Skip to content

SYUKUR MASIH HIDUP (2)

Agustus 9, 2010

Senin pagi, 2 Agustus 2010, sekitar jam setengah 11 siang, saya sedang berada di ruang tunggu lantai 4 RSPP Pertamina, Jakarta. Hari itu bapak saya sudah boleh pulang. Alhamdulillah, operasi kakinya berjalan baik dan kakinya yang sebelumnya bengkak, setelah operasi bengkaknya sudah kempes. Sambil menunggu urusan administrasi dan surat pengantar dari dokter yang merawatnya, saya menunggu di ruang tunggu yang nyaman itu. Kebetulan ada saudara yang mau datang membezuk. Saat sedang bersantai menonton TV, hand phone saya berdering. Ternyata dari kantor. Terdengar suara lirih dari seorang Department Head. Dengan suara bergetar ia mengabarkan berita duka. Seorang supervisor di departemen saya meninggal dunia karena kecelakaan. Saya kaget tak percaya. Ini kali kedua dalam 2 hari saya disentak oleh kabar duka.

***

Dikisahkan, Senin pagi itu almarhum meminta ijin datang terlambat masuk kantor karena harus mengurus KTP. Selesai mengurus KTP, almarhum bergegas menuju kantor. Malang tak dapat ditolak, dalam perjalanan menuju kantor terjadi kecelakaan. Motor yang kendarainya menabrak truk. Salah seorang Departemen Head mengecek ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari polisi. Tak lama, istrinya yang kebetulan satu kantor menyusul ke rumah sakit. Di rumah sakit didapati kondisi sang supervisor yang sudah tak bernyawa. Konon, saat ditolong almarhum masih bernyawa namun karena luka di kepala yang cukup parah, ia akhirnya berpulang ke Rahmatullah.

Jika saat perjalanan Semarang – Jakarta pikiran saya tertuju pada teman kuliah yang berpulang, dalam perjalanan dari Jakarta –Semarang, pikiran saya teringat pada rekan kerja yang selama 3 tahun terakhir intens membantu tugas-tugas saya. Ia seorang supervisor yang paling potensial dan bersemangat tinggi. Masih jelas dalam ingatan saya, hari Sabtu, 31 Juli, saya meminta bantuannya mengawasi pekerjaan untuk membantu pencapaian target produksi. Tak disangka, itulah pertemuan terakhir saya dengan almarhum. Tuhan sekali lagi menunjukkan kuasanya. Sekali Tuhan berkehendak, tak sedetik pun makhluknya dapat menghindar. Dan kali ini Tuhan berkehendak untuk memanggil sang supervisor menghadapNya. Istri, keluarga, dan rekan-rekannya hanya bisa pasrah menangisi kepergiannya.

Saya jadi teringat ceramah yang disampaikan di mushalla dekat rumah 2 bulan lalu. Sang ustadz bertanya, apa tujuan hidup kita sebagai manusia? Menurut sang ustadz, tujuan hidup di dunia adalah mempersiapkan bekal yang cukup untuk perjalanan akhir. Bekal itu adalah amal ibadah. Segala aktivitas harus diniatkan sebagai ibadah karena amal ibadah inilah bekal yang diperlukan saat manusia meninggal, berpindah dari alam dunia ke alam barzah. Jika sudah meninggal, sudah tak ada lagi kesempatan untuk menimba amal padahal amal-lah yang akan di-hisab jika yaumul qiyamah tiba.

“Bekerjalah untuk duniamu seolah engkau akan hidup untuk selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari”, demikian bunyi sebuah hadist. Walaupun sebagian kalangan berpendapat hadist ini dhaif (lemah), pesan yang ingin disampaikan adalah beribadahlah selagi ada waktu karena maut bisa datang kapan saja. Kematian adalah sebuah keniscayaan. Pasti akan menjemput manusia, kapan saja, di mana saja, entah dengan cara bagaimana.

Seketika saya kembali bersyukur saya masih hidup. Masih dapat berkumpul dengan keluarga. Masih bisa mohon ampun atas segala kesalahan.  Masih berkesempatan menambah amal. Masih pula bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Kesempatan untuk mempersiapkan bekal. Mumpung masih diberi hidup. Mumpung maut belum datang menjemput.

Selamat beribadah puasa. Semoga ALLAH membuka pintu taubat dan menerima amalan kita.

 

Banyumanik, 7 Agustus 2010

 

This article is dedicated to Moch Hidayat, my partner who passed away on Aug 2, 2010

One Comment leave one →
  1. Yuliadi permalink
    Agustus 11, 2010 10:24 am

    Alhamdulillah temen ku satu ini punya komitmen yang tinggi terhadap “pembelajaran hidup”. Segala yang terjadi di sekeiling kita bisa menjadi i’tibar yang terus membuahkan pelajaran hidup buat kita. Agar kita selalu dan selalu belajar untuk “tujuan hidup” mencapai “keniscayaan”. Selamat bung Fadli, semoga anda bisa terus “belajar” dan menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: