Skip to content

WELCOME TO THE ERA OF NARCIS.COM!

Juni 6, 2010

Beberapa waktu lalu saya melihat acara yang ditayangkan salah satu televisi swasta. Nama acara itu “Obama, Kami Datang”. Program tersebut menampilkan 10 finalis yang pada akhirnya akan dipilih 3 pemenang. Pemenangnya akan mendapat hadiah terbang ke Washington dan Honolulu menyusuri jejak-jejak kehidupan Obama. 10 finalis tersebut adalah orang yang terseleksi dari ribuan orang yang tergabung dalam semacam fans Obama di situs jejaring sosial Facebook. Sebagaimana kita tahu, Facebook adalah situs jejaring sosial populer dan secara efektif digunakan Obama saat kampanye pemilihan presiden hingga akhirnya ia terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat.

Kepopulerannya Facebook memang luar biasa. Pernah suatu saat, saya melihat banyak orang nongkrong dengan di café. Saya hitung ada 12 orang yang membuka laptop memanfaatkan jaringan hot spot. Iseng, saya cermati website yang mereka akses saat itu. Ternyata 8 dari 12 orang itu sedang mengakses Facebook! Facebook merambah seluruh dunia dan segala usia. Tak peduli rakyat biasa, selebriti, pejabat, sampai tokoh politik. Bahkan ada yang sampai keranjingan atau sampai pada tingkat addicted (kecanduan). Jika tidak membuka Facebook, seperti ada yang kurang katanya. Dulu, saya sampai dipaksa teman saya agar membuka akun Facebook. Demi menghormati ajakan teman dan ingin juga berhubungan dengan teman-teman lama, akhirnya saya penuhi ajakan tersebut. Saat akun sudah saya buat, giliran saya jadi dimarahi teman karena saya sering telat meng-confirm atau me-reply pesan yang ada di Facebook. Saya memang tak begitu aktif membuka akun Facebook.

Pada perkembangannya, Facebook tidak hanya sekedar untuk berkoneksi tapi juga mampu digunakan menggalang dukungan. Dukungan kampanye terhadap Obama atau dukungan pada kasus Ketua KPK Bibit-Chandra adalah contohnya. Keberadaan Facebook mampu merubah cara orang bersikap. Facebook membuat orang menjadi lebih terbuka. Jika dulu orang tidak ingin kehidupan peribadinya diketahui orang banyak, di Facebook orang justru semakin bebas untuk menampilkan dan mengabarkan kegiatan pribadinya. Bahkan untuk hal-hal yang paling remeh-temeh sekalipun! Hal tersebut bisa dilihat komentar seperti ini;

Oaahh…ngantuk nih…” atau

hari ini kok nggak semangat…ya?” Atau ada juga yang menulis,

belum ada ide….”

Sarapan pagi pake telor”

Kalau dipikir-pikir, apa pentingnya jika mengantuk, nggak semangat, atau belum ada ide, maka seluruh dunia harus tahu? Dan kalau sarapannya pake telor, so what gitu lho? Sebegitu pentingnyakah orang lain harus tahu? “Hebatnya” tulisan remeh-temeh ini ternyata dikomentari lagi oleh orang lain. Tidak itu saja, para suami-istri juga bisa saling ngobrol lewat Facebook padahal walaupun mereka ada di tempat yang sama. Lantas muncul pertanyaan, lha emangnya di rumah ngobrolnya kurang apa?

Tapi begitulah Facebook, sebagai situs yang memberikan kebebasan berekspresi, komentar-komentar seperti di atas menjadi tidak terhindarkan. Suka atau nggak suka, ya terimalah apa adanya. Jika suka, bisa beri komentar, jika tidak, ya cuekin aja. Facebook tidak lagi hanya berfungsi sebagai situs untuk mencari teman lama atau teman baru, tapi saking populernya juga mampu merubah perilaku komunikasi manusia. Orang tak malu-malu lagi mengabarkan aktivitas keseharian bahkan kehidupan pribadinya. Tidak hanya sekedar berkomunikasi, Facebook juga jadi wadah untuk ber-narsis ria. Dengar saja komentar salah seorang peserta program “Obama, Kami Datang”, saat ditanya apa yang pertama kali akan ia lakukan jika sampai di Amerika, jawabannya, “Update status!”

Pakar pemasaran Hermawan Kartajaya tahun 1999 pernah membuat semacam prediksi, periode millennium akan didominasi oleh kehidupan berbasis information and technology. Polah bisnis pun akan berubah karena akan didominasi oleh oleh polah bisnis berbasis internet. Internet akan mengubah polah hubungan antar perusahaan dan konsumen ke tingkat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Internet akan menjadi pondasi bisnis baru. Maka muncullah e-corporation dan e-commerce, jenis model bisnis yang berbasis internet. Jika ingin jualan, tidak harus punya bangunan toko dan jika ingin membeli barang tak harus pula datang ke toko secara fisik. Cukup dilakukan lewat internet.

Hermawan benar. Internet tidak hanya merubah polah bisnis namun juga merubah polah komunikasi. Kehadiran Facebook membentuk polah komunikasi gaya baru, memberi kemudahan untuk berkoneksi sosial, memungkinkan orang untuk berekspresi lebih bebas termasuk untuk ber-narsis ria. “Welcome to the era of narcis.com!”

 

Banyumanik, 5 Juni 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: