Skip to content

THANKS GOD, I AM STILL LUCKY!

April 25, 2010
tags:

Setiap berangkat dan pulang kerja, saya selalu melewati salah satu ruas jalan utama di kota Semarang. Jalan yang di kiri-kanannya berdiri rumah-rumah megah nan mewah. Pastilah mereka yang mempunyai rumah mewah itu adalah para orang borju. Kalau bukan orang borju mana mungkin mereka mampu membeli tanah dan membangun rumah yang nilainya bisa em-eman yang jumlah angka nolnya pun membuat saya bingung berapa jumlahnya saking banyaknya. Dalam hati saya, mereka ini adalah orang yang beruntung karena dengan uang yang dimilikinya mereka mampu membeli apa saja tanpa harus berpikir panjang. Tak seperti saya yang harus berhitung cermat dalam hal keuangan agar ada sedikit sisa uang yang bisa ditabung.Tak terbayang pula oleh saya berapa jumlah tabungan mereka. Yang jelas, pastilah lebih banyak dari tabungan saya (ya iya lah….). Sempat juga saya berpikir, apa sih kerja para manusia beruntung itu sehingga bisa sedemikian kaya, mempunyai rumah mewah, kendaran roda empat yang mahal dan banyak, serta uang tabungan yang melimpah ruah. Mereka-mereka ini tidak hanya mendapat uang saat mata mereka melek tapi saat mereka tidur pun uang terus mengalir ke pundi-pundi tabungan mereka. Tidak seperti saya yang harus bekerja pergi pagi pulang malam, berkeringat, kepanasan, plus bonus diomeli oleh bos. Kemanusiaan saya menimbulkan rasa iri terhadap nasib para orang kaya ini dan mengapa saya tidak seberuntung mereka.

***

Beberapa hari lalu saya membaca kisah tentang seorang bernama Jack Lord. Jangan kaget, walaupun nama itu berbau asing, Jack Lord adalah orang Indonesia. Ia adalah seorang pengawai negeri golongan IIIA di kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Pekanbaru. Tidak ada hal istimewa tentang Jack Lord sampai saya mengetahui walaupun bergolongan IIIA, Jack Lord adalah seorang cleaning service! Ia bertugas menyapu lantai, membersihkan ruangan, kaca, bahkan kakus kantor. Yang lebih mengejutkan lagi, Jack Lord adalah lulusan FISIP Universitas Riau dengan indeks prestasi kumulatif 3.75. Ia lulus cum laude!

Sementara pegawai lainnya dengan golongan yang sama bekerja di meja memegang pena dan kertas, Jack harus memegang sapu dan berpeluh keringat sebagai cleaning service, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh tenaga outsourcing. Jack mengatakan bahwa dengan ilmu yang dimilikinya dari perguruan tinggi, ia sangat mengerti tugas pokok dan pekerjaan pegawai pemerintahan. Ia juga mengerti mengenai pembuatan undang-undang, etika birokrasi, kebijakan publik, bahkan ilmu politik pemerintahan. Ia juga tak merasa kemampuannya kalah dengan para lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) atau Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Hal yang mengalahkannya adalah nasibnya tidak sebaik para lulusan institut dan sekolah tinggi tersebut. Protes sudah pernah ia lakukan bahkan sampai ke Jakarta, namun sampai kini nasibnya tak juga berubah. Ia tetaplah tukang sapu sekalipun ia seorang lulusan cum laude!

Membaca kisah Jack Lord, saya jadi teringat saat bertemu seorang teman SMA. Saat bulan November 2009 saya pergi ke sebuah mal di Yogya. Sesaat setelah menerima karcis parkir, saat akan memarkirkan mobil, saya melihat sosok yang rasa-rasanya saya kenal. Si orang ini memberi aba-aba ke saya untuk memarkirkan mobil di tempat yang kosong. Saat kaca jendela saya buka, saya kaget bukan kepalang, orang ini ternyata adalah teman sekelas saat SMA dulu. Sang teman juga terkejut melihat saya. Saya sudah 16 tahun tidak bertemu dengannya dan ternyata banyak hal yang telah terjadi selama 16 tahun perjalanan hidup kemudian. Saat berjabat tangan dengannya, saya bisa merasakan ketegaran sang teman yang dulu pendiam ini. Takkan mungkin ia mampu menjalani pekerjaannya tanpa ketegaran, karena ia bekerja di parkiran mal, gedung publik, di kota yang sama dengan saat ia bersekolah SMA dimana masih banyak teman-teman SMP dan SMA yang masih tinggal di Yogya dan sangat mungkin bertemu dengannya. Dulu, saat masih SMA, saat kita semua bermimpi dan meletakkan cita-cita setinggi langit, pastilah tak terbesit olehnya akan pekerjaan yang ia jalani sekarang. Namun nasib menggariskan ia harus menjalani pekerjaannya sekarang dengan ketegaran dan ikhlas.

Kawan, pekerjaanmu sekarang adalah pekerjaan halal dan semua pekerjaan halal adalah mulia. Semoga engkau mampu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan ALLAH meninggikan derajat orang- orang yang ikhlas, demikian doa saya sesaat setelah bertemu dengannya dengan perasaan yang berkecamuk tak tentu.

***

Pak, saya minta tolong dengan sangat, bantu saya biar bisa kerja kembali. Tolong pak dibantu.” demikian sms yang saya terima pertengahan Maret lalu. Sms dari bekas karyawan yang dulu pernah bekerja di salah satu departemen di divisi yang saya pimpin. Sebenarnya ia karyawan yang potensial namun mungkin karena terlalu pede departemen pasti membutuhkannya ia kurang disiplin. Mempertimbangkan disiplinnya yang rendah, ia terkena pengurangan saat ada pengurangan karyawan. Saya tidak bisa menerimanya kembali bekerja karena selain belum ada posisi yang kosong, saya tidak mungkin menerima karyawan yang disiplinnya rendah. Si karyawan ini adalah orang yang tidak mampu memanfaatkan kesempatan yang sudah dimilikinya dan kesempatan tidak selalu datang dua kali.

Banyak orang yang berusaha berebut kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik. Jack Lord dan teman saya adalah bagian dari kelompok ini. Namun tak sedikit pula orang yang tak mampu mengelola dan membuang kesempatan karena kurang mampu bersyukur. Kadang saya iri dengan orang yang terlihat lebih bermateri dan lebih sukses dari saya namun sesungguhnya saya lebih pantas bersyukur atas apa saya miliki karena bisa saja saya masih lebih beruntung dibandingkan dengan banyak orang di luar sana. Thanks God, you still love me and I am still lucky.

  

Banyumanik, 25 April 2010

6 Komentar leave one →
  1. hermawan e. wibowo permalink
    Mei 7, 2010 10:55 am

    baik pak…saya akan memanfaatkan kesempatan yang saya miliki (dalam arti positif lho…hehehe).

    • Fadhly Syofian permalink*
      Mei 7, 2010 12:42 pm

      duh yang baru wisuda….masih di Jawa atau sudah di Kalimantan?
      Selamat ya boss atas wisuda S2-nya. Semoga bisa bekerja dengan baik, berbakti pada negara, dan memberikan ‘return’ pada rakyat. Soalnya beasiswa sekolahnya khan pakai uang rakyat …..🙂

  2. rofiq permalink
    Juli 19, 2010 6:06 pm

    Halo Pak,

    Sebenarnya Jack Lord ngelamar jadi PNS LPMP saat masuk ke Instansi tersebut menggunakan ijazah SMU, dan pada saat dia melamar menggunakan ijazah SMU, dia sudah diingatkan bahwa posisi yang dilamar adalah untuk tenaga kebersihan, pada saat itu dia belum lulus kuliah..
    karena saya bukan PNS, g mudeng harus gimana, apakah bisa naik tingkat tidak jadi tenaga kebersihan ya?

    Thanks
    Rofiq

  3. Fadhly Syofian permalink*
    Juli 20, 2010 12:21 pm

    Halo Rofiq,
    Masih pindah-pindah?
    Yang aneh dari kisah Jack Lord, golongannya adalah IIIA. Kalau cuma jadi cleaning service, mengapa harus IIIA? Kalau si JL ini punya kemampuan mengapa tidak dioptimalkan di pekerjaan lain?

  4. kesy permalink
    Oktober 1, 2010 4:24 pm

    hmmm…it happen to me🙂 Alhamdulillah ya Allah, engkau berikan aku kemudahan di setiap langkah hidup…
    Terima kasih pak, di ingatkan lagi untuk bersyukur dan terus bersyukur.. 🙂

  5. STJ permalink
    Oktober 5, 2010 6:09 pm

    Thanks Pak, sudah mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dengan apa yg saya miliki🙂
    salam kenal, terus berkarya Pak😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: