Skip to content

PENTINGNYA (COMPANY) VALUES (1)

Mei 12, 2009

Value (MarkPlus Model)

Value (MarkPlus Model)

Suatu ketika, saat pelajaran agama di SMA di Yogyakarta, sang guru meminta teman saya untuk membaca ayat AlQuran. Dengan spontan teman saya menjawab, “Tidak bisa, Bu.” Awalnya saya pikir dia bercanda. Tapi ternyata teman saya yang sudah SMA itu memang tidak bisa membaca AlQuran. Saya kaget bukan main. Kekagetan saya ini (mungkin) didasarkan pada nilai dan pengalaman hidup saat masih kecil menghabiskan masa kanak-kanak di sebuah desa kecil.

Sejak TK sampai SMP saya menghabiskan masa kecil di sebuah desa kecil bernama Rantau yang dulu masuk dalam Kabupaten Aceh Timur (sekarang Aceh Tamian). Walaupun masuk dalam propinsi Aceh, namun desa ini lebih dekat dengan kota Medan (Sumatera Utara) daripada ke ibukota propinsi Aceh, Banda Aceh. Jarak dari Rantau ke Medan kira-kira sama dengan jarak Semarang – Yogya, sedangkan jarak Rantau – Banda Aceh sama dengan jarak Semarang – Jakarta.  Karena terletak dekat dengan perbatasan Aceh – Sumatera Utara, maka budaya yang dominan di desa itu adalah campuran antara Aceh dan Melayu. Secara umum, bisa dikatakan budaya Melayu lebih dominan daripada budaya Aceh. Itulah sebabnya saya tidak paham bahasa Aceh karena bahasa sehari-hari yang digunakan salah bahasa Melayu Medan. Intonasi dan logat bicara masyarakat di sana sangat mirip dengan bahasa Melayu di Medan. Karenanya saya lebih mampu berbahasa dengan intonasi dan logat Medan karena ini memang bahasa saat masih kecil dulu.

Karena unsur budaya Melayu cukup kuat dan bercampur pula dengan budaya Aceh, unsur-unsur Islam cukup melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Salah satu yang menonjol adalah kebiasaan mengaji. Kebiasan mengaji dan membaca AlQuran sudah dilakukan oleh anak-anak sejak kecil dimulai dari TK. Biasanya setelah shalat Maghrib, kegiatan mengaji dilakukan di surau, langgar (mushalla), dan masjid. Guru-guru mengaji pun bertebaran sehingga kegiatan mengaji dilakukan dengan cara mendatangi rumah guru. Saya termasuk orang yang mengaji dengan mendatangi rumah guru saat malam hari, setiap hari, kecuali hari Minggu. Karena kegiatan mengaji dilakukan sejak kanak-kanak, maka tak heran banyak anak-anak yang mampu membaca AlQuran dengan baik lengkap dengan tajwid-nya. Anak-anak SD sudah banyak yang khatam AlQuran (tamat membaca AlQuran dari ayat pertama sampai ayat terakhir). Saya sendiri khatam AlQuran kelas 3 SD, namun ini sih hal biasa karena tak sedikit anak-anak yang sudah khatam AlQuran sebelum kelas 3 SD.

Bagi orang tua di sana, kegiatan mengaji bagi anak-anaknya saat kecil adalah sebuah keharusan. Jika ada anaknya yang belum mengaji atau tidak bisa membaca AlQuran, hal seperti ini dianggal hal yang memalukan. Jika saat SD ada yang belum mampu membaca AlQuran, maka si anak bisa menjadi bahan tertawaan oleh teman-temannya. Maka jangan heran, walaupun jadi anggota geng preman, tapi mereka bisa membaca AlQuran dengan baik…hehe. Mungkin karena didikan sejak kecil. Selain mengaji, sebagian besar anak-anak, termasuk saya, juga bersekolah di Madrasah. Jadi saat pagi hari bersekolah di SD, sore harinya bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD). Jadi saat kelulusan, selain mendapat ijazah SD juga mendapatkan ijazah madrasah. Jadi jikalau saat itu tidak lulus SD, bisa masuk SMP dengan mengunakan ijazah madrasah.

Apa yang saya ceritakan ini sekedar menunjukkan gambaran sebuah nilai (values) yang terekam dalam kehidupan bermasyarakat. Betapa sebuah nilai (values) yang diyakini akan sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia. Para orang tua yang berpemahanan terhadap nilai (values) pentingnya mengaji saat anaknya masih kecil akan mendorong anaknya untuk belajar mengaji (common behaviour/tingkah laku). Bagi orang tua yang merasa bahwa mengaji tidak penting, maka tidak akan meminta anaknya untuk mengaji. Penanaman values yang berulang dan dilaksanakan secara berulang akan menjadi kebiasaan dan pada akhirnya akan menjadi budaya (culture). Di sinilah pentingnya sebuah nilai (values). Nilai (values) akan mengarahkan perilaku (common behaviour) berdasarkan nilai yang diyakininya.

Dalam perusahaan, company values merupakan nilai luhur yang akan membimbing seluruh karyawannya untuk mencapai tujuan perusahaan sesuai dengan visi dan misi perusahaan………(bersambung)

Banyumanik, 26 April 2009

Sent: Wednesday, April 29, 2009 4:55 PM

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: