Skip to content

BUKAN CUMA TUKANG …..??

Maret 21, 2010

Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan pimpinan sebuah perusahaan. Seorang wanita paruh baya yang bekerja di sebuah perusahaan asing. Dengan pengalaman profesional selama lebih dari 20 tahun, ia dipercaya untuk menangani seluruh aktivitas dan operasional perusahaan. Saya dan ibu itu berbincang dan berdiskusi mengenai beberapa hal. Diskusi yang saya pikirnya awalnya berjalan “berat” dan formal itu ternyata berjalan ringan dan santai. Ibu itu bercerita tentang pengalaman profesionalnya di beberapa perusahaan, tentang suka-duka dan pelajaran-pelajaran penting yang diperoleh sepanjang karirnya sebagai seorang professional.

Dari pembicaraan tersebut saya menangkap kuat unsur motivasi dari kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ada kemampuan untuk mendengar apa yang saya sampaikan atau menerima kritik tanpa harus merasa tersinggung. Ia mampu memberikan nasehat tanpa saya harus merasa digurui. Bukti kalau ia handal dalam berkomunikasi. Ia mature dan wise, terlihat dari sikap dan kata-katanya yang sangat mungkin dipengaruhi oleh pengalaman dan sikap personal ibu itu sendiri. Selesai dari perbincangan dan diskusi tersebut, saya menjadi lebih termotivasi dan percaya diri dalam menghadapi tantangan pekerjaan ke depan. Seperti mendapat “suntikan” semangat baru. Dalam hati saya berkata, sesungguhnya tipikal seperti ibu itulah yang dibutuhkan oleh seorang pimpinan HRD, Human Resource Development, departemen yang berperan besar besar dalam mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia di perusahaan. Sumber daya manusia yang tidak hanya dipahami sebagai pekerja thok namun harus diyakini sebagai aset perusahaan.

Masih banyak orang yang berpikir atau mungkin merasa (berdasarkan pengalaman) bahwa departemen HRD itu cuma mengurus administrasi, perekrutan, dan pemecatan karyawan. Banyak juga orang yang berpikir bahwa pimpinan HRD (entah itu Kepala Personalia, HRD Manager, atau sejenisnya) cuma berfungsi ketika merekrut dan memecat karyawan karena itu adalah tugas utamanya. Menghadapi demo karyawan adalah tugas tambahannya. Seolah-olah pimpinan HRD hanya bekerja saat ada rekruitmen, PHK, dan demonstrasi karyawan. Kalau ketiga “event” tersebut tidak ada, pimpinan HRD adalah pekerjaan paling santai se-perusahaan. Padahal adanya rekrutmen, PHK, dan demonstrasi bisa jadi (sekali lagi, bisa jadi) menunjukkan kegagalannya dalam menjalankan fungsinya sebagai HRD.

Secara fungsi, HRD memang posisinya susah-susah gampang. Di satu sisi, HRD adalah bagian dari manajemen yang harus memastikan segala instruksi dari “atas” bisa dilaksanakan dengan baik. Di sisi yang lain, HRD juga adalah tempat bertumpunya para karyawan. Karena tugas HRD terkait dengan manusia alias karyawan perusahaan, maka ia punya tanggung jawab besar terhadap kemajuan dan perkembangan karyawannya. Termasuk di dalamnya, grand design pengembangan pelatihan karyawan, sensitif terhadap aspirasi karyawan, tanggap dalam menangkap isu-isu yang beredar seputar karyawan, dekat dan dapat merangkul karyawan atau membuat kebijakan yang mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif.

HRD juga harus mampu jadi penampung masalah-masalah yang dihadapi karyawan. Ibaratnya, para karyawan membutuhkan orang tua untuk mengadu dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. HRD sebagai “orang tua” berfungsi sebagai jembatan antara aspirasi dan keluhan karyawan dengan kebijakan top management. Untuk itu diperlukan pimpinan HRD yang proaktif dan mempunyai kemampuan komunikasi yang baik. Ingat, HRD adalah penghubung, penyambung lidah karyawan dengan top management. Tugas mulia ini tidak akan berhasil tanpa kemampuan komunikasi yang baik. Percaya deh..!

Teman saya yang bekerja di salah satu perusahaan swasta pernah cerita tentang kisah HRD yang hanya berfungsi sebagai eksekutor yang sangat patuh pada kebijakan dari “atas”. Seolah tidak punya jiwa fighting untuk menyampaikan aspirasi “bawah”. Ia berfungsi hanya sebagai robot yang bertindak berdasarkan perintah yang sudah diprogram. Lama-lama, karyawan juga jadi males ngomong. Percuma ngomong sampai berbusa-busa menyampaikan masukan kalau nggak pernah diperjuangkan. Akan timbul degradasi kepercayaan pada HRD yang pada akhirnya menimbulkan pesimisme akut dari karyawan. Ujung-ujungnya karyawan jadi bingung, karena person yang mereka anggap sebagai orang tua tidak mampu berbuat banyak untuk mereka. Kalau ke orang tua saja tidak diopeni, karyawan mau mengadu pada siapa lagi?

Jika memang karyawan adalah aset perusahaan, pembinaan dan pengembangan karyawan adalah harga mati. Pada dasarnya pimpinan di setiap level pada perusahaan baik itu supervisor, department head, manager, bahkan direksi harus memiliki tanggung jawab dalam men-develop human resource-nya. Tapi porsi tanggung jawab terbesar tetap ada di departemen HRD. Maka diperlukan pimpinan HRD yang visioner, bermental kuat, berkomitmen tinggi kepada karyawan, mampu berkomunikasi dengan baik, mengayomi karyawan, terbuka terhadap kritik, dan bersedia mendengar. Sulit memang, tapi itulah HRD. Diperlukan manusia-manusia pilihan untuk mengemban tugas dan tanggung jawab yang mulia itu. Bagaimana kalau kriteria itu tidak dipunyai? Ya, bersiap saja untuk sebatas jadi tukang; tukang rekrut, tukang pecat, dan tukang menghadapi demo.

 

Banyumanik, 26 Februari 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: