Skip to content

SURVEY, PERSONAL, & PERSEPSI

Juli 7, 2009

Survey, Personal, & PersepsiAkhir bulan Juni 2009, diadakan survey kepemimpinan di perusahaan tempat saya bekerja. Para staff diminta menjawab kuesioner dan diminta untuk menilai managernya. Saya pun tak luput untuk dinilai oleh semua staff di 7 departemen produksi yang saya pimpin. Pada saat membahas hasil survey kepemimpinan, saya memutuskan untuk memposisikan diri saya sebagai pendengar. Artinya segala komentar yang masuk, tidak berusaha saya tanggapi satu per satu atau secara detail. Kalaupun ada komentar, tanggapan saya hanya secara global saja tanpa mencoba untuk menanggapi setiap komentar. Mengapa? Ada beberapa alasan. Alasan pertama, mungkin ini momen yang baik untuk mendengar unek-unek karyawan. Alasan kedua, komentar yang diberikan saat survey merupakan pendapat sangat personal, sangat pribadi sehingga sangat mungkin Si A berpendapat bahwa saya seorang yang tegas, sementara si B berpendapat saya kurang tegas. Jadi agak percuma juga kalau saya jawab satu per satu. Alasan ketiga, karena sifatnya sangat personal, pendapat/komentar/jawaban yang diberikan saat survey sangat dipengaruhi oleh persepsi, perasaan, atau emosional saat menjawab kuesioner.

Contoh sangat sederhana, jika sebelum survey/pengisian kuesioner semua responden (Supervisor, Superintendent, dan Departement Head) saya berikan warning tertulis, bisa dipastikan hasil jawaban kuesioner mengenai saya pasti NEGATIF. Sebaliknya jika sebelum pengisian kuesioner, semua performance appraisal saya beri nilai bagus semua, apakah saya akan mendapat respon positif? Jawabannya, belum tentu! Lho kok?

Ada teori yang berpendapat, persepsi/image negative itu relatif lebih mudah diperoleh dan hasilnya juga cepat, bisa saat itu juga. Sedangkan untuk mendapat image positif itu perlu waktu karena membutuhkan proses untuk mendapatkan hasilnya. Orang yang mencuri ayam tetangga (dan ketahuan) pasti seketika itu juga akan dicap sebagai maling oleh orang di kampungnya (persepsi/image negative). Sedangkan orang yang terlihat bersedekah tidak seketika itu akan dianggap sebagai orang yang murah hati namun perlu waktu dan proses sebelum ia dianggap sebagai seorang dermawan. Itulah sebabnya ada peribahasa, “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya!” Begitulah kira-kira ilustrasinya.

Saat kuliah dulu, skripsi saya mengenai positioning, segmentasi pasar, dan strategi bisnis. Studi kasusnya persaingan antara Baygon dan Hit. Metode pengumpulan data diperoleh dari kuesioner. Kuesioner yang dibuat bertingkat. Maksudnya ada 2 kuesioner, dimana kuesioner kedua dibuat berrdasarkan hasil dari kuesioner pertama. Itu sebabnya saya relative paham mengenai format penyusunan, penyebaran, pemilihan sample responden, dan pengolahan data kuesioner termasuk pula hal yang mempengaruhi jawaban kuesioner. Dari pengalaman saat penyusunan skripsi tersebut, PERSEPSI merupakan faktor dominan yang mempengaruhi jawaban kuesioner. Persepsi dibentuk oleh informasi, pengalaman, dan perasaan responden.

Kembali pada survey kepemimpinan, pertanyaan selanjutnya, seberapa besar manfaat dari survey ini? Jawabannya tergantung pada 2 hal. Pertama, tergantung jawaban survey oleh responden, apakah lebih dominan rasionalitasnya atau emosionalitasnya. Kedua, tergantung dari bagaimana manager mensikapi hasil survey itu. Ini mirip skema INPUT —> PROSES —> OUTPUT. Jika ingin ayam goreng, maka inputnya harus ayam, prosesnya digoreng dengan minyak goreng (bukan minyak wangi), outputnya pasti ayam goreng. Tidak mungkin jadi ayam goreng jika inputnya ikan, prosesnya dibakar, karena ouputnya pasti ikan bakar!

Demikian pula dengan survey kepemimpinan. Diperlukan input dan proses yang benar untuk mendapatkan output yang OK. Input berupa jawaban dari responden sementara proses adalah cara manager mensikapi survey. Keduanya saling terkait dan sama dominannya. Keduanya juga memiliki kesamaan. Sama-sama membutuhkan kejujuran, kelegaan, dan tanggung jawab dalam menjawab dan mensikapi hasil survey. Tanpa itu survey hanya akan menjadi sebuah catatan di atas kertas.

Banyumanik, 5 July 2009

Sent: Tuesday, July 07, 2009 12:09 PM

4 Komentar leave one →
  1. Muji Rahayu permalink
    Juli 7, 2009 5:29 pm

    Pak Fadhly,
    Menanggapi email dibawah,terutama yg saya cetak tebal, saya kurang setuju.

    ……jika sebelum survey/pengisian kuesioner semua responden (Supervisor, Superintendent, dan Departement Head) saya berikan warning tertulis, bisa dipastikan hasil jawaban kuesioner mengenai saya pasti NEGATIF……..

    Jika saya kena Warning,saya tidak selalu menilai jelek / negatif kepada orang yg telah memberi warning kepada saya. Saya cuma koreksi diri, kenapa saya sampai kena warning. Justru dari kejadian itu saya berusaha mempelajari karekter si pemberi warning saya,sebenarnya keinginan dia seperti apa. Sehingga untuk selanjutnya saya memacu diri untuk bisa mengikuti keinginan dia. Karena setiap pemimpin pasti mempunyai karekter dan keingginan yg berbeda-beda yg harus diikuti oleh bawahanya.

    Saat ada meeting Survey kepemimpinan kemarin memang saya belum mengeluarkan keinginan dan uneg-uneg saya.

    Sebenarnya saya masih punya uneg-uneg dan keinginan kepada Bapak sebagai Pimpinan saya. Saya hanya menginginkan supaya Bapak bisa membuat Div 2 sebagai team yg solid. Yang penting dicari Solusi perbaikanya supaya barang tersebut dapat segera diproses dan bisa jadi container.

    Saya tetap akan bertanggung jawab terhadap semua kesalahan yg ditimbulkan oleh team saya. Saya akan selalu mengajak dan memberi pengertian pada team saya untuk kerjasama dg team Finishing karena kita 1 Divisi. Mungkin Cuma itu saja uneg-uneg saja yg bisa saya sampaikan melalui email ini.

    Selama saya bekerja di MSI baru sekali ini saya mempunyai pimpinan yg saya inginkan seperti Bapak. Banyak hal Positif yg diajarkan Bapak untuk membawa kemajuan Team. Salah satunya mengajarkan kita untuk selalu Belajar. Itulah yg membuat saya termotivasi dibawah pimpinan Bapak.

    Regards,
    MR

    • Fadhly Syofian permalink*
      Juli 7, 2009 5:33 pm

      Panggil nama aja mba’ biar enak.

      Mungkin redaksional kalimat yang tepat seperti ini

      …..jika sebelum survey/pengisian kuesioner semua responden (Supervisor, Superintendent, dan Departement Head) saya berikan warning tertulis, hampir bisa dipastikan hasil jawaban kuesioner mengenai saya pasti NEGATIF

      Saya rasa Mba’ Muji benar. Kalimat saya dalam artikel mengambil kesimpulan yang paling umum terjadi. Tetap ada pengecualian, walaupun persentase-nya kecil. Orang-orang yang berusaha objektif seperti yang Mba Muji lakukan masuk dalam persentasi kecil ini.

      Terkait dengan di mana suatu revisi harus dilakukan. Konsep ideal, revisi (walau kecil) tetap harus dilakukan oleh departemen yang menyebabkan terjadinya defect. Jadi mencoba positive dulu aja Mba’, bahwa jika ada complain, mungkin maksudnya untuk mengingatkan Assy agar lebih hati-hati dan lebih baik ke depannya.

      Btw, terima kasih koreksinya. Saya sendiri merasa masih banyak PR yang harus dilakukan ke depan.

      Regards
      FS

  2. Januari 7, 2011 8:47 am

    salam kenal mas, saya mahasiswi LSPR, sedang melakukan penelitian ttg persepsi masyarakat.
    saya kesulitan mas mencari buku ttg persepsi dan penjelasannya.

    kalau boleh tau, definisi yang dijelaskan diatas ttg PERSEPSI, ada sumber bukunya ga mas?
    buat kerangka teori pada bab II mas.

    mohon bantuannya.

    regards,

    SHER

    • Fadhly Syofian permalink*
      Januari 8, 2011 9:22 am

      Salam kenal juga Sharine,
      Definisi persepsi dalam artikel tsb adalah rangkuman bebas dari saya berdasarkan pengalaman dan referensi yang saya baca. Referensi saya banyak terkait dengan referensi manajemen. Tapi terkait dengan persepsi, saya yakin referensi ini bisa dipakai.

      Silahkan lihat referensi berikut;

      Kotler, Philip, Marketing Managemen: Anaysis, Planning, Implementation, and Control, Prentice Hall, 1994 (page 169)

      Shiffman, Leon G., and Kanuk, Leslie L., Consumer Behaviour, Prentice Hall Int., New York, 1982

      Urban, Glen L., and Houser, John R., Design and Markeitng of New Products, Prentice Hall Int., Hew Jersey, 1993 (page 203)

      Untuk referensi buku Indonesia, bisa dilihat pada buku-buku karangan Hermawan Kartajaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: