Skip to content

LEADERSHIP BY EXAMPLE, LEADERSHIP BY RESPECT

Juli 3, 2010

picture taken from filipinofreethinkers.org

Kadang sebuah petuah harus disampaikan dengan kata-kata dan kalimat panjang. Kadang sebuah pelajaran harus disampaikan dengan nasehat-nasehat yang tak jarang terkesan menggurui. Bicara petuah dan nasehat, ada kalanya kontra-produktif bagi makhluk yang namanya manusia. Maklumlah, mengurus manusia itu taklah gampang. Tak terhitung teori terpapar tentang cara untuk mengatur manusia, makhluk ber-ego yang derajatnya termuliakan karena dianugerahi akal sehingga kecerdasannya tak setara dengan makhluk lain di bumi. Akal dan ego pula yang bisa membuat manusia bertingkah macam-macam, bermulti dimensi menjadi lebih pintar, bengal, bebal, mau menang sendiri, keras kepala, banyak maunya, dan susah diatur.

Namun ada kalanya suatu nasehat atau pelajaran bisa dipetik tanpa kita merasa dinasehati karena disampaikan dengan sebuah pendekatan yang berbeda. Setidaknya inilah yang saya rasakan beberapa waktu lalu.

Saya sedang di ruangan kerja, memelototi komputer untuk mengecek email yang lumayan banyak. Beberapa email harus dijawab sambil mengerjakan beberapa tugas lain. Saking seriusnya, tak sadar seseorang telah berdiri beberapa saat di depan meja kerja saya. Saat tersadar, kaget saya melihat seseorang, atasan dari kantor pusat di US, yang tersenyum di hadapan saya. “How are you, Sir?”, demikian kata pertama yang terucap. Bukan dari saya tapi kata justru terucap dari si atasan sesaat setelah saya menyadari kehadirannya.

Kami lalu mengobrol. Ternyata ia sudah beberapa hari di Indonesia dan baru saja liburan di salah satu pulau. “Like in small paradise”, komentarnya tentang pulau dan liburannya. Ia juga lalu bertanya tentang pekerjaan, tentang target, dan beberapa masalah yang muncul. Semua hal tersebut saya jawab dan saya juga memberikan beberapa hal yang menjadi concern saya. Kami sempat berdiskusi dan bertanya jawab. Selama saya memberikan penjelasan, ia menyimak dengan tekun yang saya sampaikan. Kemudian ia pamit. Ia bilang kalau besok harus segera terbang ke Vietnam dan selanjutnya ke China untuk kemudian baru kembali ke Indonesia.

Saya sangat terkesan dengan pertemuan itu. Terkesan karena saya merasa dihargai. Secara stuktur, jabatan dia bertingkat-tingkat di atas saya. Namun kesediaannya meluangkan waktu mendatangi meja kerja saya di tengah waktunya yang terbatas dalam kunjungan singkatnya, sungguh membuat saya merasa diapresiasi. Ia tak canggung menyapa saya dengan Sir. Keseriusannya menyimak penjelasan saya, meyakinkan saya bahwa yang dilakukannya bukanlah sekedar berbasa-basi tapi sesungguhnya saya merasa ia sedang memberikan pelajaran kepada saya. Pelajaran tentang leadership, tentang hubungan pemimpin dan yang dipimpin.

Kejadian di atas membuat saya jadi berintrospeksi. Pekerjaan membuat saya harus memimpin ratusan orang. Saya jadi berpikir, apa yang selama ini saya perbuat selama memimpin. Di tengah kesibukan, seberapa sering saya meluangkan waktu dengan para anak buah saya. Seberapa kerap saya memberi penghargaan kepada karyawan dengan memanggil mereka dengan panggilan akrab dan terhormat. Jika saya bicara dengan karyawan, apakah saya sudah menjadi pendengar yang baik atau saya lebih suka mereka lebih mendengar apa saya katakan. Seberapa sering saya “menggurui” dengan kalimat panjang lebar dibanding dengan memimpin dengan tindakan dan contoh nyata. Sebuah introspeksi yang kadang membuat saya malu.

Malu karena orang dengan jabatan bertingkat-tingkat di atas saya memberikan pelajaran bahwa leadership bisa dibangun dengan teladan dan rasa hormat. Sebuah pendekatan yang mampu memberikan motivasi dan pelajaran kepada saya tanpa saya harus merasa digurui, tersinggung, sakit hati, dan kehilangan kehormatan diri.

 

Banyumanik, 24 Juni 2010

3 Komentar leave one →
  1. Juli 10, 2010 8:08 pm

    Saya sangat bersetuju dengan apa yang sahabat tulis. Benar sekali leadership bisa dibangun dengan teladan dan rasa hormat. Saudara berkerja di US ke.

    Shameel
    From Malaysia

    • Fadhly Syofian permalink*
      Juli 13, 2010 7:24 am

      rekan shameel, terima kasih akan tanggapannya. Saya tidak bekerja di US tapi bekerja di Indonesia

  2. Februari 3, 2011 9:27 pm

    nemu blog ini dari websitenya trinity naked traveler..
    bagusss mas🙂

    sampeyan wong mbayumanik po, mas ? tetanggaan dong ame aye😀
    salam kenal yo mas ^_^

    [FS] Halo Louisely, saya cuma numpang tinggal aja di Banyumanik. Mungkin juga, jangan-jangan tetanggaan…..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: