Skip to content

“IT WAS LIKE LIFE AND DEAD EXPERIENCE!”

Mei 30, 2010
tags:

Di Amerika hampir semua restoran di sana didominasi oleh restoran franchise. Sekedar menunjuk beberapa nama restoran, minimal yang saya kunjungi, mulai dari restoran fast food seperti Coffee House, Subway, atau MacDonald’ dan KFC yang sangat familiar di Indonesia. Jika ingin makan steak, silahkan pergi ke Outback, Applebee’s, Longhorn, Sagebursh, Liberty, atau Fatz. Ada pula restoran lainnya yaitu Ruby Tuesday, Dockside, atau Panera. Bosan dengan masakan Amerika, ada Nara Express yang menyajikan masakan Jepang atau Mi Pueblo, restoran Meksiko yang masakannya terkenal spicy dan hot. Semua restoran tersebut adalah franchise restaurant. Artinya jika pergi ke tempat lain, restoran yang ketemu paling ya itu-itu juga.

Restoran yang familiar di Indonesia seperti MacDonald’s dan KFC tak sering saya kunjungi saat di Amerika. Saya hanya 2 kali ke MacDonald’s. Itupun dilakukan karena alasan kepepet. Satu kali saat makan siang karena duit yang menipis sementara ATM terdekat tidak ditemui padahal perut sudah lapar banget. Satu kali yang lain saat sarapan pagi. Sarapan pagi biasanya di hotel. Cuma saat itu kami harus berangkat subuh-subuh dari hotel ke salah satu pabrik. Karena sarapan hotel belum tersedia, akhirnya membeli sarapan di MacDonald’s lewat drive thru. Hanya ada MacDonald’s yang buka jam segitu di jalan yang kami lewati. Tidak seperti di Indonesia, restoran seperti MacDonald’s atau KFC bukan restoran yang cukup digemari di Amerika.

Selain MacDonald’s, saya juga hanya sekali makan di KFC. Ini juga karena alasan kepepet. Biasanya kami selalu makan malam berempat dengan mobil rental selama kami di Amerika. Suatu Sabtu malam, boss saya ada acara dengan rekan kerjanya. Karena mobil dibawa, kami harus mencari makan malam di sekitar hotel. Karena sudah terlalu sering makan masakan Amerika, pengin juga lidah ini makan masakan yang familiar dengan lidah Indonesia. Berhubung nyari rendang nggak ketemu (mimpi kalii….), maka pilihan jatuh pada KFC. Lidah Indonesia ini pengin makan ayam goreng! Maka kami bertiga keluar hotel menuju KFC yang terletak hanya sekitar 200 meter dari hotel.

Setelah berjalan dan tiba di tepi jalan, kebingungan terjadi. Restoran KFC terletak tak jauh dari perempatan dan berada di seberang jalan. Artinya kami harus menyeberang jalan. Di sinilah masalahnya! Tak ada zebra cross tanda untuk menyeberang jalan. Kami berjalan menuju perempatan dengan berjalan berlawanan arah pada sisi jalan (road). Tak ada sisi jalan untuk pejalan kaki sehingga kami berjalan benar-benar di sisi jalan. Baru berjalan berapa langkah, sebuah teriakan keluar dari mobil yang melintas, “Hey, you walk on wrong side and wrong direction!” Kalau ini mah saya juga tahu, tapi mau gimana lagi coba. Negara lu buat jalan nggak ramah buat pejalan kaki sih, saya ngedumel dalam hati. Karena tidak terlihat ada zebra cross, kami putuskan untuk menyeberang langsung saja dari tempat tempat kami diteriaki oleh si bule Amerika. Daripada ntar diteriakin bule lagi? Perkara gampang? Ternyata tidak.

Menyeberangi jalan lebar dengan 4 lajur (seperti yang terlihat pada photo) ternyata bukan perkara mudah. Mobil yang lewat tak pernah ada yang pelan. Melihat kecepatan mobil yang lewat saya keder juga. Harus menunggu beberapa lama dan super sabar. Di tengah jalan tak ada divider. Saya harus menunggu lagi dengan sabar dan berdiri di tengah jalan diselingi mobil yang sliweran dengan cepat. Dengan sedikit berlari sampai juga di seberang jalan di depan KFC. KFC saat itu kosong. Hanya kami bertiga pembeli saat itu. Dan selama di sana sekitar 30 menit, tak ada pembeli lain. Rasa ayamnya, di lidah saya, jauh lebih enak KFC Indonesia deh. Hehe…..padahal, KFC khan asli Amerika. Selesai makan, tantangan berikutnya menghadang, menyeberang jalan!

Menyeberang jalan malam itu benar-benar tantangan deh. Harus ekstra sabar dan hati-hati. Saat saya sudah sampai di tengah jalan, saya ingin langsung ke seberang jalan. Untung teman saya mengingatkan dan menarik tangan saya. Tiba-tiba dari perempatan muncul mobil yang lagi-lagi kencang. Uhh hampir saja! Saat kami tiba dengan di seberang jalan dengan selamat, paras kami bertiga berubah seragam dari yang awalnya tegang jadi lega. Pfuhh…lega! Menyeberang di jalan di Amerika bukanlah perkara sederhana setidaknya menurut pengalaman kami bertiga malam itu.

Tahu gitu mending makan malam di restoran samping hotel aja. Mau makan ayam goreng aja, susahnya minta ampun, sampai taruhannya nyawa segala. Seorang teman saya sampai berujar, “It was like life and dead experience!”

 

Banyumanik, 23 May 2010

One Comment leave one →
  1. shasha permalink
    Oktober 5, 2010 11:58 pm

    blog nya bagus Mas, artikel dan ceritanya juga menarik. Tapi aku baru tahu kalau untuk nyebrang aja susah di Amrik hehehe.

    [FS] terima kasih comment-nya. Itu berdasarkan pengalaman kami saat itu. Mungkin malam itu memang lagi banyak mobil yang doyan jalan kenceng🙂

    Saat di Washington, saya jalan kaki dari US Capitol sampai Lincoln Memorial nggak masalah tuh dengan nyeberang jalan. Cuma di Clemmons aja karena jalannya memang kaya jalan tol🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: