Skip to content

(KARYAWAN) MERDEKA, (SAYA) MERDEKA…

Agustus 17, 2010
tags:

Saat dilakukan penilaian performance kerja, di bagian akhir ditanyakan ke saya hal yang ingin saya sampaikan atau saya harapkan. Saya jawab, “Saya ingin kerja jam 07.30 dan pulang jam 16.15, serta libur hari Sabtu dan Minggu.” Jam 07.30-16.15 adalah jam kerja normal, 8 jam sehari, 40 jam kerja seminggu, dan libur hari Sabtu dan Minggu, demikian waktu kerja resmi yang ditetapkan dari kantor. Faktanya, kondisi dan situasi mengharuskan saya sering pulang lebih dari jam kerja normal atau harus masuk kerja hari Sabtu atau di hari libur. Antara harapan dan kenyataan memang tak selalu sama. Waktu bekerja ini adalah salah satu bukti yang terjadi pada diri saya.

Karena manusia itu harus dilihat dari sisi manusiawinya, maka mohon dimaklumi kalau kadang saya “iri” dengan tetangga saya. Bisa jadi saya kadang sedang dijangkiti virus rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Mungkin saja. Tapi saya “iri” melihat tetangga yang bisa punya waktu lebih bebas dibanding saya. Kerjaannya pedagang. Dari sisi waktu ia jauh lebih merdeka dibanding saya.

Pagi hari, ia bisa duduk-duduk santai sambil baca koran sementara saya harus tergesa berangkat kantor. Sudah ada pegawainya yang membeli belanjaan di pasar untuk keperluan jualan. Siang sampai sore hari, saat saya berpeluh di shop floor, ia bisa bersantai di rumahnya karena sudah ada pegawainya yang memasak jualannya. Ia hanya membantu mengemas kotak makanan untuk keperluan pesanan. Malam hari, jika setiba di rumah pikiran saya cuma ingin istirahat, tetangga saya itu masih bisa kongkow di teras rumah ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-temannya. Sekali lagi, rumput tetangga memang lebih hijau dibanding rumput halaman sendiri! Ini juga sisi manusiawi dari manusia.

Saat SD dulu, saya sempat diberi pelajaran PSPB, Masih ingat pelajaran ini? Itu lho, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Nah, menurut pelajaran PSPB, merdeka itu artinya bebas dari penjajah. Jadi suatu saat, saya ingin merdeka untuk mengatur waktu saya sehingga tidak selalu dijajah oleh pekerjaan. Karena kalau dihitung-hitung, waktu saya untuk pekerjaan jauh lebih banyak dibanding waktu untuk keluarga. Belum lagi jika harus menilep jatah waktu keluarga berhubung harus masuk kerja di hari yang seharusnya menjadi jatah libur. Ini baru untuk keluarga. Kalau pertanyaannya, berapa waktu yang saya alokasikan untuk Tuhan,….wah nggak usah dijawab deh karena makin nyata dan makin berasa berdosa rasanya.

Ngomong-ngomong tentang waktu yang terjajah, bisa jadi karyawan di departemen saya punya perasaan yang sama dengan saya. Soalnya mereka juga sering kerja sampai malam, lebih malam dari saya. Juga sering masuk kerja hari libur, lebih sering dari saya. Kalau saya merasa terjajah oleh waktu, bisa jadi karyawan di departemen saya merasa dijajah oleh saya. Soalnya, instruksi kerja lembur dan masuk hari libur bisa jadi berasal dari saya.

Maka keinginan menjadi manusia merdeka itu selain agar saya bisa lebih adil membagi waktu, juga agar saya merdeka tidak dicap sebagai penjajah waktu oleh karyawan di departemen saya. Sebuah keinginan yang rasanya tidak berlebihan saya panjatkan di Hari Kemerdekaan Indonesia. Ini juga sisi manusiawi dari manusia.

Dirgahayu RI ke-65. Semoga bangsa ini lebih merdeka, rakyatnya merdeka, saya merdeka, dan karyawan saya juga merdeka. Salam merdeka.

 

Banyumanik, 17 Agustus 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: