Skip to content

POWER PEMIMPIN; MENJADI ORANG SHALEH DI TUNISIA

Mei 13, 2010

Habib Bourguiba, President pertama Tunisia (1957-1987), (picture by wikipedia)

Anda ingin menjadi orang paling shaleh? Jika anda seorang muslim dan sedang berada di Tunisia, anda tidak akan sulit untuk dianggap orang shaleh. Di negara yang terletak di bagian utara benua Afrika ini, menjadi “orang shaleh” tidak memerlukan syarat rumit. Apa syaratnya? Syaratnya, cukup jika anda rajin shalat! Apalagi shalat di tempat umum seperti mall, maka anda sudah dianggap shaleh. Bagi penduduk Tunisia, orang yang melakukan shalat 5 waktu apalagi di tempat umum adalah orang dengan derajat keimanan dan keshalehan yang tinggi. Setidaknya demikian pandangan orang Tunisia. Aneh? Lebih aneh lagi jika anda mengetahui pandangan seperti ini justru muncul dari negara dengan dominasi Islam yang tinggi. Di Tunisia, persentase penduduk yang beragama Islam adalah 99%! Persentase ini lebih tinggi dari persentase Islam di Indonesia yang hanya 90%. Muslim Tunisia adalah muslim yang tidak melakukan shalat. Itulah sebabnya melihat orang yang shalat adalah pemandangan luar biasa dan dan langsung dicap sebagai orang shaleh.

***

Saya sampai tersenyum-senyum saat membaca buku Berkelana ke Timur Tengah yang ditulis Dede Permana Nugraha tentang kekaguman orang Tunisia jika melihat orang shalat seperti cerita di atas. Di Indonesia sendiri sebenarnya juga banyak orang Islam tapi nggak shalat. Bedanya, orang Indonesia tidak kaget jika lihat orang shalat dan tidak pula selalu menganggap orang yang shalat adalah orang dengan tingkat keshalehan tinggi. Di Tunisia, orang shalat adalah pemandangan langka karenanya tidak tempat shalat tidak akan tersedia di area publik, seperti pusat perbelanjaan misalnya. Saya jadi teringat saat di Amerika jika ingin shalat terutama di area public, mungkin sulitnya sama dengan melaksanakan shalat di Tunisia. Padahal Tunisia dalah negara dengan penduduk 99% beragama Islam.

Polah muslim Tunisia yang tidak shalat sebenarnya lebih disebabkan oleh akumulasi sejarah kebijakan rezim pemerintahan yang berkuasa. Adalah Habib Bourguiba, Presiden Tunisia yang memerintah tahun 1957-1987. Dengan latar belakang pendidikan di Prancis, Bourguiba sangat tergila-gila dengan ideologi barat dan getol untuk menjadikan Tunisia sebagai negara sekuler seperti halnya Turki. Berbagai kebijakan sekuler ia terapkan selama ia memerintah seperti larangan menggunakan jilbab, identitas dan simbol-simbol keagamaan tidak bebas di area publik, larangan poligami, sekulerisasi pendidikan, dan mengganti bahasa Arab dengan bahasa Prancis. Keengganan Muslim Tunisia mendirikan shalat adalah buah hasil kebijakan sekuler Bourguiba. Dan puncaknya, Bourguiba juga menggelorakan kampanye anti-puasa bagi muslim Tunisia!

Kampanye anti-puasa dilakukan oleh Bourguiba pada tahun 1960 dan disampaikan lewat pidato kenegaraan. Pada sebuah pidato kenegaraan tanggal 18 Februari 1960 di depan parlemen, Bourguiba yang notabene seorang muslim, mengajak umat muslim untuk tidak berpuasa. Tanggal tersebut bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadhan. Tidak hanya berpidato anti-puasa, Bourguiba juga meminum air putih di sela pidato yang disiarkan lewat televisi itu. Bourguiba tidak hanya mengajak, tapi juga mempraktekkan langsung seruannya untuk tidak puasa. Sebuah keseriusan nyata yang disaksikan langsung oleh rakyat Tunisia.

Ajakan anti-puasa ini tentu saja menimbulkan kegaduhan dan reaksi keras dari kalangan Islam saat itu. Tak pelak lagi Bourguiba menjadi sasaran caci-maki, dikutuk, bahkan divonis kafir oleh ulama. Alasan Bourguiba bahwa puasa melemahkan etos kerja bagi muslim Tunisia yang menjadi dasar kampanye anti-puasa tentu ditolak mentah-mentah oleh sebagian besar kalangan Islam. Pada akhirnya, kampanye anti-puasa ini adalah kampanye yang gagal dan tidak berhasil mempengaruhi umat Islam. Tapi kebijakan sekuler lainnya, dampaknya bisa dilihat hingga kini. Razia jilbab masih sering terjadi dan orang yang rajin ke masjid juga dicurigai. Kekaguman orang Tunisia melihat orang shalat adalah salah satu bukti keberhasilan kebijakan sekuler yang diterapkan oleh pemerintah.

Perbedaan pemimpin dan yang dipimpin adalah pemimpin mempunyai kekuasaan (power). Pemimpin dengan power yang dimilikinya bisa menetapkan kebijakan. Kebijakan ini akan memberikan pengaruh pada lingkungannya. Selanjutnya kebijakan tersebut akan membentuk sistem yang mengatur orang-orang yang berada dalam lingkungan yang ia pimpin. Jika kebijakan itu baik, maka akan terbentuk pengaruh dan sistem positif bagi lingkungannya. Sebaliknya, jika kebijakan tersebut negatif, maka pengaruh negatif dan sistem yang buruk akan tercipta bagi lingkungannya.

Saya jadi teringat pada Divisi Produksi yang saya pimpin. Kepada para supervisor, department head, dan manager termasuk saya, sudahkah kita menggunakan power, kekuasaan, dan oritoritas yang kita miliki sehingga berdampak positif bagi sistem dan departemen yang kita pimpin? Atau kita seperti Habib Bourguiba, yang menggunakan kekuasaannya secara negatif sampai-sampai rakyatnya merasa asing dengan shalat walaupun mereka muslim?

Pertanyaan yang perlu untuk dijawab dan direspon karena sesungguhnya hakikat kepemimpinan adalah mewujudkan visi menjadi aksi.

 

Banyumanik, 13 May 2010

Artikel terkait;

LINGKUNGAN MEMPENGARUHI, SISTEM YANG MENDUKUNG

7 Komentar leave one →
  1. Mei 21, 2010 8:03 am

    berhasil tidaknya sebuah team terletak pada pemimpinnya. pemimpin yang bisa mempengaruhi teamnya bisa membawa pengaruh positif atau negatif, tergantung pengaruh yang dibawa sang pemimpin.

    pemimpin yang tidak bisa mempengaruhi teamnya, bagaikan bis penuh dengan penumpang, tapi tanpa sopir. kalau mau start jalan, dia tidak bakal maju-maju, karena tidak ada yang nge-gas. kalau lagi jalan ngebut, bisa-bisa kecelakaan, nabrak kendaraan lain, atau nyemplung di jurang / sungai.

    terima kasih tulisannya pak. inspiratif sekali.

  2. Fadhly Syofian permalink*
    Mei 24, 2010 12:30 pm

    Terima kasih juga tanggapannya. Senang jika artikel ini bermanfaat

  3. Mei 26, 2010 1:16 pm

    Wow…., tulisan yg menarik…, beberapa kali sy sdh baca tentang Presiden Bourguiba, dr beberapa penulis, tapi tidak seperti Bapak mengulasnya…, bisa menjelaskan arti pemimpin dan power-nya, bermakna yg dalam sekali…

    Seperti halnya anekdot, ada 3 aturan, 1. pemimpintidak pernah salah, 2. Pemimpin tidak pernah salah, dan 3 Pemimpin tidak pernah salah…, sama dalamnya makna antaranekdot dan si Mr. President tersebut…

    Sukses selalu Pak…

    http://arbhirawanto.co.cc

  4. Fadhly Syofian permalink*
    Mei 27, 2010 12:44 pm

    Terima kasih pak arbhi…
    Bagi saya pribadi, karakter seperti Borguiba itu adalah karakter pemimpin. Cuma visinya dan cara pandangnya aja yang salah, setidaknya menurut saya..

  5. HilMy !nfo permalink
    Juni 2, 2010 6:13 pm

    Artikel yang sangat menarik. Somoga makin Jaya dan Sukses. Ditunggu Kunjungan Baliknya di http://hilmyinfo.wordpress.com/2010/06/02/foto-urutan-kejadian-dan-berita-yang-true-di-kapal-mavi-lengkap/ .

    Salam 1 Info😀 .

  6. Juli 8, 2010 8:03 am

    Menarik sekali penerangan sahabat ttg presidet Habib Bourguiba yang anti islam itu.

    • Fadhly Syofian permalink*
      Juli 8, 2010 12:47 pm

      terima kasih rekan shameel.
      senang punya teman dari negeri seberang ..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: