahit yang dialami sekarang adalah pengalaman berharga yang kelak menjadi cerita indah yang tidak akan dilupakan dan akan selalu dikenang di kemudian hari.

 

Banyumanik, 25 Desember 2010

3 Komentar leave one →
  1. Fadhil Ali permalink
    Desember 29, 2010 10:21 pm

    Hahh??? Mas pernah jadi anggota MB juga ya? Pernah ikut GPMB juga thn 97? Saya ikut thn 2000, waktu itu saya masih SMP :0

    [FS] Benar, saya jadi koordinator untuk Brass Section dan jadi Manajer Pelatihan. Salah satu tugasnya membuat format display termasuk formasi display tahun 97. Saya ikut GPMB tahun 94, 95, dan 97. Tahun 97 GPMB terakhir saya, karena setelah itu fokus kuliah biar cepat lulus🙂 Fadhil ikut MB juga ya….berarti kegiatan hampir sama juga ya…

  2. Fadhil Ali permalink
    Desember 31, 2010 8:03 pm

    Yup!! Tahun 99, krn GPMB nggak diadain, saya ikut Bandung Open Marching Band (BOMB). Waktu itu sayu masih kelas 1 SMP. Selepas ikutan GPMB 2000, saya terpilih menjadi staf pelatihan perkusi. Nggak kebayang, waktu itu kan saya masih kelas 2 SMP, dan sudah harus bisa memimpin anggota yang kebanyakan anak SMA! Mental dan kedisiplinan saya benar-benar diuji, tahu sendiri kan kalau anak-anak MB itu godokannya keras banget.
    Syukur alhamdulillah, dari sana saya belajar banyak hal, yang berguna untuk sikap saya ke depannya.

    [FS] Yup, setuju! Saya juga banyak mendapat manfaat dari aktivitas tsb terutama terkait dengan pekerjaan saya sekarang dimana saya harus memimpin banyak orang.

  3. Januari 1, 2011 7:14 pm

    Katanya GBK masih kalah besar sama Bukit Jalil?

    [FS] Ya, anda benar. Awalnya kapasitas GBK sekitar 100.000 penonton, namun setelah renovasi tahun 2007, kapasitasnya berkurang menjadi 88.000 penonton. Sedangkan Bukit Jalil sekarang berkapasitas 110.000 penonton. Terima kasih koreksinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: