Skip to content

PELAJARAN SEHARI SEBELUM NATAL

Desember 26, 2009

Piye Fad?”

Demikian isi sms yang masuk ke hand phone saya Kamis pagi, 24 Desember. Sms dari seorang sahabat. Jam menunjukkan jam 06.15. Seharusnya ini adalah pertanyaan biasa. Tapi tidak di Kamis pagi itu. Ada kegalauan yang saya rasakan dari sms itu. Hal yang tersirat tidak sesederhana isi tersurat dari pesan sms itu.

Aku sudah berunding dengan keluarga. Kelihatannya aku lanjut. Kamu gimana?”, cepat saya balas sms-nya.

Masih ragu bahkan sampai sekarang, tapi kayaknya out, Fad..” , sang sahabat membalas.

Saya termenung beberapa saat. Jam menunjukkan pukul 06.35, saya harus segera berangkat ke kantor.

Sepanjang perjalanan ke kantor isi pesan itu terus menganggu pikiran saya. Tiba-tiba tenggorokan ini terasa tercekat. Dada serasa sesak. Tanpa disadari, mata saya basah. Di pikiran saya, kelihatannya hari ini akan menjadi hari yang berat.

***

Perusahaan ingin melakukan relokasi, berpindah lokasi dari tempat sekarang ke tempat lain. Secara umum, hal ini disambut positif oleh karyawan. Hampir semua berencana untuk bergabung dengan perusahaan di lokasi yang baru. Namun sesuatu yang tidak diduga terjadi sehingga berimbas pula terhadap keputusan karyawan terhadap rencana relokasi, bergabung atau tidak. Sungguh suatu hal yang tidak diduga sebelumnya. Manusia bisa berencana namun Tuhan berkuasa untuk menentukan.

Dugaan saya bahwa hari itu akan menjadi hari yang berat terbukti. Hari itu terasa begitu sepi. Waktu serasa berjalan terlalu lama. Masing–masing karyawan terbenam dengan perasaannya sendiri-sendiri. Hari itu adalah hari paling sunyi. Beberapa karyawan, baik yang menyatakan bergabung atau tidak bergabung terlihat emosional dengan mata berkaca-kaca setelah menyampaikan sikapnya. Sesaat setelah saya menyampaikan keputusan, iseng saya melihat hand phone. Ada tanda sms unread;

Hari2 terberat dalam hidup saya..belum pernah sy merasakan kegalauan sedemikian luar biasa…Tuhan..biarkan kuasaMu yg bekerja untuk saya..”

Sms dari sahabat yang terlambat saya baca, masuk beberapa menit sebelumnya.

Hidup tidak selalu bergerak linear. Titik kehidupan kadang bergerak ke atas, menurun, atau mendatar. Hidup juga sebuah ketidakpastian. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang terjadi besok. Namun ketidakpastian itulah yang suka tidak suka harus dihadapi manusia dalam menjalani kehidupan ini. Hidup menghadapkan kita pada pilihan-pilihan. Begitu banyaknya sampai kita tak mampu mengingat dan menghitung pilihan dalam hidup ini. Seorang anak harus memilih berhenti sekolah karena ingin membantu orang tuanya sementara orang tua memilih tidak meneruskan sekolah anaknya karena tak punya biaya. Ada manusia yang memilih melacurkan diri dan martabatnya demi uang sementara ada juga manusia yang lebih memilih miskin demi menjaga martabat dan harga dirinya sebagai insan yang mulia.

Hari itu saya mendapat beberapa pelajaran penting. Secanggih dan sematang apapun rencana yang dibuat, masih ada faktor lain diluar jangkauan manusia yang menentukan. Hari itu saya juga mendapatkan pelajaran menentukan pilihan dan membuat keputusan yang sulit. Di tengah kegalauan karena hal di luar dugaan, kebingungan membuat keputusan, sesungguhnya adalah bukti ketidakberdayaan manusia. Di saat-saat seperti itu, manusia membutuhkan “sandaran” dari orang-orang terdekat; keluarga, sahabat, dan terutama Tuhan. Dia-lah sesungguhnya yang paling menentukan dan paling berkuasa atas rencana, keputusan yang dibuat, dan semua peristiwa yang terjadi. Tuhan-lah tempat kita bersandar sesungguhnya.

Jumat pagi, 25 December 2009, ternyata ada sms unread di hand phone saya. Sms dari sahabat yang dikirim pada Kamis malam, jam 23.15. Isinya;

Malam ini Natal yang paling indah yang pernah saya punya. Mengingatkan kembali arti hidup, teman, cinta, dan pengharapan. Semoga damai Natal dan kasih Tuhan memberi kekuatan untuk semuanya.”

Saya terharu dengan isi pesan itu. Mudah-mudahan ALLAH SWT memberikan kekuatan dan menuntun kami ke jalan yang terbaik. Amiin

 

Banyumanik, 25 December 2009

This article is dedicated to my friends. God will guide us on decision we made…..

2 Komentar leave one →
  1. muji rahayu permalink
    Januari 15, 2010 6:11 pm

    walau agak terlambat saya membaca article ini.tapi saya sempat terharu juga waktu membaca article ini. teringat kembali kejadian beberapa bulan yg lalu saat saya harus membuat suatu putusan.ternyata apa yg saya rasakan waktu itu dirasakan oleh teman-teman juga.Betapa beratnya untuk membuat suatu Putusan,kita memang membutuhkan tempat bersandar,teman,sahabat,keluarga dan Tuhan.
    Semoga jalan yg sudah saya tempuh dan jalan yg sudah ditempuh teman-teman adalah jalan yg terbaik dan di Ridhoi oleh Tuhan…Amin

    • Fadhly Syofian permalink*
      Januari 19, 2010 7:28 am

      setidaknya Mba Muji tidak sendiri….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: