Skip to content

HEMAT = TEKAD + KERINGAT

Mei 11, 2009

Ngomong-ngomong tentang Cost Reduction Program atau program penghematan, saya jadi teringat kejadian saat saya ke Jakarta pada hari terakhir bulan Maret 2009. Saya pergi ke Jakarta untuk mengurus untuk sebuah urusan. Petama saya harus datang ke kantor dekat Tugu Monas. Setelah selesai saya herus menuju sebuah kantor yang terletak di Plaza ABDA yang terletak di depan lapangan softball Senayan. Saya tiba jam 15.30, namun sayang bagian pelayanan kantor tersebut sudah tutup, sementara untuk urusan lain seperti konsultasi masih diperboleHkan. Akhirnya setelah tanya-tanya mengenai syarat dan kelengkapan dokumen, jam 16.00 saya meninggalkan Plaza ABDA. Kelihatannya saya harus menginap di Jakarta untuk kembali ke Plaza ABDA keesokan harinya.

Berhubung dari bandara tadi langsung ke kantor yang dituju demi mengejar supaya tidak terlambat, saya belum sempat makan siang. Perut sudah lapar sekali dan daripada pingsan di tengah jalan, saya putuskan untuk makan di FX, sebuah mal yang terletak persis di depan Plaza ABDA. Tak lama turunlah hujan deras sekali. Jam sudah menunjukkan jam 16.45 ketika hujan reda dan saya segera menuju rumah mertua di daerah Tangerang. Pilihan menginap di rumah karena pasti jauh lebih hemat, hemat biaya hotel dan hemat tidak perlu bayar uang makan malam. Pertanyaannya, dengan apa saya harus ke Tangerang dari Senayan?

Kalau mau gampangnya, saya bisa naik taksi. Nyaman, tidak empat-empetan, ber-AC dan saya bisa tiduran. Cuma naik taksi Senayan – Tangerang pada jam pulang kerja begini bisa dibayangkan berapa ongkos taksi yang harus dibayar. Walaupun bukan orang Jakarta, saya hafal jalur dan area utama di Jakarta. Perkiraan saya, jika saya naik taksi, minimal saya harus membayar 150 ribu! Mungkin bisa lebih. Mahal sekali. Maka saya putuskan naik busway saja. Sebenarnya tak ada keuntungan secara pribadi yang saya peroleh jika saya naik busway. Jika kita keluar kota, policy yang dipakai adalah kantor memberi sejumlah uang untuk digunakan semestinya. Jika saya berhemat, kelebihan uang tersebut tidak bisa masuk ke kantong pribadi saya, tetapi tetap harus dikembalikan ke kantor dengan membuat laporan yang rinci tentunya. Jadi kalau saya mau cari gampangnya, tinggal naik taksi saja. Namun kok saya nggak rela ya, uang 150 ribu harus habis hanya untuk naik taksi. Lebih baik naik busway, cuma Rp3500! Lumayan, bisa hemat banyak.

Dari halte busway Senayan, saya masuk ke dalam busway yang sudah penuh sesak. Maklumlah, ini jam pulang kerja. Pada saat bersamaan di Senayan ada kampanye Gerindra dan pesertanya sudah pada bubaran. Maka dengan rela saya berdiri dalam busway yang penuh sesak. Dari Senayan, busway menuju Harmoni. Saya harus turun di Harmoni untuk kemudian menyambung busway menuju Kalideres. Turun di halte Harmoni, di sinilah “penderitaan” saya dimulai. Halte Harmoni yang tak begitu besar itu penuh sesak oleh ratusan orang. Dengan pasrah saya harus berdempet-dempetan dengan manusia lainnya. Jangan tanya bagaimana pengap dan panasnya suasana dalam halte. Jangan tanya pula bau yang merebak yang merupakan campuran bau keringat ratusan orang yang kepanasan ditambah dengan dan bau-bau lain yang tidak dikehendaki. Jangan mimpi untuk mencium bau parfum di sore hari di saat orang pulang kerja. Setiap kali ada busway yang datang untuk mengambil penumpang, setiap kali pula badan saya terdorong-dorong dari belakang akibat kelakuan orang yang tak sabar ingin segera naik. Persis kayak ikan sarden. Hampir 20 menit saya berada dalam antrian ini, namun rasanya seperti 2 jam. Badan sudah basah dengan keringat. Akhirnya, saya masuk juga ke dalam busway jurusan Kalideres. Lagi-lagi saya harus berdiri. Tak apalah, mudah-mudahan nanti saya bisa duduk, harap saya.

Busway mempunyai jalur khusus, yang dibuat di sebelah kanan hanya untuk busway saja (teorinya). Tujuannya supaya kendaraan ini bisa cepat sampai tujuan dan bebas macet. Itu sih teorinya. Kenyataannya, jalur busway ini juga dipakai oleh motor dan mobil. Akibatnya, busway-pun akhirnya terjebak macet pula. Tinggalah saya hanya bisa ngedumel dan manyun karena membayangkan  perjalanan yang masih panjang dan lama sementara saya masih belum dapat tempat duduk. Kaki sudah mulai pegel nih soalnya. Untuknya saya berdiri persis di depan lubang AC, sehingga cukup bisa mendinginkan badan (dan hati) yang kepanasan. Di sepanjang jalan Daan Mogot, beberapa kali terlihat motor dan mobil yang mengambil jalur busway. Efeknya, jelas busway jadi macet. Dan akhirnya kekhawatiran terburuk saya menjadi kenyataan. Dari Harmoni sampai Kalideres, saya tak mendapat jatah tempat duduk. Begitu turun di terminal, kaki saya gempor. Hampir 2 jam saya berdiri. Ini sama dengan perjalanan Semarang – Muntilan dengan berdiri!

Turun dari busway menuju rumah, sempat bimbang juga, naik taksi apa naik angkot. Akhirnya saya bulatkan tekad naik angkot saja menuju rumah. Jika naik taksi harus bayar 20 ribu. Naik angkot, saya cukup bayar 2000 saja. Lumayan bisa hemat lagi. Saat masuk komplek, ada 2 pilihan, naik becak atau jalan kaki. Saya tetapkan hati untuk berjalan kaki dari depan komplek menuju rumah. Akhirnya saya bisa sampai ke rumah dengan selamat, namun kaki terasa pegel-pegel semua.

Seandainya saya naik taksi, pasti lebih nyaman, ber-AC, bisa tiduran, tidak capek, tapi boros di ongkos. Naik busway jelas lebih irit tapi kaki jadi pegel-pegel dan badan terasa lengket akibat keringatan antre di halte, kering di busway yang ber-AC, lalu keringatan lagi karena naik angkot dan jalan kaki. Semua ini karena niat untuk berhemat.

Kesimpulan saya, berhemat itu butuh tekad kuat, usaha keras, dan harus berkeringat!

Banyumanik, 11 April 2009

(Artikel ini diperuntukkan untuk semua rekan-rekan Divisi 2 yang sedang melakukan penghematan material indirect. Insya allah kita bisa melakukannya secara bersama)

Sent: Wednesday, April 15, 2009 6:34 PM

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: