Skip to content

KEKUATAN MIMPI (2); MAN JADDA WAJADA

Januari 5, 2010
tags:

Man jadda wajada!” Dulu saat masih SD saya sangat akrab dengan kata ini. Saat kecil dulu, selain pagi bersekolah di SD, siang hari sampai sore, saya juga harus bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah, yang setingkat dengan sekolah dasar. Pelajaran favorit saya saat di Madrasah adalah mahfuzad, yaitu pelajaran hafalan. Saya selalu mendapat nilai bagus di pelajaran ini. Yang dihafal biasanya ayat-ayat pendek Qur’an, hadist-hadist pendek, atau bisa juga syair/pantun arab. Salah satu hafalan yang terus saya ingat ini adalah “man jadda wajada”. Kata-kata “man jadda wajada” ini kembali singgah ke saya saat saya membaca buku Negeri 5 Menara.

Saya mengetahui buku Negeri 5 Menara pertama kali saat berada di North Carolina, Amerika akhir Oktober 2009. Seorang teman meminjamkan buku itu kepada saya dalam perjalanan pulang dari Amerika. Daripada bengong, perjalanan darat menggunakan mobil rental selama lebih kurang 5 jam dari Clemmons, North Carolina menuju Washington DC saya manfaatkan dengan membaca buku ini. Dalam perjalanan udara dari Washington DCLondon, saya masih melanjutkan membaca buku Negeri 5 Menara. Secara kebetulan, buku itu juga mengisahkan pengembaraan sang penulis di Washington dan London.

Negeri 5 Menara terinsipirasi dari kisah nyata sang penulis, A. Fuadi, yang berkisah tentang persahabatan 6 sahabat; Alif, Raja, Baso, Atang, Said, dan Dulmajid di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur yang mereka sebut juga dengan Pondok Madani (PM). Tokoh utama buku ini, Alif, setengah hati memilih pesantren Gontor karena keinginannya bersekolah di SMA terhalang oleh keinginan ibunya yang ingin anaknya melanjutkan ke sekolah agama. Di PM, Alif yang berasal dari Minang, bertemu sahabatnya yang lain yang berasal dari daerah yang berbeda. Raja dari Medan, Baso (Sulawesi), Atang (Sunda), Said (Surabaya), dan Dulmajid (Madura). Mereka bersahabat karib menjalani kehidupan pesantren dengan segala suka dan dukanya.

Hampir mirip dengan tema dan kisah Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara selain berkisah tentang persahabatan juga berkisah tentang mengejar mimpi. Buku ini memotret dengan baik kehidupan pesantren secara rinci, hal yang jarang diulas dalam novel. Mulai dari sistem penerimaan siswa di pesantren, kegiatan dari tengah malam sampai malam, satuan tugas keamanan pesantren, sistem dan metodologi belajar pesantren, penegakan disiplin, sampai hubungan murid dengan para guru di pesantren. Di PM inilah para siswa diperkenalkan dengan kata-kata hebat “man jadda wajada” yang tidak sebatas hanya dikenalkan, tapi benar-benar ditanamkan, diyakini, dan dipraktekkan. Kata-kata dahsyat yang seolah-olah menyihir ke-6 sahabat ini. “Man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil! Kata-kata yang menginsiprasi mereka dan kelak menentukan jalan kehidupan mereka selanjutnya.

Dalam menjalani kehidupan suka-duka pesantren, ke-6 sahabat ini sering melewatkan waktu bersama di menara yang ada di PM. Di menara inilah para sahibul menara bercerita, berangan-angan, dan membangun mimpi tentang cita-cita dan harapan mereka kelak. Mereka bermimpi sambil melihat awan-awan dari atas menara. Bagi Atang, awan terlihat seperti benua Afrika. Baso melihat awan sebagai benua Asia. Menurut Raja, awan adalah Eropa. Said dan Dulmajid melihat pecahan awan sebagai rangkaian kepulauan Indonesia. Sedangkan bagi Alif, awan di langit tergambar sebagai benua Amerika.

Di kemudian hari kelak, selepas lulus dari Pondok Madani, Alif melanjutkan studi di UNPAD jurusan Hubungan International. Lulus dari UNPAD, Alif diterima sebagai wartawan TEMPO, sebuah cita-cita yang sempat ia impikan saat masih menjadi reporter majalah di Pondok Madani. Selanjutnya ia mendapat beasiswa Fullbright pada jurusan School of Media and Public Affairs di Washington University, Washington, USA. Alif yang melihat awan sebagai benua Amerika, akhirnya mewujudkan mimpinya tinggal dan bersekolah di Amerika.

Atang melanjutkan program doctoral S3 di Universitas Al Azhar, Mesir sesuai dengan gambaran awan yang terlihat olehnya sebagai benua Afrika. Baso, si penghafal Al Quran, yang memandang awan sebagai Asia mendapat beasiswa dari pemerintah Saudi Arabia di Mekkah. Raja berkesempatan tinggal di London untuk membagi pemikirannya tentang Islam di London yang sesuai dengan gambaran awan yang oleh Raja adalah benua Eropa. Sedangkan Said dan Dulmajid yang melihat awan sebagai kepulauan Indonesia, bersama-sama membangun dan mengembangkan madrasah di Surabaya.

Takdir dan kehendakNya mewujudkan mimpi ke-6 sahibul menara sesuai dengan gambaran mimpi mereka saat menatap awan di menara Pondok Madani. Mimpi yang dulu mereka tidak tahu bagaimana mencapai dan mewujudkannya. Mereka hanya berani bermimpi dan selanjutnya ALLAH yang akan mengatur. Kekuatan tekad dan keyakinan membimbing mereka mewujudkan mimpi-mimpi. “Man jadda wajada!” Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil!

  

mimpi adalah kunci

untuk kita mewujudkan dunia

berlarilah tanpa lelah

agar engkau meraihnya…

(Song; Laskar Pelangi by Nidji)

 

Banyumanik, 30 Desember 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: