Skip to content

SYUKUR MASIH HIDUP (1)

Agustus 8, 2010

Sabtu, 31 Juli 2010, saya harus masuk kantor. Seharusnya hari itu menjadi hari libur namun hari itu adalah hari terakhir cut off shipment. Berhubung target belum tercapai maka demi memenuhi target yang diinginkan, saya putuskan beberapa departemen yang saya pimpin harus masuk kerja. Biasanya, saya pulang setelah sampai hampir semua departemen selesai.  Tapi tidak pada hari itu. Saat sebagian departemen masih bekerja, saya harus pulang lebih awal. Sabtu sore itu saya harus ke Jakarta melihat keadaan bapak yang diopname setelah menjalani operasi pada kakinya di RSPP Pertamina Jakarta. Jam setengah empat sore lebih sedikit, saya cabut meninggalkan kantor menuju rumah.

***

Setiba di rumah, saya mengecek hand phone. Ada 2 sms masuk. Isi sms membuat saya kaget bukan kepalang. 2 sms itu menginformasikan hal saya sama, teman saya saat kuliah dulu  meninggal dunia! Saya terdiam beberapa saat, seolah tak percaya pada kabar dari sms itu. Selanjutnya, beberapa telepon dan sms masuk beruntun ke hand phone yang isinya mengabarkan hal yang sama. Ingin saya melayat namun saya tak punya banyak waktu karena harus bergegas bersiap diri ke Jakarta.

Saya kenal cukup dekat dengan almarhum demikian pula istrinya karena selain teman kuliah, juga teman main. Setelah lulus, saya lumayan sering bertemu dan almarhum juga pernah singgah ke rumah saya di Semarang. Terakhir, saya bertemu almarhum bulan November tahun lalu, karena saya menyewa mobilnya saat acara nikahan adik saya. Selepas kuliah, almarhum memang membuka usaha rental mobil di Yogyakarta.

Di perjalanan, saya memberitahu beberapa teman lainnya yang langsung bereaksi kaget mendengar kabar tersebut, Saya coba mencari informasi. Dari seorang teman, saya diberitahu kalau almarhum kena serangan jantung. Sabtu pagi almarhum masih beraktivitas seperti biasa. Saat siang hari di rumahnya, tiba-tiba almarhum merasa sesak di dadanya. Istrinya langsung memanggil ambulan. Dalam perjalanan, almarhum menghembus napas terakhirnya, berpulang kehadapan Ilahi.

Dalam perjalanan dari Semarang ke Jakarta, pikiran saya tak bisa lepas dari almarhum. Terbayang oleh saya 2 anaknya yang masih kecil. Terbayang oleh saya, istrinya yang pasti kaget luar biasa ditinggal pergi mendadak oleh sang suami. Pagi hari masih bisa berbicara, bercanda, dan suami masih kelihatan sehat. Siang hari masih pula berjumpa dan berbicara. Lalu dalam beberapa waktu kemudian, suami telah terbaring tak bernyawa dipanggil Sang Kuasa. Umur memang Tuhan yang punya. Dialah penguasa yang menentukan kapan kehidupan harus bermula dan berakhir. Hidup dan mati itu hanya tipis sekali bedanya. Detik ini manusia masih hidup namun sedetik kemudian jika Tuhan sudah menentukan, kematian bisa datang menjemput. Sesungguhnya kehidupan dan kematian adalah bagian dari perjanjian manusia dengan ALLAH. Jika waktunya tiba, tiada seorangpun yang mampu mengelak dari takdirnya.

Dan sebagaimana maksud dari setiap ketetapan Tuhan, setiap peristiwa selalu memberikan hikmah. Bahwa setiap kejadian sebenarnya mengandung pesan dan pelajaran bagi manusia yang mau berpikir. Kabar kematian ini juga memberi pesan kepada saya. Pesan untuk menghargai kehidupan. Saat itu pula saya merasa bersyukur. Bersyukur saya masih hidup!

 

Banyumanik, 7 Agustus 2010

 

This article is dedicated to Zakirudin Affan, my friend who passed away on Jul 31, 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: