Skip to content

KEKUATAN MIMPI (1); BERMIMPILAH!

Desember 29, 2009
tags:

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” ….(Arai) 

Film Sang Pemimpi

Dalam waktu yang berselang tidak terlalu lama, dengan 2 media yang berbeda yaitu film dan buku, saya disuguhi oleh satu topik yang sama. Topik itu adalah tentang MIMPI. Bukan mimpi dalam artian bunga tidur yang suka singgah saat kita tidur. Yang kadang bisa bikin orang ngos-ngosan atau bisa juga bikin orang bahagia. Bikin ngos-ngosan, kalau saat tidur mimpi dikejar harimau di hutan angker! Bikin bahagia, jika bermimpi berkencan dengan Tamara Blezinsky di atas kapal di tengah lautan luas nan indah. Kalau jenis mimpi ini yang didapat, kalaupun terbangun, tetap berharap semoga saat tidur lagi mimpinya bisa nyambung. Topik MIMPI yang saya maksud adalah mimpi dalam artian keinginan, harapan, dan cita-cita. 

Media pertama adalah film. Sekitar pertengahan Desember lalu saya menonton film Sang Pemimpi yang diangkat dari novel Laskar Pelangi dengan judul yang sama karangan Andrea Hirata. Film Sang Pemimpi kabarnya sudah ditonton oleh 1,2 juta orang hanya dalam tempo 10 hari pertama sejak film itu launching di bioskop-bioskop. Kata-kata yang tertulis di awal artikel ini adalah kata-kata yang tercetak di bagian belakang pembatas buku Edensor, buku ke-3 dari tetralogi Laskar Pelangi. Menonton film Sang Pemimpi mengingatkan saya kembali pada novel Laskar Pelangi. Novel terhebat yang pernah saya baca sejauh ini. 

Novel Sang Pemimpi dan Edensor mampu secara apik mengisahkan dan juga membuktikan kekuatan sebuah mimpi. Di jaman yang semakin maju ini, kompetisi dan persaingan menjadi lebih sengit. Masuk sekolah, mulai dari SD sampai perguruan tinggi adalah contoh nyata kompetisi, baik kompetisi intelegensia maupun kompetisi uang alias yang bisa nyumbang lebih banyak punya kans lebih besar masuk sekolah baik negeri ataupun swasta.  Persaingan yang meminjam istilah Amien Rais, ceto welo-welo. Melamar kerja apalagi. Lihat saja apa yang terjadi di Job Fair. Pelamar bejibun, membludak, empet-empetan, dan berantrian panjang. Dengan kondisi ini sangat wajar banyak orang yang bersikap realistis karena bermimpi akan masuk dalam golongan pungguk merindukan bulan. 

Tapi hebatnya, Andrea Hirata dalam novelnya justru berkesimpulan bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Episode hidup manusia bukan rentetan kebetulan melainkan bagian dari realisasi mimpi-mimpi manusia. Episode hidup manusia adalah rangkaian mozaik-mozaik yang tersusun berdasarkan mimpi dan usaha dari manusia itu sendiri. 

Mimpi Arai dan Ikal, 2 tokoh utama dalam Sang Pemimpi dan Edensor, terinspirasi dari ucapan Drs Julian Ichsan Balia, guru favorit mereka semasa SMA; 

“…berkelanalah di muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu. Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kaki di atas altar almamater terhebat tiada tara: Sorbonne…,“ 

Demikian semangat yang dikobarkan oleh Pak Balia. Kata-kata ini menjadi mimpi Arai dan Ikal. Berbekal tekad untuk mewujudkan mimpi, mereka mampu mendapatkan beasiswa Uni Eropa walaupun sempat luntang-lantung di Jakarta. Hebatnya, mereka berdua mendapat beasiswa master di Universite de Paris, Sorbonne! Tidak berhenti sampai di situ, Arai dan Ikal berkelana sebagai backpacker mengelilingi Eropa mulai dari Prancis, Belanda, Jerman, Skandinavia, Irlandia, Helsinki, Belomorsk, Moskow, Kunghur, Belush’ye, Hovyannaya, Yunani, Balkan, Estonia, Swiss, dan Italia. Menyeberang ke Afrika melewati Tunisia, Zaire, dan Cassablanca. Lalu menyeberang kembali ke Eropa melalui Portugal, Spanyol dan kembali ke Prancis. Arai dan Ikal berkelana ke 42 negara hanya berbekal keberanian dan tekad yang didasarkan pada mimpi! 

Maka tak ada salahnya bermimpi. Bermimpi bersekolah sampai jenjang tertinggi, mempunyai karir yang gemilang, menjadi menteri, Presiden, anggota DPR (yang tidak korup), menjadi ayah yang hebat, ibu yang luar biasa, punya anak yang pintar dan shaleh, punya istri secantik Megan Fox tapi shalehah, punya suami seganteng Keanu Reeve tapi shaleh, menjadi ulama, menjadi pengusaha hebat, atau menjadi penjual cendol yang sukses. 

Seperti kata Arai, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”  

  

Banyumanik, 27 Desember 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: