Skip to content

SERVICE (S): SKILL; KARYAWAN SEBAGAI ASET

Mei 20, 2009

Konosuke Matsushita (picture by Panasonic.ae)

Konosuke Matsushita (picture by Panasonic.ae)

We make people before we make product” begitu yang pernah terucap dari Konosuke Matsushita. Konosuke Matsushita adalah pendiri perusahaan Matsushita Group yang merupakan satu dari beberapa perusahaan elektronik besar di Jepang. Di Indonesia, perusahaan ini lebih dikenal dengan nama Panasonic yang merupakan bagian dari grup Matsushita yang berpusat di Jepang. Selain berperan sebagai pendiri, dan pemimpin, kumpulan pemikiran dan pendapat Konosuke Matsushita dibukukan dalam buku yang berjudul Not for Bread Alone. Khusus tentang buku Not for Bread Alone ini, saya berjanji akan saya bahas pada artikel saya yang lain.

Kembali pada ucapan terkenal Matsushita, “we make people before we make product”, menunjukkan betapa pentingnya karyawan sebagai sumber daya perusahaan. “Beri perhatian dan binalah karyawan, sebelum perusahaan membuat produknya”, begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan Matsushita. Saya jadi teringat artikel tentang Kiasu saat pertama kali membaca buku Hermawan Kertajaya berjudul Siasat Bisnis tahun 1999. Sampai saat ini di kalangan mahasiswa Singapura “semboyan kiasu” masih cukup populer.

Kiasu berasal dari bahasa hokian, yaitu kia(takut) dan su (kalah). Slogan kiasu alias slogan takut kalah ini sangat diresapi dalam-dalam bagi semua penduduk Singapura (lihat artikel“Semangat Kiasu ala Singapura”). Lihatlah, Singapura itu cuma negara kecil dan tak punya apa-apa. Jangankan sumber daya alam seperti minyak bumi atau gas, udara segar yang mereka hirup sejatinya berasal dari respirasi hutan-hutan di Indonesia terutama hutan Sumatera. Karena merasa miskin sumber daya alam, satu-satunya sumber daya yang mereka bisa kembangkan adalah sumber daya manusia.

Pemerintah Singapura berkomitmen tinggi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Pemahaman mereka, jika manusia Singapura pinter-pinter, mereka bisa memeras otak untuk mendapatkan sumber daya alam yang mereka tidak miliki. Hasilnya, Singapura tumbuh menjadi salah satu negara dengan tingkat pendapatan per kapita paling tinggi di dunia. Singapura termasuk dalam kelompok negara maju sejajar dengan Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa sedangkan  Indoneseia hanya masuk kategori negara berkembang. Berdasarkan GDP 2008, GDP Singapura US$52,900 sedangkan Indonesia hanya US$3,900. Singapura dan Indonesia merupakan bukti nyata contoh pengembangan sumber daya yang sukses dan yang tidak. Negara yang gagal mengembangkan sumber daya manusianya tetap akan kalah walaupun sumber daya alamnya berlimpah-ruah.

Analogi yang sama juga berlaku bagi perusahaan. Perusahaan yang gagal mengelola sumber daya manusianya bukan tidak mungkin akan bernasib sama dengan negara yang gagal mengelola penduduknya. Jika perusahaan ingin kompetitif, maka ia harus punya strategi bisnis yang pastinya dihasilkan oleh karyawan yang berkualitas. Karyawan berkualitas tidak bisa didapat secara instant, tapi perlu pendidikan, dibina dan diarahkan. Akan sulit bagi karyawan untuk berhemat, jika karyawan tidak pernah dididik cara melakukan penghematan.

Organisasi, termasuk perusahaan, apapun dan dimanapun, adalah sebuah organisme hidup yang terdiri dari orang-orang yang notabene adalah makhluk hidup. Keberhasilannya saat ditentukan oleh seberapa “pintar” orang-orang yang ada di organisasi itu. Karyawan sebagai elemen perusahan tidak boleh dipandang sebagai pekerja, tapi harus dipandang sebagai aset utama perusahaan. Karena karyawan merupakan aset, maka karyawan harus dijaga, dibina, dan dikembangkan. Semakin mampu karyawan berkembang, menjadi lebih pintar, semakin positif pengaruhnya bagi perusahaan.

Karenanya menjadi sangatlah tepat ketika nilai perusahaan (company value) pertama dari MSI adalah Skill dimana Skill dan Staff Berkualitas adalah Asset Kami yang Utama. Perusahaan, termasuk semua elemen pimpinan mulai dari Direksi, Manager, Departemen Head, Superintendent, dan Supervisor harus bertanggung jawab dan berkomitment tinggi untuk menjadikan karyawannya sebagai aset yang perlu dibina dan dikembangkan.

Banyumanik, 17 Mei 2009

Sent: Wednesday, May 20, 2009 11:48 AM

One Comment leave one →
  1. Mei 30, 2009 1:17 am

    Apakah perusahaan mempuyai antisipasi buat karyawan yang punya pemikiran kerja sebagai “BATU LONCATAN “.Ketika pembangunan karyawan berhasil lalu karyawan tersebut mengundurkan diri pastinya perusahaan akan rugi karena ia harus membangun karyawan lagi dari nol, bagaimana jika ini terjadi berulang² ?

    [FS]
    Dian kemungkinannya sih tetap ada. Development karyawan itu khan memang bagian dari kemajuan perusahaan juga. Kalo karyawannya tidak bisa komputer, lalu diajarkan komputer, efeknyaa adalah pekerjaan jadi lebih lancar, lebih cepat, dan lebih terdata. Dalam hal ini perusahaan juga diuntungkan.

    Kalau karyawan merasa diperhatikan, dikembangkan, dia akan merasa lebih “nyaman” dengan perusahaan sehingga lebih maksimal dan lebih loyal dalam bekerja. Sekali lagi, peluang untuk “batu loncatan” itu tetap ada, cuma peluang itu menjadi diperkecil oleh adanya development.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: