Skip to content

PERASAAN VS ETIKA

Desember 20, 2010

Baru-baru ini saya seperti “terteror”. “Terteror” oleh sms yang bolak-balik dikirimkan oleh bekas operator yang dulu pernah bekerja di perusahaan tempat saya bekerja. Tak peduli pagi, siang, malam, ia berkali-kali mengirimi saya sms. Satu hari tidak cukup satu sms, bisa beberapa sms. Bahkan ada sms yang dikirim tengah malam. Isinya, ia minta agar ia bisa diterima kembali bekerja!

Dulu, saat masih bekerja, ia karyawan yang baik. Minimal nggak macam-macamlah. Seingat saya, ia bahkan sempat naik level karena skillnya mengalami peningkatan. Atasannya suka pada kinerjanya dan percaya pada kemampuannya. Sampai suatu saat, ia tidak masuk tanpa memberi kabar. Tak tanggung-tanggung, ia mangkir kerja selama 7 hari berturut-turut. Sesuai peraturan perusahaan, hal demikian sudah masuk pelanggaran berat. Department Head langsung bertindak tegas, menganggapnya mengundurkan diri. Lugasnya, ia diberhentikan dengan tidak hormat.  Kasarnya, ia dipecat!

Selidik punya selidik, saat ia berhasil dihubungi, ia menjawab kalau saat itu ia telah diterima di perusahaan lain. Mungkin dengan tawaran gaji yang lebih baik. Saat saya yang dilapori oleh Department Head mengenai hal ini, saya menyayangkan cara ia keluar. Jika diterima di perusahaan lain, bukankah bisa mengajukan surat pengunduran diri secara baik-baik? Seperti kata orang di kampung saya di Sumatera, “datang tampak muka, pergi tampak punggung”. Kita diterima bekerja di perusahaan dengan cara baik-baik dan keluar juga harus dengan cara yang baik pula. Prinsip ini harus dipegang teguh oleh semua karyawan, di mana pun kita bekerja. Selain terkait etika, kita tidak pernah tahu perjalanan karir kita. Suatu waktu, bisa jadi kita masih terkait langsung atau tidak langsung dengan perusahaan yang lama.

Ternyata perjalanan karir si operator itu tidak seperti yang diharapkan. Ia berpindah-pindah kerja. Saya dengar, ia sempat bekerja di perusahaan yang kemudian bangkrut dan tutup. Akhirnya, sekarang ia jadi pengangguran, jobless. Perusahaan tempat saya bekerja sedang dalam tahap perluasan dan ekspansi sehingga membutuhkan tenaga kerja baru. Si operator yang sedang jobless ingin kembali bekerja di perusahaan saya sekarang. Ia sempat menelpon saya, meminta bantuan saya agar bisa dibantu untuk diterima bekerja. Jawaban saya, tidak ada pelamar yang diistimewakan. Semua pelamar akan diseleksi terlebih dahulu. Pada prakteknya, saya tidak pernah terlibat langsung untuk perekrutran operator karena ditangani langsung oleh Department Head.

Si operator tak menyerah. Saya dihujani oleh sms yang bertubi-tubi walau tak satupun yang saya balas. Lewat sms-nya ia menceritakan betapa menyedihkan kondisinya sekarang. Ia pengangguran, betul-betul kesulitan uang. Saking sulitnya, ia tidak mampu membuat akte kelahiran untuk anaknya yang sudah berumur 3 tahun. Keluarganya tercerai berai. Ia terpisah, tak serumah lagi dengan istrinya. Anaknya ditinggal di desa sedangkan ia harus kos. Ia memohon, memelas, meminta belas kasihan saya. Ia bertanya, apa yang harus dilakukan agar diterima. Ia berjanji merubah sikap dan akan melakukan apapun jika diterima bekerja kembali. Jujur, perasaan saya iba kepadanya. Saya bisa merasakan pahitnya kehidupan yang ia alami. Saya pun bisa maklum jika ia ingin diterima bekerja. Saya bersimpati padanya. Perasaan saya menganjurkan agar menerimanya kembali bekerja.

Jika saya menerimanya kembali bekerja, lalu bagaimana tanggapan para karyawan terhadap keputusan saya? Tentu mereka akan mempertanyakan. Saya berulang kali menekankan tentang disiplin tapi kok malah menerima karyawan yang terbukti tidak disiplin? Bagaimana pula saya bisa menjelaskan, karyawan yang dipecat kok bisa diterima kembali bekerja? Jika begini, segala macam peraturan akan menjadi pepesan kosong, kehilangan makna dan wibawa. Karyawan akan menganggap saya inkonsisten dan bisa tidak percaya lagi. Sesuatu yang mahal sekali karena betapa sulitnya meraih kepercayaan. Di lain pihak, proses rekrutmen ditangani langsung oleh Departemen Head sehingga adalah tindakan tidak fair jika saya mengistimewakan seseorang. Saya berkesimpulan, keputusan menerima si operator bisa memberi dampak negatif di semua departemen dalam divisi saya sehingga jawaban saya adalah; tidak!

Semoga kita semua tetap menjunjung tinggi etika kerja apapun jabatan kita, kapanpun, dan dimanapun kita bekerja!

 

Banyumanik, 19 Desember 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: