Skip to content

MBAH SURIP, WS RENDRA, & REFLEKSI DIRI

Agustus 21, 2009
tags:

WS Rendra (picture from serdadu95.files)

WS Rendra (picture from serdadu95.files)

Baru beberapa waktu lalu saya sempat menulis artikel tentang Mbah Surip, si penyanyi lagu Tak Gendong yang cukup populer itu. Tak disangka beberapa hari kemudian, si Mbah Surip dipanggil menghadap Sang Kuasa. Meninggalnya Mbah Surip cukup membuat banyak orang kaget tak percaya. Tak lama berselang, beberapa hari kemudian, dunia seni Indonesia kembali kehilangan penyair terbaiknya. WS Rendra meninggal dunia karena sakit. Kebetulan kedua orang seniman ini berteman akrab semasa hidupnya. Keduanya pun dimakamkan di satu tempat yang saling berdekatan di Bengkel Teater milik WS Rendra di Depok.

Berita dan peristiwa meninggalnya 2 seniman ini mendapat perhatian cukup besar dari media massa. Harian Kompas bahkan memuat berita tentang WS Rendra selama 3 hari berturut-turut! 2 hari berturut-turut Kompas menjadikannya sebagai headline di halaman pertama dengan porsi halaman yang cukup besar. Di hari ke-3, Kompas menyajikan 2 halaman penuh khusus membahas tentang WS Rendra. Sedangkan berita meninggalnya Mbah Surip selalu menghiasi berita baik news maupun infotainment selama beberapa hari. Perhatian khalayak pada kedua orang seniman itu saat meninggal cukup besar. Tak terhitung begitu ramainya orang-orang yang datang melayat, memberi simpati, dan mengantarkan mereka ke peristirahatannya yang terakhir, mulai dari rakyat jelata, sesama seniman, tokoh masyarakat, hingga pejabat negara. Bisa jadi karena kedua seniman ini adalah orang “besar”. Menurut Sayyid Quthub seorang intelektual dari Mesir yang hidup di awal abad 20, “orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup dan mati sebagai orang kerdil dan orang yang hidup bagi orang lain akan hidup dan mati sebagai orang besar.”

Meninggalnya 2 seniman besar ini membuat saya jadi berpikir, tak ada yang mampu menebak sampai kapan kita ini hidup, kecuali Sang Khalik. Saya pun jadi merenung, bisa jadi umur saya masih lama, tapi bisa jadi juga umur saya cuma sampai besok. Tapi yang pasti, suatu saat nanti saya pasti akan meninggal. Jasad akan dimandikan, dikafankan, di-shalat-kan, lalu ditandu dan dibawa ke liang kubur. Tentu saya tidak berani berkhayal akan diantar dan didoakan oleh ratusan orang seperti para pelayat yang mengantar Mbah Surip dan WS Rendra karena ada orang yang mau menguburkan saja itu sudah syukur alhamdulillah. Di liang kubur jasad ditimbun dengan tanah, tinggal sendirian, gelap, tak ada teman, diinterograsi oleh malaikat tentang apa yang dilakukan selama hidup. Selanjutnya kulit dan daging akan membusuk, dimakan cacing dan ulat hingga akhirnya tinggal tulang belulang. Tak tahu pula berapa lama akan berada di dalam kubur sampai nanti dibangkitkan kembali saat datangnya hari kiamat. Membayangkan hal ini, akal saya tak cukup kuat menjangkaunya.

Pertanyaannya, jika besok saya meninggal, apakah saya sudah siap bekal? Maka imajinasi saya tentang kematian ini seperti memaksa saya untuk berintrospeksi lebih dalam. Maka teringatlah dosa yang pernah saya perbuat kepada orang tua, sesama manusia, dan dosa kepada Sang Khalik. Tuhan pasti akan meminta pertanggung-jawaban, baik sebagai anak, sebagai manusia, sebagai suami, pemimpin, sebagai orang tua, maupun sebagai makhluk Tuhan. Semakin ragu pula saya terhadap keputusan Tuhan kepada saya, apakah akan dipersilahkan masuk ke surga atau ditendang ke neraka?

Sebagai hamba Tuhan yang terlihat sangat lemah dihadapan Sang Kuasa, sudah sepantasnya saya mohon ampun. Tiada yang kekal kecuali amal dan ilmu yang bermanfaat. Manusia itu cuma onggokan daging dan darah yang pada akhirnya akan membusuk dan tinggal tulang-belulang. Maka semoga kita tidak disilaukan oleh kedudukan, harta, dan kesombongan, suatu hal yang tiada kekal adanya.

Dalam menyambut bulan puasa yang tinggal beberapa hari lagi, sudah sepatutnya pada kesempatan yang baik ini dengan hati tulus saya mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan saya. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.

Selamat meningkatan amal pada bulan yang suci dan penuh berkah ini. Semoga Sang Penguasa Alam menerima ibadah dan mengampuni dosa-dosa kita.

Banyumanik, 27 Sya’ban 1430H / 17 Agustus 2009

Sent: Friday, August 21, 2009 5:35 PM

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: