Skip to content

PORSI JUMBO ALA AMERIKA

Juni 1, 2010
tags:

Di luar tugas kantor, hal yang paling saya suka saat di US adalah acara makan. Selain memang hobi makan, saya tertarik mengetahui menu masakan atau makanan dan kebiasaan orang-orang lokal di sana. Bagi saya, makanan itu erat hubungannya dengan budaya. Apa dan bagaimana makanan di suatu tempat atau negara merupakan polah, cara, kebiasaan, dan budaya masyarakatnya. Selain itu, saya hampir tidak ada masalah dengan makanan. Selama itu halal dan bukan extreme culinary, saya pasti tak masalah.

Bar dan restoran di sana selain tempat makan juga sebagai tempat ngumpul-ngumpul. Kalau nggak makan, minimal mereka minum bir. Ciri lain dari restoran dan bar-bar di Amerika adalah ada banyak TV. Programnya TV yang diputar adalah olahraga favorit di Amerika; baseball, basketball, dan American football. Pengunjungnya sambil makan sambil nonton juga. Bahkan sampai teriak-teriak segala. Jadi suasananya benar-benar rame.

Restoran yang paling sering kami kunjungi saat berada di US adalah restoran steak. Pengamatan saya, hampir semua restoran steak yang saya kunjungi, ada nuansa cowboy-nya. Entah itu bentuk pintu masuk, dinding dan furniture yang umumya dari kayu, atau hiasan dindingnya. Jadi kalau masuk, restorannya mirip dengan bar-bar yang sering kita lihat di film-film cowboy. Dari beberapa restoran steak seperti Outback, Applebee’s, Longhorn, Sagebursh, Liberty, atau Fatz, Outback kelihatannya restoran yang paling digemari dan selalu ramainya pengunjungnya. Pernah saat baru tiba di bandara Dulles, Washington dan dalam perjalanan menuju Clemmons, kami mampir ke Outback untuk makan malam. Katanya pelayannya, restoran sedang penuh dan kalau mau menunggu 1,5 jam! Mana kuat, wong perut sudah lapar berat. Selain steak, salah satu menu andalan di Outback adalah bloomin’ onion, yaitu bawang yang diiris-iris dan digoreng lalu dimakan dengan saos. Rasanya, bagi saya sih biasa aja, karena saya memang kurang begitu suka bawang

Di restoran steak biasanya saat menunggu masakan utama datang, kita disuguhi roti plus butter. Saat makan steak di Longhorn, selain roti plus butter, untuk menunggu kami dikasih ember kecil dari kaleng yang isinya kacang kulit. Ukuran steak biasanya sekitar 9-18 oz. Jika memesan steak, boss saya selalu meledek karena kami pasti selalu memesan steak yang well done. Padahal menurutnya, kenikmatan dan kelembutan daging akan lebih terasa jika tidak dimasak terlalu matang alias well done.

Tapi lidah orang Indonesia memang lain karena kita terbiasa makan daging yang matang. Saya belum pernah coba medium raw yang daging steak-nya masih relatif mentah sebab cuma dipanggang sebentar dan kelihatan masih segar dan merah. Namun saya pernah coba steak yang dimasak medium dan menurut saya OK juga tuh. Dibanding steak well done yang lebih kering, steak medium memang lebih basah. Tips-nya  cocolin aja steak-nya ke saos agak banyakan, pasti rasanya tetap OK. Bagi saya, kalau sedang jalan-jalan, selain untuk mengisi perut, makan itu juga exploring experience. Jadi nggak ada salahnya coba menu-menu yang baru dan unik. Kalau memilih menu yang standard dan familiar melulu nggak akan dapat pengalaman baru.

Dalam hal porsi makan, porsi makan orang Amerika memang jumbo alias banyak banget.  Kalau nurutin porsi mereka, saya pasti sudah kenyang sebelum menyantap main course-nya. Makanan pembuka seperti salad dan soup, melihat mangkuknya saja sudah keder duluan. Juga porsi sides, pendamping main course, yang biasanya kentang entah itu dalam bentuk goreng, bakar, atau rebus. Umumnya, jika memesan main course, harganya sudah satu paket dengan salad/soup dan sides. Jadi kalau kita pesan main course plus kentang tanpa salad, ya kita rugi wong bayarnya komplit.

Pernah saat makan di Dockside, saya memesan main course sea food. Saat pelayan membawa salad, saya sudah dibuat terkesima oleh ukuran mangkuknya. Tak lama datang main course yang dipesan, sea food. Wow, cukup besar porsinya! Tapi saya berpikir masih sanggup lah. Tak berapa lama kemudian si pelayan membawa french fries yang ukurannya juga besar. Langsung deh, french fries-nya saya minta dibungkus saja. Mana kuat menghabiskan porsi sebanyak itu.

Saya pikir orang Amerika itu cuma demen sama mobil-mobil jumbo dan truk yang punya cc besar dan boros bahan bakar. Ternyata selain selain demen kendaraan jumbo, porsi makan mereka juga jumbo. Pantes aja badannya gede-gede, lha porsi makannya saja super jumbo begitu! 

 

Banyumanik, 31 Mei 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: