Skip to content

SERVICE LEBIH UTAMA (1); AIR ASIA VS DAMRI

Februari 19, 2009
tags:

from Air Asia website

from Air Asia website

Ada sedikit cerita saat saya liburan ke kampung halaman di Padang beberapa waktu lalu. Ada baiknya cerita ini saya bagi ke rekan-rekan semua. Bepergian ke tempat yang relatif jauh, maka porsi pengeluaran terbesar adalah biaya transportasi. Untuk itu jika ingin sedikit berhemat,maka kita harus bisa menekan biaya tranportasi. Maka saya mencoba mencari penerbangan berbiaya murah. Setelah cek sana-sini, maka pilihan jatuh pada penerbangan Air Asia. Dari iklan yang diterbitkan di surat kabar, saya mengetahui kalau Air Asia sedang ada tiket promo dengan harga murah. Maka segeralah saya membuka internet untuk memesan tiket pesawat. Pembelian tiket Air Asia memang hanya bisa dilakukan melalui internet dan pembayaran dilakukan dengan kartu kredit. Kursi yang tersedia dengan tiket murah (mungkin) tidak banyak, tapi saya akhirnya bisa mendapat tiket dengan harga promo yang kalau saya konversi dengan tiket dari maskapai lain, saya bisa mendapat harga tiket 50% lebih murah, alias setengah harga!

Berbeda dengan maskapai lain, untuk mendapat tiket promo (murah) ini, pembelian harus dilakukan jauh-jauh hari. Untuk tiket keberangkatan Januari 2009, saya sudah membeli tiket Air Asia akhir bulan September 2008. Periode pembeliannya untuk tiket promo juga sudah ditentukan batasan waktunya yang biasanya sekitar 7-10 hari. Lewat dari periode waktu yang telah ditentukan, sudah tidak ada lagi tiket promo. Saat sudah membeli tiket ini, ada beberapa rekan yang bercanda kepada saya, “Emangnya sudah pasti selamet kalau tiketnya murah?” Maklumlah, persaingan di dunia penerbangan itu menimbulkan kecurigaan dikorbankannya biaya perawatan dan keselamatan penerbangan. Soalnya ada yang khawatir, maskapai dengan tiket murah jangan-jangan nanti nyampenya nggak ke Padang, tapi ke rumah sakit atau malah ke liang lahat. Belum lagi soal service, kalau tiketnya murah, apa pelayanan (service) yang berikan juga OK?

Tapi kekhawatiran di atas, berdasarkan pengalaman saya, ternyata tidak terbukti. Mulai dari check-in, pemeriksaan tiket, bagasi, semua dilayani dengan baik. Penerbangan Air Asia dari Jakarta-Padang juga on time, tidak ada delay. Pesawatnya juga jenis airbus dan kelihatanya masih baru. Tidak ada tanda-tanda “murahan” walaupun tiketnya murah. Saat tiba di Padang juga on time, tidak terlambat dan saya tetap selamat, sehat wal afiat.  Intinya saya cukup puas dengan pelayanan Air Asia. Suatu saat nanti, saya berencana untuk terbang dengan Air Asia lagi.

Damri2Bandara Minangkabau International Airport terletak di daerah Pariaman, di luar kota Padang. Beda dengan bandara sebelumnya, bandara Tabing, yang hanya sekitar 10 menit dari rumah saya. Dari Minangkabau Airport, perjalanan ke rumah saya sekitar 30 menit. Berhubung saya tidak minta dijemput, pilihan kendaraanya cuma 2, naik taksi atau naik bus Damri. Naik taksi 80-90 ribu tergantung nego. Di Padang taksi tidak ada yang pakai argo. Naik Damri cuma 18 ribu. Karena murah, saya pilih naik Damri. Saya masuk Damri sebagai penumpang pertama disusul beberapa penumpang lain yang satu pesawat dengan saya. Asumsi saya, Damri di bandara Minangkabau sama seperti Damri di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, dimana jadwal tiba dan berangkat sudah ditentukan jam dan jadwalnya.

Setelah semua penumpang masuk, Damri tak langsung berangkat. 20 menit berlalu, Damri belum berangkat. 30 menit lewat, penumpang sudah mulai gelisah. 45 menit, penumpang tidak sabar. Saat ditanyakan ke supir, “Nanti dulu, Pak, saya masih menunggu penumpang Lion Air. Lion Air akan mendarat.” Alamaak....semakin sebal saja saya dan semua penumpang. 2 orang bule yang mencoba naik Damri ini juga kelihatan tak betah. Akhirnya, Damri berangkat juga setelah saya menunggu lebih dari 1 jam! Ke depan, saya akan berpikir 2 kali untuk naik Damri lagi.

Dua kisah di atas, adalah kisah transportasi yang sama-sama menyediakan harga murah namun berbeda jauh di sisi pelayanan. Kepuasan konsumen tidak hanya bergantung pada harga semata, namun juga sangat ditentukan oleh service. Walaupun murah, kalau pesawatnya jelek, tidak aman, sering telat, atau busnya suka mogok, dan jadwalnya berangkatnya tidak jelas, pasti ditinggal konsumen. Harga murah memang bisa menarik konsumen, tapi service adalah yang utama.

Lalu bagaimana dengan produk MSI. Kita bersaing dengan negara lain. Secara umum, customer tertarik dengan produk MSI karena kualitas produk yang baik dan cost yang relatif murah. Tapi jangan lupakan service. Pengiriman order tepat waktu adalah bagian dari service. Kalau sering telat, customer bisa mencak-mencak, marah, dan akhirnya pergi. Ingat apa terjadi dengan penumpang Damri. Di masa sekarang ini, apapun jenis perusahaannya, jika tetap ingin kompetitif dan survive perusahaan itu harus menjadi service company! Ingat, mengapa Valspar diganti oleh Akzo Nobel ? Mengapa Valspar kehilangan pasarnya hampir di seluruh pabrik furniture di Indonesia? Dan mengapa Akzo Nobel mampu mengambil alih pasar yang dulu dikuasai Valspar? Jawabannya satu, karena service! Selayaknya-lah kita menanamkan prinsip service,yaitu prinsip memberikan pelayanan terbaik dalam pekerjaan kita sehari-hari..

Banyumanik, 22 Januari 2009

Sent: Wednesday, January 28, 2009 12:28 PM

One Comment leave one →
  1. Juni 15, 2009 12:19 pm

    pengamalan yang menarik..
    yah sya juga pernah sperti itu…
    katax orang Indonesia selalu pilih yang murah soal selamat belakangan…weleh2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: