Skip to content

KISAH POHON BUAH

Agustus 12, 2010
tags:

Gede Prama mengajarkan agar belajarlah dari alam karena alam mengajari kita banyak hal dan alam adalah guru terbaik. “Alam adalah guru kehidupan dalam kontemplasi saya dan di alam saya temukan pembelajaran hidup”, demikian kata Gede Prama. Demi meresapi kata-kata Gede Prama tersebut, saya mencoba memperhatikan alam dan entah mengapa pikiran saya terbawa ke rumah yang saya tempati saat masih kecil dulu. Rumah tinggal yang terletak di desa kecil yang dahulu masuk dalam Kabupaten Aceh Timur (sekarang Aceh Tamiang), Provinsi D.I Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam). Rumah tinggal yang ditempati dengan status pinjaman karena milik perusahaan. Jika pensiun atau meninggal dunia, maka penghuninya harus out dari rumah tersebut. Namun apapun status rumah tersebut bagi saya rumah tersebut adalah rumah istimewa.

Saya sebut istimewa karena rumah jenis panggung tersebut terdapat banyak pohon buah. Di depan rumah ada pohon jeruk Bali yang banyak buahnya. Saya lebih sering menggunakan kulitnya dijadikan mainan mobil-mobilan daripada memakan buahnya. Di sisi samping depan rumah, ada pohon jambu biji. Orang sana lazim menyebutnya jambu kelutuk. Tak jauh dari pohon jambu biji itu ada pohon nangka seberang yang biasa dikenal dengan sirsak. Saat musim panas, sering saya petik buahnya, saya ambil dagingnya yang putih bersih, dimasukkan dalam gelas yang ada es batunya, lalu dikocok-kocok hingga berair. Sungguh segar dimakan saat musim panas. Tak jauh dari pohon sirsak, di dekat pagar rumah berjejer pohon tebu berdiameter 3 cm yang sangat manis. Sering pohon tebu itu saya potong, mengupas kulitnya dengan gigi, lalu mengunyahnya. Rasanya, segar tak terkira.

Di samping belakang rumah, ada pohon jambu biji dan pohon jambu bol. Jika sedang berbuah, tak jarang buah jambu bol ini saya bawa ke sekolah untuk dijual ke teman-teman. Lumayanlah untuk tambahan uang jajan. Daunnya yang masih muda dan lunak kadang suka saya makan dengan sedikit garam atau sebagai bahan tambahan rujak. Dan di belakang rumah terdapat pohon mangga udang yang tinggi besar. Sekeluarga sungguh menikmati jika musim mangga tiba karena selain buahnya besar dan banyak, rasanya juga manis. Keberadaan pohon-pohon aneka rupa itu sungguh memberikan kenikmatan buat saya karena bisa menikmati macam-macam buah tanpa harus keluar uang untuk membeli. 

Maka penghargaan tertinggi harus dilimpahkan pada orang yang telah berjasa menanam pohon-pohon buah itu di rumah saya. Keberadaan pohon-pohon buah itu adalah simbol sebuah proses. Pohon yang tumbuh, berawal dari bibit yang ditanam, disiram, diberi pupuk biar subur, dan dirawat. Memerlukan usaha dan waktu. Jika berhasil, pohon akan berbuah dan bisa dinikmati. Pelajaran dari cerita pohon buah tersebut, ternyata buah pohon tidak hanya bisa dinikmati oleh yang menanam, tapi juga bisa dinikmati oleh orang lain termasuk saya dan keluarga yang tinggal di  rumah itu.

Bagi para rekan-rekan kerja di departemen yang saya pimpin, hasil yang kita dapat sebenarnya adalah proses dari apa kita lakukan. Seperti filosofi alam, jika kita menanam pohon mangga, kita akan menikmati buah mangga. Jika menanam pohon jambu, kita akan menikmati buah jambu. Untuk menikmati buah mangga atau jambu yang besar dan manis, maka pohon harus disiram, diberi pupuk, dan dirawat. Itulah yang disebut bagian dari proses dan usaha. Tidak selamanya pula selalu berhasil. Karenanya butuh waktu dan kesabaran. Pelajaran penting lainnya, kalau pun apa yang kita tanam tidak sempat dinikmati oleh kita, selama itu bermanfaat, hasilnya tetap dapat dinikmati oleh orang lain atau orang-orang setelah kita.

Karena itu teruslah selalu melakukan perbaikan (improvement). Teruslah melakukan perubahan (change) ke arah yang lebih baik karena suatu saat kalian akan memetik hasil dari apa sudah kalian lakukan. Bagi yang tidak melakukan apa-apa, jangan berharap mendapatkan buah jika tidak pernah menanam.

Gede Prama benar, alam sebenarnya mengajarkan banyak hal bagi manusia yang mau berpikir.

 

Mangkang, 11 Agustus 2010

2 Komentar leave one →
  1. Oktober 29, 2010 10:31 pm

    jika kita menamam padi tak jarang rumput liar ikut tumbuh ,itu hal biasa tapi suatu saat kita pasti akan memanen padi .
    Berbeda jika yang kita tanam rumput , bukannya kita akan panen padi malah rumput liar akan semakin banyak di sawah kita.
    Tugas kita untuk membuang rumput liar tersebut agar panen bisa maksimal

    • Fadhly Syofian permalink*
      Oktober 30, 2010 11:55 am

      Halo Dian,
      Apa kabarnya nih?
      Nice words and nice comment. Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: