Skip to content

RELATIVITAS TIDAK PENTING

September 6, 2010
tags:

Wisnu Nugroho (kanan)

Sabtu, 4 September 2010, sekitar jam 4 lewat saya mampir ke Gramedia Pandanaran Semarang. Hari itu, dari kantor (duh…lagi-lagi saya harus mengorbankan waktu keluarga demi kantor. Entah untuk keberapa kalinya. Saya memang bukan contoh yang baik tentang bagaimana berlaku adil), saya memang menyempatkan ke Gramedia sebentar untuk kemudian berbuka puasa di rumah. Selama hari kerja Senin-Jumat tidak ada kesempatan untuk buka puasa bersama di rumah karena rute kantor ke rumah saat sore hari bisa memakan waktu 1 jam. Saya lebih berpotensi berbuka di jalan daripada di rumah. 

Jikalau hari itu saya ke Gramedia, itu dengan dua tujuan. Pertama, saya bermaksud mencari majalah untuk memastikan apakah artikel saya sudah dimuat atau belum. Pihak majalah menjanjikan artikel saya akan dimuat di edisi September. Saya merasa perlu untuk mengecek majalah, karena honor tulisan dibayar jika majalah sudah terbit. Jadi ini memang terkait dengan uang. Lumayanlah untuk nambah-nambah THR…hehe. Alasan kedua, saya berencana mencari buku yang ditulis Trinity, Tersesat di Byzantium, buku traveling yang ditulis dalam bentuk komik. Begitu rencana awalnya. 

Sebagaimana lazimnya kekuatan manusia yang hanya bisa berencana, kuasa akhir tetap di tangan Tuhan. Majalah bulanan yang saya cari tidak ada, buku Tersesat di Byzantium juga habis, dan saya gagal buka puasa di rumah. Penyebabnya, saat sampai di lantai 1 Gramedia, dari pengeras suara terdengar ada acara bedah buku. Saat disebut nama pengarangnya, Wisnu Nugroho, saya bergegas ke lantai 2. 

Acara baru dimulai kelihatannya. Saya duduk di deretan kursi depan yang masih kosong (mengapa ya kalau ada acara-acara, kursi depan selalu masih kosong sementara kursi belakang sudah penuh. Sepertinya orang-orang punya paranoid duduk di depan. Nggak percaya? Perhatiin, deh. Dulu saat sekolah banyak yang males duduk di depan karena nggak bisa ngobrol, takut ditanya, dan kalau nggak buat PR ketahuannya paling cepat). Yang dibedah adalah buku Pak Beye dan Istananya. Ditulis oleh Wisnu Nugroho, wartawan harian Kompas yang pernah bertugas di Istana Negara. Saya sudah membaca buku ini. Karena menurut saya buku ini bagus, maka saya bergegas saat tahu ada bedah buku ini. 

Buku berjudul Pak Beye dan Istananya

Pak Beye dan Istananya adalah buku pertama dari tetralogi tentang Pak Beye. Pak Beye itu adalah SBY, presiden RI sekarang. Tidak seperti buku-buku tentang SBY yang pernah ditulis dan diterbitkan, buku Wisnu Nugroho ini terasa lain. Lain karena memaparkan hal-hal remeh-temeh yang mungkin nggak penting. Ini diakui Wisnu yang berulang kali mengucap kata nggak penting untuk buku ini. 

Contoh hal yang diceritakan, SBY yang dulu punya tahi lalat dikening bagian kanan, namun sejak pemilu 2009 tahi lalat itu sudah hilang. Nggak penting khan? Wisnu juga bercerita tentang mikrolet dan metromini yang tiba-tiba bisa masuk istana, padahal di hari biasa, jangankan mikrolet, taksi saja tidak boleh. Apakah seperti ini penting? Atau buku juga bercerita tentang SBY yang doyan tahu Sumedang, soto ayam, dan punya tukang pijit khusus. Pentingkah? 

Saat ditanya peserta tentang tanggapan SBY terhadap buku ini, Wisnu menjawab, “Apalah pentingnya sehingga SBY harus menanggapi buku yang tidak penting ini. Saya juga bukan siapa-siapa, bukan orang penting yang mengharuskan orang sepenting SBY menanggapi tulisan saya. Lagi pula masih banyak masalah penting yang harus ditanggapi SBY daripada menanggapi buku saya yang berisi hal-hal yang tidak penting.” 

Tapi di sinilah teori relativitas berlaku (ini teori relativitas versi saya bukan versi Einstein). Bahwa penting dan tidak penting itu relatif. Hal-hal yang dianggap tidak penting, bisa jadi menjadi sangat penting karena itu menyangkut kehidupan seorang presiden. Bahwa penting dan tidak penting itu terkait dengan asumsi, tafsiran, dan selera. Faktanya, yang menurut Wisnu tidak penting ternyata bukunya laris manis dan menjadi best seller

Saya jadi berpikir, kalau hal-hal tidak penting bisa dibuat buku dan laku, hal tidak penting dari saya kalau dibukukan mungkin bisa jadi best seller. Cuma masalahnya saya ini bukan orang penting apalagi seorang presiden. Jadi mau ngapain aja, ya terserah lu. Emangnya lu siapa? Begitu kali kata orang. 

Di akhir acara, Gramedia memberikan saya hadiah karena saya mengajukan pertanyaan. Padahal pertanyaan saya tidak penting lho! Tapi Gramedia merasa penting memberi saya sesuatu. Saat saya buka, hadiahnya adalah 1 lembar kartu pos, 1 buah pembatas buku, 1 buah katalog buku-buku Kompas, 1 buku Daftar Harga Fiksi, 1 buku Daftar Harga Non Fiksi, dan 1 buku tentang Financial Independence. Hadiah yang agak mengecewakan saya karena menurut saya tidak begitu penting. Tapi saya yakin, semua hadiah itu sangatlah penting bagi Gramedia. Buktinya, semuanya diberikan ke saya cuma-cuma. 

Artikel ini saya buat dengan sungguh-sungguh dengan mencurahkan isi pikiran saya disertai dengan mencari tambahan referensi dari buku dan internet. Jadi ini tulisan penting, menurut saya. Tapi karena relativitas, mungkin artikel ini tidaklah penting bagi kebanyakan orang. Untuk itu bagi para pengunjung (setia) blog saya yang karena teori relativitas tidak bisa saya sebut banyak atau sedikit, atau bagi para orang yang nyasar ke blog saya dan sempat membaca artikel ini, saya mohon maaf jika waktu anda telah tersita untuk membaca artikel yang relatif tidak penting ini. 

  

Banyumanik, 4 September 2010 

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: