Skip to content

KEEP BOTH OF YOUR FEET ON THE GROUND!

April 15, 2010

Terkait dengan pekerjaan, saya harus berinteraksi dengan orang lain. Terkait dengan pekerjaan, saya berkenalan dengan para tamu perusahaan yang biasanya kebanyakan orang asing. Terkait dengan pekerjaan pula, saya berkesempatan bertemu dengan para expatriate asing mulai dari yang berposisi sebagai manager, senior manager, direktur, presiden direktur, CEO, ataupun owner perusahaan.

Dari interaksi tersebut saya menjadi lebih bisa belajar sesuatu. Saya selalu mencoba untuk belajar mendapatkan sesuatu dari setiap pertemuan dengan mereka. Jika mempunyai kesempatan menemani para tamu dan bisa berbincang lebih lama, saya pasti mencoba menggali hal-hal apa yang mereka lakukan sehingga mereka sukses dan berhasil menduduki posisi puncak. Dari interaksi dan pembicaraan itu saya pun menjadi lebih belajar mengenal karakter tiap-tiap orang, baik karakter yang terkait dengan pribadi seseorang maupun karakter yang terkait dengan perbedaan budaya antara timur dan barat.

Pernah suatu waktu saya harus mendampingi salah seorang tamu yang sebenarnya didatangkan untuk memperbaiki proses produksi di suatu departemen. Dengan gayanya yang nggak nguatin, ia langsung ke shop floor, memberitahu ini-itu, dan langsung menghardik operator. Ia bilang, tidak boleh ada yang berbicara saat ia sedang menjelaskan. Ia ingin semua instruksi dilakukan. Tidak terbuka ruang untuk diskusi dan ia tidak suka dibantah. Tak terhitung berapa kali ia berkata-kata kasar. Saya tidak pernah respect kepada orang seperti ini. Ia juga tidak pernah mendapat respect dari para operator. Saya hanya menghormatinya sebagai tamu, walaupun hati saya dongkol bukan kepalang. Belakangan, saya mendengar kabar kalau si arogan ini dikeluarkan karena terlalu banyak membuat masalah akibat sifat arogannya yang nggak ketulungan itu. Pelajaran yang saya dapatkan, respect tidak akan pernah diperoleh bagi orang yang memimpin dengan arogansi, yang merasa mau benar sendiri tapi tidak pernah menghormati orang lain.

Namun dalam banyak kesempatan lain, saya sering bertemu dengan para tamu yang ramah dan sangat rendah hati. Saat berkesempatan mengunjungi beberapa pabrik dan kantor mereka di Amerika dan bertemu dengan para manager dan direksi, mereka menyambut dengan sangat welcome dan hangat. Saya bahkan pernah sangat terkesan kepada salah seorang tamu yang ketika mengobrol dan berbincang dengannya seolah tidak ada sekat yang membatasi sehingga pembicaraan bisa mengalir dengan santai dan enjoy tanpa saya sadar bahwa yang saya hadapi adalah seorang presiden direktur.

Sang tamu ini tidak pernah merasa bahwa ia seorang dengan posisi tinggi dan lawan bicaranya posisinya jauh di bawahnya. Ia merasa tidak perlu untuk mendapat hormat karena posisinya tapi justru dengan sikap humble-nya tersebut orang menjadi sangat respect kepadanya. Sikap rendah hatinya adalah bagian dari cara ia berkomunikasi dan menghormati orang lain. Bahkan tak jarang ia beberapa kali menggunakan kata Sir kepada lawan bicaranya. Maka mudah ditebak jika ia disenangi dan dihormati oleh orang-orang yang mengenalnya. Pelajarang yang saya dapat, semakin kita mampu menghormati orang lain maka orang lain pun semakin respect pada kita.

Sesungguhnya kehormatan kita tidak selalu ditentukan oleh jabatan yang dimiliki. Sesungguhnya kehormatan yang hakiki terletak pada seberapa mampu kita bisa menghormati orang lain tanpa memandang apa dan siapa. Apapun posisi dan jabatan yang dimiliki, always keep both of your feet on the ground!

 

Banyumanik, 15 April 2010

One Comment leave one →
  1. Juni 23, 2011 6:29 pm

    benar pak..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: