Skip to content

KETIKA JK MENENTUKAN 1 SYAWAL

Agustus 16, 2010

Di Indonesia, negeri ribuan pulau nan indah dan beragam budaya, negeri kaya tapi miskin karena pelaku pejabat dan cukong yang suka korupsi, jika bulan puasa dan Lebaran tiba, topik yang hangat dibicarakan tidak hanya soal harga sembako yang makin naik tak terkendali. Tidak pula melulu tentang mudik dan tiket mudik yang melambung tinggi. Topik yang juga tak kalah ramai diperbincangkan adalah tentang perbedaan tanggal puasa dan Lebaran. Untuk mencegah perpecahan umat, jauh-jauh hari para ulama sudah mengingatkan bahwa perbedaan mengenai awal puasa dan Hari Raya itu adalah rahmat dan tak perlu dibesar-besarkan. Alhamdulillah, di tahun 2010 ini umat Islam Indonesia bisa berpuasa dan ber-Idul Fitri bersama tanpa adanya perbedaan, setidaknya di kalangan mainstream antara Muhammadiyah dengan Nahdatul Ulama dan Pemerintah.

Namun diskursus tentang perbedaan puasa dan hari raya ini tetaplah menarik untuk diperbincangkan. Apalagi perbedaan tersebut menyangkut 2 organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Yang satu kekeuh menggunakan rukyat dan yang satu lagi tetap menggunakan hisab. Karena masing-masing mempunyai jamaah, maka jamaah NU akan ber-Hari Raya sesuai dengan maklumat NU sedang jamaah Muhammadiyah ber-Hari Raya sesuai dengan hasil hisab Muhammadiyah. Yang tidak masuk dalam jamaah NU dan Muhammadiyah? Ya, suka-suka. Ikut Lebaran NU boleh atau ikut Lebaran Muhammadiyah juga boleh. Toh, tidak ada paksaan karena kebebasan beragama dijamin oleh UUD. Cuma, jika Hari Raya terdapat perbedaan, bisa jadi shalat Ied di lapangan Muhammadiyah suka lebih ramai karena ketambahan kelompok yang senang bisa berlebaran lebih cepat dan mungkin berpuasa lebih sedikit 1 hari dibanding Lebaran versi NU dan pemerintah.

Maka perbincangan mengenai perbedaan waktu puasa dan lebaran ini menjadi perbincangan semua kalangan; tua-muda, kaya-miskin, Islam santri-Islam abangan, rakyat jelata sampai pejabat tinggi. Banyak tulisan di media massa yang mengulas. Banyak pula diskusi-diskusi yang membahas. Kalaupun perbedaan puasa dan Hari Raya dibilang sebagai rahmat, ya itu tadi, rakyat jadi banyak tahu sebab-musabab mengapa terjadi perbedaan. Rakyat juga jadi tahu apa itu rukyat, apa itu hisab. Jadi hitung-hitung nambah ilmu dan pengetahuan lah.

Polemik ini menarik perhatian Jusuf Kalla (JK) yang walaupun ibundanya adalah pengurus Aisyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, ia lebih mengaku sebagai warga NU. Mungkin ia lebih condong ke ayahnya, Haji Kalla, yang pengurus NU Sulawesi Selatan. Saat masih menjabat sebagai Wapres, masalah perbedaan hari raya ini memancing JK berkomentar. Itu saya ketahui dari buku Hamid Awaludin yang berjudul Solusi JK; Logis, Spontan, Tegas, dan Jenaka.

Beberapa tahun lalu, saat ramai dibicarakan apakah Lebaran jatuh hari Senin atau Selasa, JK mengundang para ulama untuk buka puasa di rumahnya. Ia pun bertanya tentang apa itu rukyat dan hisab yang langsung dijawab dengan tangkas oleh ulama. Lalu JK bertanya lagi, kalau mendung apakah bulan baru bisa dilihat dengan cara rukyat. Dan dijawab kalau hal tersebut bisa dilakukan di tempat lain yang tidak mendung.

Lalu sikap asli JK yang di luar dugaan muncul. Perkataan JK berikut, saya kutip sesuai dengan teks dalam buku. JK bertanya, “Tahun 1969, saat Neil Amstrong mendarat di bulan dengan Apollo, apakah itu dengan rukyat atau hisab?” Karena tak ada jawaban, JK melanjutkan, “Saya kira Apollo mendarat di bulan karena teknologi dan teknologi itu adalah hisab atau perhitungan. Nah, kalau manusia bisa mendarat di bulan karena perhitungan, mengapa hanya untuk melihat bulan saja kita tidak menggunakan perhitungan juga. Ini jelas-jelas tidak lagi melihat bulan, tapi sudah sampai di bulan. Dan itu dilakukan dengan perhitungan”.

Kalau saya ingin mencari role model pimpinan yang berpikir out of the box, saya pikir JK adalah salah satunya. Cerita di atas adalah salah satu “kreativitasnya”. Mungkin inilah yang dimaksud bahwa perbedaan itu rahmat. Rahmat untuk memberitahu, antara Apollo dan penentuan 1 Syawal di Indonesia ternyata ada hubungannya!

 

Banyumanik, 15 Agustus 2010

One Comment leave one →
  1. Oktober 1, 2010 11:34 am

    Yup, perbedaan itu adalah rahmat. Alih-alih berpegang pada satu tiang di sudut ruangan, JK memilih untuk berdiri di tengah dan membuka mata lebih lebar, melebarkan telinga untuk lebih mendengar untuk kemudian benar-benar “belajar”. =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: