Skip to content

IDOLA

Februari 26, 2010

Apa reaksi anda jika orang yang anda idolakan sejak lama tiba-tiba ada di hadapan anda? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan macam-macam jawaban. Bisa jadi histeris, kaget, tak percaya, senang atau bahkan menangis. Jika pertanyaan itu diajukan ke saya, maka jawaban saya adalah, saya shock!

Saat masih kecil (dan sampai sekarang) saya sangat menggemari sepakbola. Bedanya, di masa kecil kegemaran saya terhadap sepakbola diwujudkan tidak hanya dengan membaca artikel yang berkaitan dengan sepakbola, namun saya juga aktif bermain sepakbola. Kalau sekarang, cukuplah dengan membaca artikel sepakbola. Itupun tidak semua, hanya artikel-artikel tertentu saja. Dan tentu saja, saya juga punya idola pemain sepakbola Indonesia. Begitu mengidolakan pemain ini, sampai-sampai saya pun memasang poster pemain ini bersama timnya di kamar tidur saya. Saya masih ingat persis, pemain idola saya ini berpose jongkok di bagian tengah, ketiga dari kiri. Ia tergabung dalam sebuah kesebelasan perserikatan salah satu kota di Jawa Tengah. Saat itu kompetisi sepakbola tanah air terbagi dua, perserikatan dan galatama. Perserikatan adalah tim sepakbola amatir dengan fanatisme kedaerahan yang tinggi. Sementara galatama biasanya terdiri dari klub-klub sepakbola yang dibiayai oleh perusahaan besar tanah air. Pendek kata, galatama lebih professional, katanya.

Sang idola ini bermain di posisi tengah lapangan sebagai gelandang. Posisi gelandang adalah posisi favorit saya kalau bermain bola. Saya pun menyukai gaya permainannya. Selain itu, tampangnya juga lumayan ganteng. Rambutnya lebat, belah tengah, yang merupakan potongan rambut populer kala itu. Dengan tampang wajah berkumis, maka wajahnya sekilas mirip dengan aktor Herman Felani sehingga tidak malu-maluin lah kalau dijadikan idola. Ini alasan paling subjektif yang merupakan hak preogatif saya dalam mencari figure idola kala itu.

Sebagai pengagum yang loyal saya pun mengikuti dengan seksama berita seputar sang idola ini. Saat kecil saya tinggal di desa Rantau, sekitar 30 kilometer dari ibukota Aceh Timur kala itu, Langsa. Sedangkan sang idola bermain untuk sebuah klub perserikatan di Jawa Tengah. Jarak ribuan kilometer itu membuat saya tak bermimpi untuk bertemu dengannya. Cukuplah dengan membaca berita tentangnya, sudah membuat hati saya senang. Kemungkinan paling rasional adalah melihatnya bertanding jika timnya bermain di Medan, sekitar 150 kilometer dari desa tempat saya tinggal.

Dari perserikatan ia kemudian pindah ke klub galatama yang disponsori salah satu bank daerah di Jawa Tengah. Posisinya pun naik pangkat menjadi kapten. Ia juga pernah berseragam merah putih membela tim nasioanal PSSI. Keinginan saya melihat sang idola bertanding akhirnya kesampaian juga secara tak sengaja. Saya sempat menyaksikannya secara langsung saat ia bersama tim nasional bermain di Stadion Teladan, Medan. Saat itu ia bertanding melawan salah satu klub dari Brasil dalam sebuah pertandingan uji coba. Saya masih sekitar kelas 6 SD saat itu. Era tersebut merupakan masa-masa puncak kejayaannya sebagai pemain sepakbola.

Setelah itu, klub galatama tempat dimana ia bermain bubar. Ia juga tidak masuk lagi dalam tim nasional dan saya pun tidak mengetahui lagi bagaimana kabar sang pemain bola idola saya itu. Bulan berganti diikuti dengan tahun yang berganti pula. Tak ketinggalan, pemain bola idola saya pun ikut berganti. Terakhir, pemain idola saya adalah David Beckham. Kelihatannya saya masih konsisten dengan kriteria waktu kecil dalam memilih idola, pemain tengah dan ganteng. Sebuah kebetulan yang tak direncanakan sebenarnya. Sang pemain bola idola saya saat kecil tak tentu rimbanya.

Sampai suatu ketika, saya mendengar kembali berita mengenai sang idola. Saat sudah tidak dipakai lagi oleh klub, pada akhirnya ia harus gantung sepatu. Sebuah keputusan berat yang harus ia lakoni. Berat tidak hanya karena sepakbola adalah jiwanya, namun juga berat karena sepakbola adalah sumber mata pencahariannya. Sebagaimana lazimnya nasib para sebagian besar atlet Indonesia, masa setelah gantung sepatu merupakan masa perjuangan, terutama dalam hal ekonomi. Tantangan menghidupi periuk nasi keluarga adalah perjuangan tak mudah bagi atlet yang gantung sepatu.

Begitu pula dengan sang idola. Selepas gantung sepatu ia harus mencari pekerjaan baru yang sama sekali tak terkait dengan sepakbola. Ia harus merantau ke Kalimantan bekerja pada perusahaan yang berurusan dengan kayu hutan, satu hal yang sama sekali jauh hubungannya dengan sepakbola. Ia harus tinggal di hutan Kalimantan memproses pemotongan kayu dari bentuk log sampai bentuk papan. Tak jarang ia harus tinggal berbulan di area saw mill, penggergajian kayu, di tengah hutan Kalimantan. Kehidupan keluarganya pun berjalan tidak seperti yang ia harapkan. Dua kali ia gagal menata kehidupan keluarganya. Sebuah ujian yang tentu saja berat baginya.

Saya mendengarkan langsung semua cerita ini dengan terhenyak dan sedih. Mendengarkan langsung? Ya, sang idola sekarang ada di hadapan saya. Inilah untuk pertama kalinya saya bertemu sang idola dan saya shock! Ia sekarang adalah pegawai baru, menjadi salah satu staff saya di perusahaan tempat saya bekerja.

Nasib memang tidak bisa diduga. Keberhasilan dan kegagalan bisa datang dan pergi dengan cepat atau lambat. Seseorang yang dulu saya idolakan, posternya tertempel di kamar tidur saya, yang karena jauhnya jarak tak sekalipun saya bermimpi bertemu langsung dengannya, kini, belasan tahun kemudian ia menjadi menjadi staff saya. Sebuah episode pertemuan yang sedikitpun tak pernah terbersit di benak saya. Sebuah peristiwa yang membuat saya yakin, hidup ini ibarat sebuah roda yang terus berputar. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan di atas dan kapan akan ada di bawah.

Tuhan, sesungguhnya Engkau adalah sutradara dari episode kehidupan manusia dan alam semesta. Engkau Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambaMu. Hanya kepadaMu lah kami berserah diri.

 

Banyumanik, 6 April 2008

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: