Skip to content

LINGKUNGAN MENPENGARUHI, SISTEM YANG MENDUKUNG

April 18, 2010

Saya suka dengan pemikiran Quraish Shihab dan kagum dengan kemampuannya sebagai ahli tafsir Al Qur’an. Saya menyenangi bukunya yang menafsirkan Al Qur’an menggunakan metode tafsir maudu’i, yaitu mengumpulkan ayat Al Qur’an dari berbagai surat untuk membahas satu tema tertentu. Cara ia bertutur dan berbicara lembut sehingga kata-katanya menyejukkan serasa menentramkan hati umat saat mendapatkan siraman rohani dari ceramahnya. Perjalanan hidup Quraish Shihab memang lekat dengan dunia pendidikan dan sebagai ulama. Dalam dunia pendidikan, ia pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Jakarta selama 2 periode (1992-1996 dan 1997-1998) dan sebagai ulama ia aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan banyak menerbitkan buku terkait dengan tafsir Al Qur’an.

Dunia pendidikan dan Islam sudah diakrabinya sejak kecil. Ayahnya, Abdurrahman Shihab adalah tokoh ulama terpandang di Sulawesi Selatan dan seorang guru besar dalam ilmu tafsir. Ayahnya pernah menjabat Rektor Universitas Muslimin Indonesia (UMI) dan juga Rektor IAIN Alauddin Makassar. Selepas maghrib, Abdurrahman Shihab duduk bersama anak-anaknya dan memberikan nasehat yang dikutip dari ayat-ayat Al Qur’an. Maka tak heran, selain Quraish Shihab, saudara-saudaranya yang lain; Umar Shihab dan Alwi Shihab, juga aktif dalam aktivitas keagamaan dan lembaga Islam serta lekat dengan dunia pendidikan. Lingkungan dan sistem di sekitar Shihab bersaudara mengkondisikan mereka untuk berkecimpung pada dunia yang sama dengan dunia yang digeluti oleh ayah mereka. Bahkan ketiganya; Umar, Quraish, dan Alwi Shihab adalah lulusan Universitas Al Azhar Cairo, Mesir. Quraish Shihab sendiri menamatkan S1, S2, dan S3 semuanya di Universitas Al Azhar, Mesir.

Ngomong-ngomong tentang Mesir, dalam buku Berkelana ke Timur Tengah yang ditulis oleh Dede Permana Nugraha disebutkan berdasarkan data tahun 2002, para penghafal Al Qur’an 30 juz di Mesir berjumlah 12.3 juta orang dari 67 juta penduduk Mesir atau sekitar 18 persen dari total penduduk Mesir. Artinya, 1 di antara 6 orang Mesir adalah penghafal Al Quran.

Jika data penghafal tersebut diurai lagi lebih detail, maka penghafal Al Qur’an usia 10-25 tahun berjumlah 2,4 juta orang. Penghafal Al Qur’an usia 26-55 tahun berjumlah 6,2 juta orang dan penghafal Al Qur’an dengan usia 56 tahun ke atas berjumlah 3,7 juta orang. Sebanyak 3,8 juta penghafal Al Qur’an adalah wanita. Mengapa begitu banyak warga Mesir yang mampu menghafal Al Qur’an?

Jawabannya karena sistem pendidikan. Sistem pendidikan di Mesir memungkin terciptanya banyak para penghafal Al Qur’an. Mengapa? Karena menghafal Al Qur’an dijadikan syarat saat masuk ke perguruan tinggi di Mesir baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Di Universitas Al Azhar, mahasiswa Mesir program S1 wajib menghafal 15 juz Al Qur’an dan mahasiswa Mesir program S2 dan S3 wajib hafal 30 juz Al Qur’an. Bagi mahasiswa asing non-Arab, program S1 diwajibkan menghafal 8 juz, program S2 harus hafal15 juz, dan program S3 wajib menghafal 30 juz Al Qur’an.

Secara independen, sistem pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi menyelenggarakan lomba menghafal Al Qur’an saat perayaan hari besar Islam. Pemerintah Mesir sendiri menganggarkan 25 juta US dollar (bayangkan sekitar 250 milyar rupiah!) sebagai bentuk penghargaan pemerintah bagi para penghafal Al Qur’an. Dana ini diberikan saat perayaan hari besar Islam bagi para penghafal Al Qur’an dalam bentuk tunai, beasiswa pendidikan, maupun tunjangan hidup. Musabaqah Hizful Qur’an (MHQ), perlombaan menghafal Al Qur’an, mempunya kedudukan yang lebih bergengsi dibandingkan dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Dalam kehidupan bernegara, para penghafal Al Qur’an juga mendapat dispensasi. Wajib militer yang merupakan program yang wajib diikuti selama 2 tahun bagi penduduk Mesir kebanyakan namun para penghafal Al Qur’an mendapat keringanan sehingga program tersebut hanya wajib diikuti selama 1 tahun.

Dua cerita di atas, tentang Quraish Shihab dan Mesir, sebenarnya bercerita tentang lingkungan (keadaan di sekitarnya) dan sistem. Tak usah heran jika di Indonesia banyak korupsi karena lingkungan dan sistem di Indonesia memang kondusif untuk korupsi. Cerita tentang Quraish Shihab dan Mesir di atas membuktikan bahwa lingkungan dan sistem yang tercipta memberikan pengaruh kuat dalam mengarahkan dan mempengaruhi pola pikir dan tindakan bahkan karakter seseorang.

Wahai para supervisor, Department Head, dan Manager di Divisi saya, sesungguhnya anda bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan dan sistem kerja yang produktif bagi para karyawan. Takkan ada karyawan produktif tanpa lingkungan dan sistem yang produktif. Cerita di atas telah membuktikannya.

 

Banyumanik, 18 April 2010

 

Artikel terkait;

POWER PEMIMPIN; MENJADI ORANG SHALEH DI TUNISIA

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: