Skip to content

KAKI DAN OPERATOR

Oktober 21, 2010
tags:

taken from situsbina.wordpress.com

Pertengahan September lalu, kaki kiri saya memar. Memar karena terjatuh dari motor akibat ulah pengendara motor yang nekat menyeberang jalan tiba-tiba. Memar itu memberikan rasa sakit pada anggota tubuh yang menopang badan saya itu. Karena berfungsi sebagai penopang tubuh, setiap kali berdiri dan berjalan rasa nyeri kadang menyertai.

Saya pikir-pikir, jadi kaki itu banyak nggak enaknya kali. Letaknya paling bawah. Kalau ada paku di jalan, kakilah yang pertama merasakan sakit. Walaupun beralas sandal atau sepatu, jika tembus, kaki lebih dulu merasa tersakiti dibanding anggota tubuh yang lain. Kalau ada kotoran yang terinjak, kaki juga yang merasakan lebih dulu. Kalau ada kulit pisang yang terinjak, kaki juga yang disalahkan.

Secara status, kaki itu berstatus rendahan. Selain itu, kaki berkonotasi kurang sopan. Kalau memberi pasti lebih sopan dengan tangan khan? Apa ada yang berani memberi dengan kaki? Karena berstatus rendahan, maka menjadi korban atau dikorbankan adalah hal yang akrab atau layak diterima oleh kaki.

Manusia juga suka diskriminatif terhadap kaki. Lebih sering manusia membasuh tangan dibanding membasuh kaki. Dalam hal kebersihan, tangan jauh lebih diperhatikan karena tangan pasti lebih bersih dibanding kaki. Kaki memang diberi pelindung, yaitu kaos kaki dan sepatu. Pertanyaannya, seberapa sering pelindung kaki itu dibersihkan? Seberapa sering kaos kaki diganti dan seberapa sering sepatu dijemur atau dicuci? Efeknya, muncullah aroma yang disebut bau kaki.  Jadi sudah sering disakiti, disalahkan, berstatus rendahan, dan berbau pula. Kasihan nian!

Tapi kebanyakan manusia relatif tidak terganggu dengan bau kaki dibanding jika tangannya yang berbau. Ini bukti diskrimatif nyata yang dilakukan manusia terhadap kaki! Ditambah lagi, banyak orang merasa tak berdosa menutupi kaki dengan kaos kaki yang bolong di sana-sini. Ini bukti tambahan lain tentang diskriminasi terhadap kaki. Diskriminasi, kurang (atau tidak) diperhatikan seolah menjadi takdir dari kaki.

Padahal secara fungsi, kakilah yang menopang tegaknya tubuh manusia. Tenaganya kuat. Ia mampu menopang tubuh, berjalan, berlari, mengayuh, membawa tubuh berpindah dan bergerak. Bayangkan tubuh tanpa kaki. Fungsi penopang tidak sempurna, kestabilan tubuh terganggu, dan pergerakan juga terhambat. Tapi di dunia ini, antara fungsi dan perlakuan tidak selalu linear. Jangan-jangan, memang sudah takdir kaki harus begitu.

***

Awal Oktober lalu saya diundang oleh salah satu departemen di Divisi saya menghadiri acara halal bi halal. Acara diadakan secara sederhana saat jam istirahat di shop floor.  Saat datang, saya dipersilahkan duduk di atas tikar yang dibentangkan di lantai produksi. Saya bergabung dengan karyawan, para operator.

Saat berkumpul itu terpikir oleh saya, sesungguhnya para operator inilah “kaki” bagi perusahaan. Mereka ini bertenaga kuat. Secara fisik, mereka bekerja dengan tenaga yang lebih terkuras Mereka berkeringat dalam arti yang sebenarnya. Merekalah yang menentukan pergerakan dan menopang berdirinya perusahaan seperti layaknya kaki yang menopang tubuh manusia.

Terpikir juga oleh saya, apakah para operator ini juga bernasib sama dengan kaki seperti cerita di atas? Lalu bagaimana cara pandang kita para pimpinan, apakah saya termasuk golongan manusia yang memandang kaki rendahan, tak memperhatikan kaki, sering menyakiti kaki, atau saya termasuk manusia yang memandang kaki sama dengan anggota tubuh lainnya dan tak berprilaku diskrimintif?

Saat acara doa, saya berdoa semoga saya masuk golongan kedua. Kenapa semoga? Karena bisa jadi saya pernah masuk jadi golongan yang pertama. Saya berdoa semoga para operator ini tidak bernasib sama dengan kaki. Sebagai pimpinan, saya banyak dibantu oleh mereka. Sesungguhnya, saya harus banyak berterima kasih kepada para “kaki” ini.

 

Banyumanik, 12 Oktober, 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: