Skip to content

TAKBIR SYUKUR HARI RAYA

September 10, 2010

Selalu saja ada yang istimewa bagi saya jika Hari Raya tiba. Tidak terkait dengan baju baru atau kue-kue Lebaran, tapi saya selalu merasa tergetar ketika mendengar suara takbir. Teringat saat kecil dulu, selain membantu ibu menyiapkan kue lebaran atau menata karpet yang khusus dikeluarkan jika Hari Raya tiba, jika malam Hari Raya, saya dan teman-teman kecil berkeliling komplek untuk menggemakan takbir dengan naik sepeda. Saya sangat menyenangi suara takbir dan suasana special yang ditimbulkannya. Apalagi jika yang mengumandangkan seorang yang bersuara merdu dan fasih melagukan Al Quran. Sungguh menggetarkan hati. Saat saya menulis artikel ini, tengah malam, suara takbir dari mushalla dekat rumah masih bergema. Walaupun nadanya fals dan lafadz takbir yang diucapkan tidaklah fasih benar, tapi lumayanlah pikir saya.

Tidak banyak yang ingin saya tulis lewat artikel ini. Tidak ada hal lain yang saya rasakan di malam takbir ini kecuali rasa syukur yang saya panjatkan kehadirat Ilahi. Syukur bahwa saya bisa menyelesaikan Ramadhan dengan segala godaan dan tantangannya. Syukur karena si kecil yang masih kelas 1 SD mampu menyelesaikan puasanya 1 bulan penuh tanpa ada bolongnya. Sebuah kebahagian tersendiri bagi saya. Syukur saya bisa menyambut dan melaksanakan bulan Ramadhan dengan kesederhaan tanpa berlebih-lebihan. Syukur karena saya diberi tambahan rejeki menjelang Lebaran kali ini.

Saya pun bersyukur, hand phone saya banyak berisikan sms selamat Lebaran dan permohonan maaf. Ada sms yang bertuliskan huruf Arab tapi terpisah semua, tidak ada yang tersambung. Lucunya lagi, tulisan Arab itu tapi harus dibaca dari kiri! Tapi saya bersyukur masih banyak orang yang ingat kepada saya. Orang-orang ini meluangkan waktunya, merelakan beberapa rupiah untuk mengirim sms kepada saya. Sungguh sebuah penghargaan kepada saya. Syukur bahwa saya masih diberi umur untuk menyambut Lebaran kali ini sehingga masih berkesempatan untuk bermohon maaf kepada orang tua, keluarga, sanak famili, rekan kerja, tetangga, dan teman sejawat. Syukur bahwa saya pun bisa membuka pintu maaf atas kesalahan orang lain.

Maaf adalah hal yang terkait dengan kesalahan. Kesalahan yang bisa disengaja atau tidak sengaja dibuat. Kesalahan bisa terkait dengan dosa. Maka memohon maaf yang layaknya sudah menjadi ritual dan tradisi Lebaran, sejatinya bermakna lebih dalam dari itu. Memohon maaf sebenarnya juga memohon ampun atas segala dosa. Memohon ampunan karena ingin agar dosa-dosa itu terhapus, Kalau dosa terhapus, harapannya timbangan pahala akan lebih berat saat yaumul hisab sehingga kita bisa masuk surga. Jadi makna lebih dalam dari memohon maaf adalah agar kita bisa masuk surga.

Jika Idul Fitri berarti kembali pada fitrah, maka idul fitri bisa didefinisikan sebagai kembalinya manusia pada fitrahnya yaitu kesuciannya sebagaimana saat manusia itu dilahirkan. Menurut Quraish Shihab, makna Idul Fitri adalah keterbebasan manusia dari dosa dan noda sehingga dengan demikian manusia kembali berada dalam kesucian.

Sungguh saya memimpikan dan memohon hal tersebut terjadi pada diri saya. Sungguh saya ingin menikmati Lebaran kali ini dengan bersyukur.

Dari mushalla dekat rumah, gema takbir fals masih berkumandang pelan. Mungkin sudah capek. Maklumlah, jam sudah menunjukkan jam 02.30 dini hari.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan bathin.

Allaahu akbar, allaahu akbar
Laa ilaaha ilallah wa allaahu akbar
Allaahu akbar wa lillaa ilhamd

 

Banyumanik, 1 Syawal 1431 H/10 September 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: