Skip to content

TAKJUB LIHAT POHON SINGKONG? IT’S ALL ABOUT PERSPECTIVE!

Juli 9, 2009

The Naked TravelerHari Jumat, 23 Mei, karena kantor kebetulan libur akibat pemadaman bergilir oleh PLN, saya dan keluarga pergi ke toko buku Gramedia Java Mall. Selain untuk melihat buku-buku baru, tentu saja untuk refreshing. Entah kenapa kalau ke toko buku, pikiran bisa lebih santai dan enjoy. Tujuan lain untuk membiasakan si kecil terbiasa dengan buku. Saat di Gramedia Java Mall, ada pamphlet tentang kedatangan Trinity, penulis buku The Naked Traveler di Gramedia Pandanaran. Acara digelar jam 7 malam. Karena menyukai buku tersebut, kami sepakat untuk pergi ke Gramedia Pandanaran.

Saya membeli buku The Naked Traveler sekitar pertengahan Maret 2009. Si penulis, Trinity, ini adalah seorang backpacker wanita yang telah berkeliling ke 37 negara di dunia. Trinity adalah nama samaran. Nama asli dan tahun kelahirannya dirahasiakan. Mungkin takut ketahuan kalau dia dah banyak umurnya. The Naked Traveler tak ada hubungannya dengan arti telanjang, karena naked di sini pelesetan dari nekad karena jika Trinity sekarang mampu berkeliling dunia, nekad itu adalah salah satu modalnya. Kata naked ini semacam trik dari Trinity untuk membuat blognya mudah diingat dan lebih ramai dikunjungi (maklum, orang khan paling demen bersinggungan dengan hal yang berbau porno). Trinity yang tinggal dan bekerja di Jakarta, ternyata lulusan dari Undip lalu melanjutkan S2 di Manila, Philippina.

The Naked Traveler cukup menarik. Ditulis dengan gaya bahasa santai dan lucu sehingga pembaca bisa menikmati buku ini dengan enjoy pula. Isi buku dibagi berdasarkan subjek tertentu. Misal airport di berbagai negara, alat transportasi yang unik, tips perjalanan ke luar negeri sampai rupa-rupa toilet di berbagai negara ia ceritakan. Atau ada juga Bab “Life Suck!” yang bercerita tentang pengalaman tidak menyenangkan saat bepergian di luar negeri. Buat yang suka jalan-jalan, buku ini pasti bermanfaat. Pengalaman membaca buku ini yang mendorong saya untuk bertemu penulisnya.

Trinity (kiri) di Gramedia Pandanaran Semarang

Trinity (kanan) di Gramedia Pandanaran Semarang

Jam 7 lewat acara di mulai. Awalnya acara berlangsung kaku. Saat MC bertanya siapa yang sudah ke Philippina dan meminta volunteer, saya pun maju. Saya cerita kalau selama di Philipina saya sering diajak bicara bahasa Cebuano (bahasa lokal di pulau Cebu). Sebabnya, paras orang Philippina mirip banget sama orang Indonesia. Setelah itu suasana lebih cair dan acara berlangsung dengan lebih hidup. Dari acara itu saya merasa kalau Trinity di buku lebih lucu daripada saat ia berbicara.

Trinity bercerita, saat di Puerto Rico, bis yang ditumpanginya berhenti di halaman rumah. Ia sempat bingung, objek wisata apa yang mau dilihat. Tiba-tiba si guide bilang “Ladies and gentlemen, this is…banana tree! Lha, pohon pisang jadi objek wisata! Bagi orang Indonesia mah sudah biasa! Hebatnya, para turis lain asyik berfoto ria. Cerita ini juga ada di buku The Naked Traveler.

Mendengar cerita ini saya jadi ingat saat menemani beberapa petinggi FBN (Furniture Brand Next) Amerika meninjau area yang akan dijadikan ekspansi pabrik baru. Saat itu sebagian area masih berupa sawah dan kebun. Ada seorang petinggi itu begitu excited saat saya beritahu tentang padi. Begitu pula betapa takjubnya ia saat saya beritahu pohon jambu dan pohon singkong! Saat ia takjub, giliran saya yang heran. Masak lihat pohon singkong saja bisa takjub?

Ini persoalan cara pandang, soal perspektif! Ini mengingatkan saya bahwa dalam memandang persoalan tidak cukup dari perspektif saya sendiri tapi juga harus dari perspektif orang lain. Jika ada staff kita yang bermasalah, maka selain dari perspektif pribadi, masalah itu juga harus dilihat dari perspektif staff kita. Bagaimana jika kita jadi mereka? Jelas saja orang Amerika takjub dengan pohon singkong, karena singkong cuma hidup di negara tropis sedangkan Amerika bukan negara tropis. Jadi, singkong adalah tanaman langka di sana. Sama halnya, saya pasti takjub jika melihat pohon kiwi, karena kiwi cuma ada di Australia. Dalam hal mengambil keputusan juga demikian. Akan lebih baik jika keputusan yang diambil telah mempertimbangkan kedua perspektif tersebut.

Yang menarik, menurut Trinity, semakin ia berkunjung ke banyak negara, semakin ia mencintai Indonesia, tanah air yang sudah diakrabinya sejak kecil. Anugrah alam, pemandangan, dan budaya Indonesia, menurutnya cukup kaya dan beragam. Saya jadi berpikir, kita itu sering lupa dan under estimate dengan yang ada di sekitar kita, entah itu lingkungan atau orang-orang di sekitar kita. Kita merasa kehilangan justru saat orang tersebut tak ada di dekat kita, tapi justru sering melupakan teman, rekan, sahabat, dan keluarga justru pada saat mereka masih ada.

 

Banyumanik, 24 May 2009

3 Komentar leave one →
  1. sulistiorini permalink
    November 26, 2009 4:54 pm

    menyenangkan juga baca ini..he2..

  2. muji Rahayu permalink
    November 27, 2009 5:58 pm

    jalan terus Boss articlenya, jangan sampai kelupaan nulis..he..he
    gw akan slalu baca dan ikutin terus di Blog Boss walau udah keluar.

    • Fadhly Syofian permalink*
      November 28, 2009 5:19 pm

      halo Rini & Mba Muji….
      wah gimana kabarnya? dan gimana bisnisnya, mudah-mudahan tambah maju ya…

      bener nih mbak Muji….sudah lama sekali saya nggak nulis. Karena satu dan lain hal, sudah 3 bulan AOTW mandeg. Terus terang, saya khan harus punya tanggung jawab moral juga terhadap apa yang saya tulis.

      Mudah-mudahan lah, saya bisa segera menulis bebeerapa artikel biar blog ini lebih up to date. Terima kasih sudah diingatkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: