Skip to content

KEBODOHAN DI SEKITAR KITA

September 3, 2009

“Some problems we have not only caused by mistakes but also caused by “stupidity”!”

Demikian komentar Operational Director saat menemukan beberapa problem yang terjadi di shop floor. Sebuah kritik yang perlu jadi perhatian kita bersama. Beberapa hal di bawah semoga bisa membantu maksud dari statement di atas.

Suatu malam, sekitar pertengahan Juli lalu, saya baru saja keluar dari SPBU sehabis mengisi bensin di Jalan Dr Cipto, Semarang. Waktu menunjukkan sekitar pukul 7 malam. Jalan Dr Cipto agak lengang malam itu dan saya pun berkendara motor dengan kecepatan sedang di jalan yang hanya satu arah ini. Penerangan di jalan ini memang tidak terlalu terang. Entah karena lampu jalan yang kurang atau lampunya sudah banyak yang mati. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan kehadiran sepeda yang muncul dari sebuah gang yang mencoba menyeberang jalan dari kiri ke kanan. Saya yang berkendara di sisi kiri jalan sontak kaget. Dengan cepat saya menarik dan menginjak rem depan dan belakang. Sempat terdengar suara dencitan rem belakang motor saya. Syukur, motor mampu bergerak perlahan sehingga si sepeda nekat ini tidak sampai tertabrak oleh saya.

Saya sudah ingin menghujat si pengendara sepeda. Namun belum sempat saya menghujat, tiba-tiba terdengar suara BRAAKKK! keras sekali. Saat saya menoleh ke kanan, si pengendara sepeda yang menyeberang dan masih di tengah jalan ditabrak oleh sepeda motor yang melaju kencang. Motor terguling dua kali, demikian juga si pengendara sepeda. Ia berhasil lolos dari dari saya, tapi tak berhasil menghindari hantaman motor lain di tengah jalan. Dilihat dari tabrakan yang terjadi, kemungkinan keduanya luka cukup parah.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, bukan main jengkelnya saya kepada si pengendara sepeda. Bukannya tidak mau kasihan karena ia sedang luka parah, tapi kecelakaan itu murni karena kesalahannya. Ia hampir saja membuat saya celaka dan akhirnya orang lain yang menjadi celaka. Betapa malangnya sang pengendara motor. Ia harus menanggung derita akibat kecerobahan orang lain. Andaikan si pengendara sepeda lebih sabar, lebih hati-hati tentu kecelakaan tidak terjadi. Intinya, akibat kecerobohan si pengendara sepeda, ia tidak hanya merugikan dirinya tapi juga merugikan orang lain. Manusia itu (termasuk saya) kadang suka melakukan hal atau tindakan yang tidak perlu. Kasarnya kita sering melakukan kebodohan. Kejadian yang saya ceritakan di atas adalah contoh nyata dari sebuah kebodohan.

Jika ingin mengurai beberapa contoh lain, daftar berikut bisa jadi adalah kebodohan yang sering kita lihat. Di jalan raya, saat lampu masih merah, tetap saja ada yang nyelonong. Apalagi jika tidak ada polisi. Karcis tol berserakan di pintu tol karena karcis tol boleh dibuang sembarangan lewat kaca mobil. Tidak hanya karcis tol, bungkus permen, atau sampah lain sering dilempar lewat kaca mobil. Dilakukan oleh pengendara mobil butut sampai mobil mewah sekalipun. Dari kecil kita sudah diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya, sebuah ajaran yang tak mempan untuk dipraktekkan. Mobil boleh mahal, berharga ratusan juta, dilengkapi oleh audio puluhan juta, namun tak mampu membeli tempat sampah berharga kurang dari Rp10,000! Ini kebodohan lain. Kali dan sungai di Indonesia tak ada yang bersih karena orang-orang yang gemar membuang sampah ke kali dan sungai. Akibatnya timbul penyakit dan banjir. Ini juga efek dari kebodohan.

Dalam bekerja saya pun bisa melihat contoh lain. Saya sempat melihat beberapa karyawan yang jajan di warung 5 menit sebelum bel waktu istirahat berbunyi. Tidakkah mereka berpikir kalau mereka bisa mendapat warning karena tindakan tersebut? Tidakkah mereka bisa sedikit lebih bersabar? Apakah 5 menit itu terlalu lama sehingga berani mengambil resiko mendapat warning daripada menunggu 5 menit? Ini juga kebodohan. Belum lagi karyawan yang nekat merokok di area pabrik yang jelas-jelas dilarang merokok. Ia akhirnya dikeluarkan. Lalu ada karyawan yang memeras supplier demi mendapat “uang sampingan”. Efeknya ia pun dikeluarkan. Para koruptor itu bisa jadi mendapat uang besar tapi mereka merusak harkat dan martabat dirinya dan merugikan orang banyak. Ini juga kebodohan yang nyata.

Tiba-tiba saya terkaget karena mendapati ada lubang di depan saya. Dengan sigap saya menghindari lubang tersebut. Ternyata selama berkendara, saya terlalu jengkel dengan si pengendara sepeda itu sehingga pikiran menerawang dan tidak focus saat berkendara. Hampir saja celaka! Ini juga bagian kebodohan.

Semoga kita semua mampu berintrospeksi. Semoga kita terhindar untuk melakukan kebodohan. Semoga!

Banyumanik, 23 Agustus 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: