Skip to content

EPISODE PERPISAHAN AKHIR SEPTEMBER

Oktober 13, 2010

Rabu, 22 September 2010. Jam menunjukkan 05.15 pagi. Kereta Argo Sindoro akan berangkat jam 05.30. Sambil menunggu kereta berangkat, saya duduk di bangku tunggu stasiun. Daripada bengong, saya perhatikan keadaan sekitar. Terlihat sepasang manusia berbeda jenis sedang berangkulan. Yang cowok berbadan gemuk sedang yang cewek padat berisi. Ini mungkin tanda-tanda kalau Indonesia sudah makmur sejahtera sehingga rakyatnya mampu membeli makanan banyak lemak sebagai pengganjal perut. Keduanya seperti enggan berpisah. Si cowok akan berangkat ke Jakarta. “Jangan takut Sayang, Kanda khan kembali”, begitu kali kata cowoknya (saya sih sok tahu aja).

Di sebelah saya, seorang bapak yang beberapa tahun lebih tua dari saya (saya sih masih sok tahu), berbadan besar gemuk sedang bercengkerama dengan putranya yang juga gemuk. Kehangatan canda bapak-anak itu disaksikan istrinya yang juga gemuk. Tuh khan benar pendapat saya, gemuk itu satu indikasi Indonesia sejahtera karena pendapatan per kapita rakyatnya sudah meningkat mirip jualan kecap para politisi saat kampanye tentang Indonesia yang sejahtera. Perkara kesejahteraan itu sudah merata atau belum, itu hal lain.

Saya perhatikan, si bapak sangat memanfaatkan waktunya untuk si anak. Dugaan saya yang sok tahu ini, si bapak ini bekerja di Jakarta. Libur Lebaran telah habis sehingga ia harus berpisah kembali dengan keluarga. Saya membayangkan, pastilah selama liburan si bapak memanfaatkan benar waktunya yang terbatas itu untuk keluarganya. Orang yang sudah tahu kapan ia akan berpisah, warasnya, pasti akan memanfaatkan waktunya yang terbatas semaksimal mungkin.

Saya melihat diri saya sendiri. Setiap hari bertemu dengan keluarga, apakah sudah memaksimalkan waktu seperti si bapak itu? Atau malah banyak yang tersia-sia? Sebagai manusia, seandainya kita tahu tanggal, bulan dan tahun serta jam kita akan meninggal, warasnya, pastilah kita akan lebih banyak beramal dan memanfaatkan kehidupan ini.

***

Kamis, 23 September 2010, sore hari. Hari itu, salah seorang rekan kerja di kantor sibuk berkeliling menghampiri para rekan kerja lainnya satu per satu. Hari itu adalah hari terakhirnya bekerja, Ia akan pindah ke perusahaan lain yang menawarkan rejeki lebih baik. Dalam beberapa bulan terakhir saya seperti ditinggalkan beberapa rekan kerja saya. Ada yang resign karena alasan kesehatan, ada yang karena ingin fokus mengurus keluarga, ada yang karena ingin mengurus ibunya yang sakit (sungguh mulianya), atau karena ingin mencoba peruntungan di tempat lain.

Di hari terakhirnya bekerja, saat bertemu kami berpelukan, saling meminta maaf dan saling mengucapkan terima kasih. Sesaat kemudian saya termenung sejenak. Kita pasti akan berpisah dengan harta, jabatan, kekuasaan, anak, istri, orang tua, saudara entah itu berpisah sementara atau selamanya. Tak elok menyesalkan mengapa perpisahan terjadi namun jauh lebih penting bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi perpisahan. Dalam hidup, perpisahan adalah keniscayaan.

***

Senin, 26 September 2010, jam setengah 7 pagi. Saya sudah di Bandara Ahmad Yani Semarang mengantarkan kedua orang tua yang akan kembali ke Padang. Sudah hampir sebulan mereka berkumpul dengan saya di Semarang dan adik-adik saya di Yogya. Mereka berlebaran dengan anak dan cucunya sekaligus melepas rindu.

Jam 7 kurang, saya memeluk kedua orang tua saya. Setelah mencium tangan dan berpamitan, saya iringi mereka masuk ke dalam bandara. Saya tatap sosok kedua orang yang membesarkan saya itu masuk ke ruang bandara. Dari jauh, terlihat mereka tak lagi segagah dulu. Umur tak mampu mereka lawan. Dengan segala keterbatasannya, hanya semangat dan kasih sayang mereka saja yang menguatkan mereka untuk terbang ribuan kilometer menjumpai anak dan cucunya.

Belum banyak hal yang bisa saya lakukan pada kedua orang yang banyak berjasa pada saya itu. Saya memohon semoga ALLAH memberikan balasan setimpal atas segala amalan mereka. Dan semoga ALLAH memberi mereka surga.

 

Banyumanik, 10 Oktober 2010

2 Komentar leave one →
  1. inz permalink
    Oktober 13, 2010 4:44 pm

    dan rasa iri muncul dalam diri, ketika menyadari saya tak lagi bisa melihat sosok kedua orang tua yang (tak lagi segagah dulu)…

  2. Fadhly Syofian permalink*
    Oktober 14, 2010 5:01 pm

    saya yakin hal seperti itu tidaklah mudah, tapi cepat atau lambat semua manusia akan mengalami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: