Skip to content

SERVICE (R): RELATIONSHIP; SYARAT TIM YANG SOLID

Juni 8, 2009

picture by michelemiller.blogs.com

picture by michelemiller.blogs.com

Artikel ini pernah saya kirim dan dimuat di majalah TARGET Edisi VIII/05/2008, tapi ada baiknya saya tulis kembali dari perspektif yang berbeda untuk memberikan gambaran tentang Relationship. Alkisah, organ-organ tubuh manusia mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi Organ Tubuh Sedunia. Berkumpullah para organ tubuh di seluruh dunia mengikuti konferensi bergengsi ini. Jadwal agenda telah disusun dan dibagikan ke semua peserta. Materi yang dibahas mulai dari penanggulangan polusi yang merugikan paru-paru, maraknya junk food yang berimbas pada jantung, sampai pada tema global warming tentang menipisnya lapisan ozon yang membuat kulit merasa ketar-kitir. Seolah tak mau kalah dengan hingar bingarnya muktamar partai politik, agenda utama konferensi tentu saja pemilihan Ketua Umum Asosiasi Serikat Organ Tubuh Sedunia, disingkat Kamu Arogan Tuh!

Maka berlomba-lombalah para organ tubuh yang merasa layak jadi ketua umum untuk mencalonkan diri. Masing-masing calon ketua umum mencari dukungan dan membuat tim sukses. Muncullah tiga kandidat utama calon ketua umum, yaitu MATA, JANTUNG, dan OTAK. Para kandidat diminta untuk berkampanye. MATA berkoar, mata membuat orang bisa melihat indahnya pantai, cantiknya Luna Maya, dan betapa gemuknya Pretty Asmara. Dengan mata manusia dapat melihat tampang para koruptor rakus yang telah putus urat malunya menjarah negeri ini. JANTUNG tak mau kalah. Jantung bilang bahwa ia adalah pekerja keras karena berdetak 24 jam sehari tanpa henti. Jika jantung berhenti berdetak, orang bisa mati. OTAK tak tinggal diam. Otaklah yang mengatur semua gerakan syaraf. Dengan otak manusia bisa berpikir. Efek maksimal kalau otak tak berfungsi, orang bisa jadi gila.

Atas dasar demokrasi, semua organ tubuh memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi ketua umum. Maka anus yang sedari tadi diam, dengan mantap mengajukan diri menjadi calon ketua. Maka gemparlah seluruh peserta konferensi. Semua organ tubuh menolaknya dan malah menetertawakannya. Alasannya, anus adalah organ tubuh tidak terhormat. Selain letaknya di bawah, baunya juga tidak enak! Mambu!

Mencium alasan berbau “SARA” (suku, anatomi, ras, aroma) itu, anus melakukan aksi walk out dari konferensi. “Ini pengkhianatan terhadap demokrasi!” teriaknya laksana politisi cap botol kecap berorasi. Para organ tubuh lain bersikap acuh atas sikap anus. Gemuruh konferensi pun berjalan tanpa kehadiran anus

Sebuah konferensi tentu tersedia makanan lezat dan gratis pula. Para peserta konferensi yang menganut mahzab anak kost, acara makan lezat gratis merupakan ajang perbaikan gizi. Yang biasanya makan 2 piring, saat konferensi makannya jadi 4 piring. Dan hukum keseimbangan pun berlaku, yaitu ada input maka harus ada output. Jika ada yang masuk, maka harus ada yang dikeluarkan.

Dan saat itupun tiba! Hari pertama masih normal. Hari kedua mata mulai kedap-kedep berkunang-kunang. Hari ketiga, jantung sudah berdebar-debar serta tekanan darah naik turun tak terkendali. Hari kelima, otak sudah senewen dan menimbulkan gelagat orang sakit jiwa. Sebabnya karena anus walk out sehingga saluran pembuangan kotoran tak mau bekerja normal. Boro-boro berkonsentrasi, mau duduk tenang pun nggak bisa. Akhirnya anus dipanggil kembali masuk konferensi dan diijinkan mencalonkan diri sebagai ketua umum. Anus setuju dan menghentikan aksi walk out-nya. Sistem kerja organ tubuh pun berjalan normal kembali.

Dari cerita di atas, syarat menjadi ketua umum tidak terbuka dan transparan. Anus juga merasa diperlakukan diskriminatif, diremehkan oleh organ tubuh lain. Akibatnya kerjasama organ tubuh sebagai tim menjadi terganggu. Karena terganggu masalah lain pun muncul. Hubungan tanpa keterbukaan dan keadilan dapat mengganggu soliditas tim. Inilah maksud dari company value yang ke-3, Relationship; Hubungan (Relationship) Terbuka dan Adil merupakan Syarat Pembentukan Tim yang Kuat.

 

Banyumanik,  23 May 2009

Sent: Wednesday, June 03, 2009 12:28 PM

5 Komentar leave one →
  1. DRaharjo permalink
    Juni 9, 2009 6:48 pm

    Pak Fadly,

    Ketika ada salah satu anggota team ada yang kurang berperan dalam kemajuan team tersebut, apakah team tersebut akan mempertahankan anggota itu atau berusaha mencari penggantinya. Sementara persainggan dan tuntutan di dunia luar semakin berat.

    Bagaimana solusi untuk kasus salah mencari anggota team seperti ini,
    Mungkin bisa dengan mengembangkan anggota tersebut , tp bagaimana jika dia enggan /sulit ubtuk berkembang ?

    Trims
    DR

    [FS]
    Dian,
    Terima kasih tanggapannya.
    Saya kira sebagian besar sudah dijawab oleh Mba Ratna, saya hanya menambahkan beberapa saja.

    Tidak ada team yang ideal, yang anggotanya terdiri dari orang pintar dan kapabel. Karena itu harus disadari oleh semua leader, keberadaan mereka dalam tim adalah untuk menggerakkan organisasi/departemen ke satu tujuan tertentu. Jika ada anggota tim yang berlaku atau kemampuannya belum seperti yang diharapkan, maka menjadi tugas dari leader/pemimpinnya untuk mengarahkan. Itu sebabnya, syarat leader/pemimpin harus mempunyai kemampuan membina, mengarahkan sebagai bagian kecil dari fungsi HRD yang harus diemban oleh level spv ke atas.

    Dalam membina dan mengarahkan ada tenggat waktu juga untuk kemudian dievaluasi lagi. Jika masih belum ada kemajuan juga, menurut hemat saya, leader bisa membuat keputusan untuk merotasi atau mengganti. Pertimbangan utamanya adalah, keputusan tersebut harus demi kepentingan organisasi. Keberadaan semua orang dalam organisasi harus bisa memberikan kontribusi positif agar organisasi/departemen bisa mencapai tujuan.

  2. F Ratna P permalink
    Juni 9, 2009 6:53 pm

    Mas Dian,
    Kalo menurut saya, hal pertama yang perlu dilakukan adalah dengan memberi kesempatan dan membantu dia untuk berkembang. Terkadang kita sendiri lupa, kita menuntut orang lain buat berkembang, maju, mau belajar, tapi kita sendiri kurang punya kemauan keras buat maju…(apakah kita begitu?)

    Kedua mari kita lihat apa yang membuat dia enggan untuk berkembang…..(ingat perubahan kecil yang dilakukan setiap individu dan itu baik adalah proses dari perkembangan…sudahkah kita melihat dan menghargainya)

    Ketiga kenali kelebihan dan kekurangan orang yang akan kita bantu untuk berkembang…(kita tidak akan bisa membantunya bila kita tidak mengenal apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya karena yang menjadi penghambat orang enggan berkembang bukan hanya kekurangan yang dia miliki tapi juga kelebihannya…contoh orang yang pandai….karena orang yang pandai, cukup pe-de bisa membuat dia sombong dan mengecilkan orang lain….Tidak ada orang yang lebih pandai dari pada orang bodoh yang mau belajar)

    Ke-empat kalo kita sudah membantunya dengan maksimal tetapi dia tetap tidak mau diajak berkembang….ya sah aja kalo harus dilepas…ntar kalo di pertahankan jadi gak bisa sejalan dalam mencapai tujuan visi dan misi team….

    Semoga sedikit bisa membantu, terima kasih.

    Regards,
    Ratna

    [FS]
    Mba Ratna,
    Berikut tanggapan saya,

    Sudah dijawab oleh Mba’ Ratna di bawah hubungan terbuka dapat dilakukan dengan syarat; ada kelegaan semua pihak untuk dikritik dan bersedia menerima masukan. Kalau pengin terbuka, tapi menutup diri atau marah-marah saat dikritik atau diberi masukan pasti hubungan tidak bisa terbuka. Orang akan malas ngomong kalau diberi masukan langsung “nggak terima”. Dalam hal ini tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah karena kritik itu juga belum tentu benar. Jadi terbuka harus 2 arah/2 pihak. Dan lebih baik lagi dimulai dari atas sebagai role model.

    Adil, ini yang agak susah. Susah karena sulit diukur. Adil tidak selamanya juga harus sama rata/bagi rata. Gaji presiden dan tukang sapu khan tidak mungkin disamakan karena azas keadilan (sama rata) karena tanggung jawabnya berbeda jauh. Adil juga terkait dengan tingkat kesenangan/kepuasan. Kalau saya memberi warning kepada staff saya, besar kemungkinan saya dianggap tidak adil. Tapi, tidak berarti saya tidak bisa/tidak harus memberikan warning. Pemahaman saya, keputusan yang adil adalah keputusan yang berdasar dan proporsional.

    2 poin yang ditanyakan Mba’ Ratna, memang tidak mudah implementasinya dan saya juga masih harus belajar banyak untuk ini.

  3. Widyanarko S permalink
    Juni 9, 2009 6:58 pm

    Mas Dian

    Ikut juga nambahahin, ingat ” The Right Man in the right place ” Ibaratnya kita harus bisa menoropong cocokah/sesuaikah anggota tim yang kurang kapabel itu ditempatkan di area kerja sekarang ? Bisa juga dia sangat kapabel di tempatkan di area lain………..

    Salam
    widi

  4. F Ratna P permalink
    Juni 19, 2009 4:24 pm

    Pak Fadly,
    Susah sekali membentuk hubungan yang terbuka dan adil.
    Bagaimana caranya pak?

    N.B
    Terbuka menurut saya salah satunya kita harus bisa menerima kritik sebagai bentuk pengembangan ke arah perbaikan (berlaku untuk semua anggota team)

    Adil berarti selalu melihat segala sisi/hal sebelum dan dalam melangkah untuk mencapai tujuannya.

    Regards,
    Ratna

    • Fadhly Syofian permalink*
      Juni 19, 2009 4:30 pm

      Mba Ratna,
      Berikut tanggapan saya,

      Sudah dijawab oleh Mba’ Ratna di bawah hubungan terbuka dapat dilakukan dengan syarat; ada kelegaan semua pihak untuk dikritik dan bersedia menerima masukan. Kalau pengin terbuka, tapi menutup diri atau marah-marah saat dikritik atau diberi masukan pasti hubungan tidak bisa terbuka. Orang akan malas ngomong kalau diberi masukan langsung “nggak terima”. Dalam hal ini tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah karena kritik itu juga belum tentu benar. Jadi terbuka harus 2 arah/2 pihak. Dan lebih baik lagi dimulai dari atas sebagai role model.

      Adil, ini yang agak susah. Susah karena sulit diukur. Adil tidak selamanya juga harus sama rata/bagi rata. Gaji presiden dan tukang sapu khan tidak mungkin disamakan karena azas keadilan (sama rata) karena tanggung jawabnya berbeda jauh. Adil juga terkait dengan tingkat kesenangan/kepuasan. Kalau saya memberi warning kepada staff saya, besar kemungkinan saya dianggap tidak adil. Tapi, tidak berarti saya tidak bisa/tidak harus memberikan warning. Pemahaman saya, keputusan yang adil adalah keputusan yang berdasar dan proporsional.

      2 poin yang ditanyakan Mba’ Ratna, memang tidak mudah implementasinya dan saya juga masih harus belajar banyak untuk ini.

      Regards,
      FS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: