Skip to content

FOCUS; EAT, SLEEP, AND DREAM WITH…..?

Maret 9, 2010
tags:

Dalam buku berjudul Focus:  The Future of Your Company Depends on it, karya Al Ries, pakar marketing asal Amerika, disimpulkan bahwa perusahaan yang fokus pada core business-nya akan berhasil. Sementara perusahaan yang terlalu banyak melakukan diversifikasi bisnis di luar core business-nya terbukti banyak yang gagal dan merugi. Konsep yang saya percaya juga bisa diaplikasikan pada individu manusia.

Di dunia ini tersedia contoh orang-orang yang fokus. Orang-orang yang fokus pada satu hal yang disenanginya dan sukses (setidaknya menurut kacamata saya). Sekedar mengambil contoh, Tony Wheeler adalah salah satunya. Tony Wheeler adalah pendiri The Lonely Planet, perusahaan penerbitan buku perjalanan terbesar di dunia.

Bermula dari keinginan Tony dan Maureen, istrinya, yang tergila-gila ingin ke Australia, maka pasangan yang berasal dari Inggris ini mencanangkan tekad melakukan perjalanan darat dari Inggris menuju Australia pada tahun 1971. Dengan berbekal mobil bututnya, mereka melintasi Eropa, Asia, menyeberang ke Indonesia, dan menyeberang lautan lagi sampai akhirnya tiba di Australia. Karena keterbatasan uang, sementara tekad untuk berkeliling dunia tidak pernah padam, Tony dan Maureen harus memutar otak agar tetap survice di negeri orang dan tetap bisa kelililng dunia. Akhirnya terbesit ide untuk menuliskan pengalaman perjalanan mereka di beberapa negara dalam bentuk buku. Sebuah buku panduan bagi para backpackers yang masih relatif jarang pada tahun 70-an. Perlahan-lahan tapi pasti, bertahun-tahun kemudian perusahaan penerbitannya, The Lonely Planet, menjadi penerbitan buku perjalanan terbesar di dunia. Kesuksesan yang berawal dari keinginan yang tak pernah padam untuk keliling dunia.

Jika ingin mengambil contoh lain, adalah Trinity, seorang backpacker wanita Indonesia yang telah berkeliling ke 42 negara di dunia. Yang ada dibenak wanita ini adalah jalan-jalan dan jalan-jalan. Jalan-jalan adalah motivasi utamanya sehingga apapun kegiatan yang ia lakukan kalau bisa diarahkan untuk mendukung kegilaannya pada jalan-jalan. Ia bekerja dengan baik sehingga bisa naik gaji yang bisa ditabung untuk jalan-jalan. Kalau bekerja baik, bisa dapat karir bagus dengan gaji bagus sehingga ada uang lebih yang bisa ditabung untuk jalan-jalan. Saat ia melanjutkan studi di Phillipina, ia termotivasi untuk menyelesaikan studi lebih cepat sehingga ia punya waktu lebih banyak untuk jalan-jalan. Jika sekarang tahun 2010, maka ia sudah hapal tanggal merah tahun 2011 plus hari kejepit sebagai bagian dari rencana ia untuk jalan-jalan. Baginya jalan-jalan atau traveling bukan sekedar keinginan lagi tapi traveling is a passion.

Trinity (kanan) di Gramedia Pandanaran Semarang

Hasilnya, Trinity telah menerbitkan 2 buah buku, The Naked Traveler dan The Naked Traveler 2. Blognya ramai dikunjungi dan ia juga sering diundang jadi pembicara di berbagai tempat. Baginya, ini sih seperti sambil menyelam minum Fanta, karena selain ia dibayar jadi pembicara, ia juga bisa menikmati passion jalan-jalannya dengan gratis. Lulus S2, tawaran yang terkait dengan traveling justru lebih banyak daripada tawaran kerja hingga ia memutuskan sebagai full time traveler dan freelance writer.

Contoh lain adalah Hermawan Kartajaya, yang terlanjur jatuh cinta dengan marketing. Demi kecintaanya terhadap marketing, ia tinggalkan jabatan Direktur Pemasaran di PT Sampoerna untuk kemudian membentuk MarkPlus, perusahaan konsultan pemasaran. Kegemarannya menggambarkan model, berhasil menyajikan konsep-konsep marketing yang terkesan serius dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Bahkan Philip Kotler bilang, “Hermawan is great modeler.” Hermawan sendiri adalah seorang edutainment. Tulisan-tulisannya tidak “berat” tapi justru ringan dan menghibur. Saat pertama kali membaca bukunya, Marketing Plus 2000, saya serasa tidak membaca buku dengan konsep “berat” tapi justru bisa enjoy dengan gaya bahasanya.

Konsep pemikirannya tidak hanya diterima di Indonesia tapi juga dihargai dunia. Ia menulis buku dengan pakar marketing dunia seperti Al Ries, Warren J. Keegan, atau Philip Kotler. Eksistensinya juga diakui dunia international. Ia menjabat menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat President World Marketing Association (WMA). Saking cintanya terhadap marketing, Hermawan sampai bilang, “Saya ini eat, sleep, dream, run, joke, travel, and talk with marketing. Saat saya jalan-jalan, saya mikir wah ini apa ya hubungannya dengan marketing.” Wow!! Bahkan jikapun nanti ia meninggal, ia ingin di nisannya tertulis “Di sini berbaring Hermawan Kartajaya, the great marketing contributor.”

Saya jadi mikir, apa fokus saya dalam hidup? Selama ini dengan apa saya eat, sleep, and dream? Pertanyaan yang saya belum mampu saya jawab dengan baik. Mungkin inilah jawaban mengapa saya belum mampu berprestasi sebaik tokoh-tokoh di atas.

 

Banyumanik, 8 Maret 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: